Kejahiliyahan yang Dibenci Nabi SAW (3 habis)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Sifat jahiliyah selanjutnya yang dibenci oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut.

Kesebelas. Meremehkan kebenaran karena melihat pengikutnya adalah golongan-golongan lemah

Orang-orang jahiliyah menolak kebenaran karena para pendukungnya adalah golongan orang yang lemah dan rendahan. Sebagaimana kaum nabi Nuh as. yang menolak ajakannya dengan beralasan para pendukungnya adalah orang-orang yang lemah. QS. Asy-Syu’ara’: 105-115. Mereka menjadikan dunia sebagai barometer kebenaran.

Kebanyakan manusia tidak mau mengikuti kelompok yang terdiri dari orang-orang lemah. Mereka beranggapan, kelompok dengan anggota orang-orang kayalah yang pantas diikuti. Padahal, kebenaran tidak pernah diukur dari sedikit banyaknya anggota kelompok yang lemah atau kuat.

 

Keduabelas. Menfitnah para pendukung kebenaran

Mereka biasa menuduh para pendukung kebenaran dengan hal yang tidak ada pada mereka. Seperti tuduhan bahwa mereka tidak ikhlas dalam beramal dan hanya mengharapkan dunia dan lain-lainnya. Bukan hal aneh, jika para pengikut kebenaran akan selalu mendapat perlawanan dari berbagai pihak pemuja kebatilan.

Ketigabelas. Tidak mau mendukung kebenaran karena melihat pengikutnya adalah golongan lemah

Ciri khas orang jahiliyah adalah enggan bergabung dalam kebenaran karena adanya orang-orang yang lemah dan rendahan masuk di dalamnya, mereka merasa lebih tinggi dan sombong. QS. Al-An’am: 52-53. Bukan meremehkan saja, tapi tidak mau mengikuti kebenaran itu, sebab para anggotanya terdiri dari orang-orang yang lemah.

Keempatbelas. Sombong dan menolak kebenaran dari orang lain karena merasa ia lebih mulia

Salah dan benar adalah menurut ukuran versi mereka. Mereka selalu merasa benar karena merasa lebih mulia, sedangkan kesalahan ada pada kelompok lain. Sombong tentu saja ciri utama dari kelompok jahiliyah. Padahal, sombong itu sangat dilarang oleh Allah. Seperti dalam sebuah firman-Nya,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Kelimabelas. Bodoh terhadap ayat-ayat yang dapat diqiyas dengan yang tidak bisa

Kesalah mereka para pelaku jahiliyah adalah bodoh dalam masalah qiyas. Yang mereka lakukan antara lain;

  1. Mengambil dalil dengan qiyas yang tidak benar.
  2. Mengingkari qiyas yang benar.
  3. Tidak mengetahui dalil-dalil yang bisa diqiyaskan dan tidak.

Seorang nabi tidak bisa diqiyaskan dengan salah seorang di antara manusia karena Allah telah memilihnya dari sekian banyak manusia untuk menyampaikan risalah dan wahyu-Nya.Begitu juga karaktristik dan keistimewaan mereka tidak bisa diqiyaskan dengan manusia manapun.

Keenambelas. Bersikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih di antara mereka

Orang-orang jahiliyah dari kalangan Ahlul Kitab, Yahudi menganggap Uzair sebagai anak Allah, sedang Nashrani menganggap Isa bin Maryam sebagai anak Allah. Mereka juga menjadikan para ulama sebagai tuhan yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu, berdoa dan meminta syafa’at dari mereka.Dan hal semacam ini menular pada masyarakat jahiliyah Arab.

Ketujuhbelas. Berdalih tidak memahami ajaran Islam

Mereka tidak mengikuti kebenaran wahyu dengan berdalih tidak mengetahui/tdak faham dengan apa yang diturunkan kepada mereka. Tetapi yang sebenarnya, mereka tidak menerima kebenaran karena hati mereka telah tertutup oleh kekafiran, bukan karena kurangnya penjelasan dan keterangan kepada mereka.

Kedelapanbelas. Mengingkari kebenaran karena berasal dari selain kelompoknya

Salah satu ciri kejahiliyahan adalah tidak menerima kebenaran kecuali apa yang dikatakan oleh kelompoknya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah.” Mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang al- Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (QS. al-Baqarah: 92)

Mereka tidak menerima kebenaran al-Qur’an hanya karena kedengkian dan dan kedzaliman mereka terhadap Nabi Muhammad SAW yang bukan dari kalangan mereka.

Kesembilanbelas. Mempercayai sihir dan khurafat

Mereka mengganti ayat-ayat Allah dengan mempercayai buku-buku ramalan dan sihir. (QS. al-Baqarah: 101-102). Kebiasan buruk ini terkadang masih ada di tengah sebagian masyarakat kita. Sebut saja misalnya masih ada suku tertentu yang mempercayai primbon dan lainnya.

Kedua puluh. Kontradiksi dalam berafiliasi

Mereka tidak komitmen dalam menjalankan ajaran agama.Mereka mengaku beragama Islam tapi meninggalkan ajaran-ajaran Islam dan terang-terangan berafiliasi pada agama selain Islam.

Kedua puluh satu. Menyelewengkan dalil dari maksud dan tujuannya

Mereka menyelewengkan ayat-ayat Allah setelah mereka mengetahui dan menyadari maksud dan tujuannya, seperti orang yang menyelewengkan maksud ayat dan menafsirkannya dengan hawa nafsu.

Kedua puluh dua. Mengingkari kebenaran dan para pendukungnya

Ketika orang-orang jahiliyah berpecah belah, mereka saling tidak menerima kebenaran dari selain kelompok mereka dan hanya menerima apa yang datang dari kelompok masing-masing. Seperti orang-orang yang fanatik dengan madzhabnya dan menganggap kebenaran hanya ada pada madzhabnya saja.

Seharusnya mereka melihat kebenaran melalui dalil yang shahih dan benar, karena setiap perkataan orang mengandung kebenaran dan kesalahan kecuali orang-orang yang telah dipilih Allah.

Kedua puluh tiga. Menganggap hanya kelompoknya yang benar

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Setiap golongan mengklaim bahwa hanya merekalah yang selamat, sebagaimana perangai orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Kriteria golongan yang selamat adalah mereka yang seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Mereka berusaha mengamalkan syariat agar Allah senantiasa melimpahkan ridha dan maghfirah-Nya, wallahua’lam. (A/RS3/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)