Keluarga Korban Serangan Drone AS: Permintaan Maaf Tidak Cukup

Kabul, MINA – Sehari setelah militer Amerika Serikat mengakui serangan pesawat tak berawak (drone) di ibukota Afghanistan bulan lalu secara keliru telah menewaskan 10 anggota keluarga sipil,

Aimal Ahmadi, salah satu orang tua korban mengatakan, permintaan maaf AS “Itu tidak cukup bagi kami, AS harus menemukan orang yang melakukan ini.” Al Jazeera melaporkan, Ahad (19/9).

Ia mengatakan AS harus menghukum personel militer yang bertanggung jawab atas serangan itu, yang menewaskan 7 anak di antara 10 korban.

Ahmadi, yang putrinya Malika (3 th) terbunuh pada 29 Agustus, ketika rudal api dari drone AS menghantam mobil kakak laki-lakinya, mengatakan bahwa keluarganya menuntut Washington menyelidiki siapa yang menembakkan drone dalam serangan Kabul.

“Saya kehilangan 10 anggota keluarga saya. Saya ingin keadilan dari Amerika Serikat dan organisasi lain,” katanya. “Kami adalah orang-orang yang tidak bersalah, kami tidak melakukan kesalahan,” lanjutnya.

Zemerai Ahmadi adalah karyawan lama di sebuah organisasi kemanusiaan AS.

Ia menyebutkan, tidak ada bukti untuk mendukung pernyataan Pentagon bahwa kendaraan tersebut berisi bahan peledak.

Rudal itu menghantam ketika mobil itu memasuki jalan masuk keluarga dan anak-anak berlari untuk menyambut Zemerai.

Pada Jumat (17/9), Jenderal Marinir AS Frank McKenzie, Kepala Komando Pusat AS, menyebut serangan itu sebagai “kesalahan tragis”, dan setelah beberapa pekan menyangkal, mengatakan bahwa warga sipil tak berdosa memang tewas dalam serangan itu. Bukan seorang yang terkait dengan ISIS, seperti yang awalnya diklaim oleh militer AS.

McKenzie menambahkan, AS sedang mempertimbangkan untuk melakukan pembayaran ganti rugi kepada keluarga para korban. (T/RS2//P1)

Mi’raj News Agency (MINA)