Kalahkan Nafsu dengan Akal dan Wahyu (Oleh: Zaenal Muttaqin)

Oleh Zaenal Muttaqin, wartawan dan Biro MINA di Jawa Tengah

Siapa yang dalam keadaan muslim, sedangkan dirinya dalam keadaan sehat, maka sungguh telah terkumpul pada dirinya nikmat dunia yang paling besar, dan nikmat akhirat yang paling besar. Ungkapan tersebut benar adanya, karena nikmat dunia yang paling berharga adalah sehat, dan nikmat yang paling agung untuk akhirat adalah Islam.

Karenanya patut untuk disyukuri nikmat Allah tersebut, yakni memanfaatkan nikmat sesuai dengan kehendak Allah Yang Memberi nikmat, bukan menurut keinginan dan hawa nafsu.

Pada penciptaan manusia, Allah menyertakan hawa nafsu dan akal. Kemudian Allah menurunkan wahyu untuk membimbing akal agar bisa menjadi pengendali dan pemandu bagi hawa nafsu.

Antara akal dan nafsu selalu berseteru pada diri manusia. Kekuatan antara keduanya berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Bahkan pada diri seseorang, kondisinya silih berganti dari waktu ke waktu.

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika pagi hari tiba, maka berkumpullah hawa nafsu, amal dan ilmu (akal) manusia. Jika dia berbuat mengikuti hawa nafsu, maka hari itu adalah hari yang buruk baginya. Dan jika dia berbuat dengan mengikuti ilmunya, maka hari itu adalah hari yang baik baginya”. Karena kemuliaan dan kehinaan sesorang sangat bergantung pada hasil pertarungan antara keduanya.

Manusia yang paling hina adalah yang akalnya dikuasai oleh hawa nafsunya. Dia menjadi bertekuk lutut pada hawa nafsunya, sehingga akalnya tidak mampu untuk mengendalikannya. Bahkan akalnya diperalat untuk menjadi pembenar setiap apa yang diingini hawa nafsunya. Dia tidak berfikir kecuali dengan sudut pandang nafsunya, membenci dan menyenangi juga berdasarkan kecenderungan nafsunya, berbuat dan bertindak pun hanya mengikuti selera hawa nafsunya. Dialah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. al-Furqan: 43)

Malik bin Dinar, seorang tabi’in berkata: “Allah menciptakan malaikat disertai akal dan tidak memiliki syahwat. Allah menciptakan binatang dengan menyertakan syahwat tanpa akal. Sedangkan Allah menciptakan manusia dengan menyertakan keduanya, akal dan syahwat. Maka barangsiapa yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik dari malaikat, dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk dari binatang”.

Mengapa lebih buruk dari binatang? Karena binatang tidak memiliki akal, wajar jika mereka memperturutkan hawa nafsunya. Tapi di manakah akal manusia tatkala mereka memperturutkan setiap kehendak nafsunya?

Derajat yang sedikit lebih baik dari yang pertama adalah posisi di mana dorongan nafsu dan bimbingan akal memiliki kekuatan yang berimbang. Sesekali hawa nafsu yang unggul, namun di waktu yang lain akal menundukkannya dan membawanya kepada ketaatan. Posisi ini berpotensi melorot ke arah derajat yang paling rendah. Yakni ketika pemiliknya dekat dengan lingkungan dan kondisi yang melemahkan ilmu dan ketaatannya.

Namun juga memiliki peluang untuk naik ke derajat yang lebih baik dan bahkan paling tinggi. Yakni, jika akalnya mampu menundukkan hawa nafsunya. Ketika dia menyadari potensi itu, lalu berusaha menguatkan posisi ilmu dan kemauannya dalam kebaikan.

Yaitu dengan mendalami ilmu-ilmu syar’i, berteman dengan orang-orang yang shalih dan bersungguh-sungguh untuk memerangi hawa nafsunya. Nabi ﷺ bersabda:

وَ اْلمُجاَهِدُ مَنْ جاَهَدَ نَفْسَهُ

Dan (termasuk) mujahid adalah orang yang memerangi hawa nafsunya.” (HR Ibnu Majah dan an-Nasaa’i dengan sanad yang baik)

Untuk meraih peringkat itu hendaknya dia juga berdoa seperti yang diajarkan oleh Nabi ﷺ :

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Ya Allah, karuniakanlah bagi jiwaku, ketakwaan dan kesuciannya, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikan jiwa, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.” (HR. Muslim)

Derajat keberhasilan manusia yang paling utama adalah ketika hawa nafsu tunduk dan takluk kepada akal yang dibimbing oleh wahyu. Sehingga dia bertindak di atas kebenaran, dalam bingkai syariat dan teguh di jalan istiqamah. Sehingga derajatnya akan melampaui kedudukan para malaikat. Sebab malaikat hanya memiliki akal, tanpa disertai syahwat, maka wajar jika mereka tidak bermaksiat, karena berjalan tanpa rintangan.

Berbeda halnya dengan manusia, meski hawa nafsu melintangi jalannya, tapi kemudian mampu melampauinya, mampu mengalahkan nafsunya, dan menjadikannya tunduk dalam keimanan dan keshalihan. Inilah yang disebut dengan khairul bariyyah, sebaik-baik ciptaan. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَـٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 7)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berdalil dengan ayat ini ketika menyatakan, orang-orang yang beriman dan beramal shalih lebih utama derajatnya dari para malaikat, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut. Sebab karakter iman dan amal shalih itu tidak akan dicapai kecuali jika dia berhasil memerangi hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan.

Allah menjanjikan surga bagi orang yang memerangi hawa nafsunya, mencegahnya dari maksiat lantaran takut akan suatu hari di mana manusia berdiri di hadapan Allah, seperti firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya jannahlah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at 40-41).

Bahkan mereka akan mendapatkan dua surga, sebagaimana yang dirinci dalam ayat yang lain:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

 “Orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya dua jannah.” (QS. Ar-Rahman: 46).

Dia adalah orang yang didorong hawa nafsunya untuk berbuat maksiat kemudian dia mengingat Allah maka dia tinggalkan maksiat tersebut karena rasa takutnya kepada Allah. Allahu a’lam bis showab. (A/B04/P1)

(Disarikan dari banyak sumber)

Mi’raj News Agency (MINA)