Kepedihan Wanita Irak Dalam Penantian Tak Berujung

Meja yang membentang di dinding ruang tamu Samya Khasro adalah tempat suci bagi orang yang hilang. Lilin berkelap-kelip dan foto-foto yang memudar dari 26 orang kerabat Irak-nya yang menghilang 35 tahun lalu terpampang teguh di dinding.

Khasro, wanita 72 tahun yang berasal dari minoritas Kurdi Syiah ini pernah dianiaya. Ia mengatakan nahwa keluarganya hancur oleh hilangnya begitu banyak orang yang dicintai dan kesedihan meliputinya karena tidak mengetahui nasib mereka.

“Kami masih menunggu hingga pada hari kami mendapatkan tulang-tulang mereka, baru setelah itu kami dapat mengatakan bahwa mereka telah mati,” katanya.

Ke-26 orang yang hilang itu adalah saudara kandung, mertua dan anak-anak Khasro. Di seluruh keluarga besarnya ada lebih dari 100 orang yang masih hilang.

Irak adalah salah satu negara dengan jumlah orang hilang terbanyak menurut Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Jumlahnya berkisar antara 250.000 hingga lebih dari satu juta orang. Selisih itu menunjukkan kondisi yang mengejutkan dan ada kesulitan mendokumentasikan kasus-kasus tersebut.

Mereka telah terakumulasi dalam beberapa dekade ketidakstabilan, dimulai dari praktik eks diktator Saddam Hussein mengeksekusi dan secara paksa menghilangkan lawan-lawannya secara massal.

Irak di bawah pimpinan Saddam berperang dengan Iran pada 1980-an dan antara 1987-1988 melakukan “Operasi Anfal” yang kejam, yang diperkirakan telah menewaskan sekitar 180.000 orang Kurdi.

Pasukannya juga menargetkan minoritas etnis agama Kurdi Syiah. Banyak orang dipenjara secara rahasia, diusir paksa dari Irak atau diculik dari jalan.

Khasro, seorang mantan anggota parlemen yang berbicara kepada AFP di rumahnya di Baghdad, meyakini dengan cara-cara itu keluarganya hancur.

“Apakah saya mengatakan pada Tuhan untuk menjadikanku orang Kurdi? Atau untuk menjadikan tempat kelahiranku di Irak? Atau menjadikanku orang Syiah? Itu bukan salahku, ini warisan. Jadi bagaimana bisa saya dihukum karenanya?” tanyanya.

Hanya cincin kawinnya

Hampir setiap keluarga di Irak terkena kasus penghilangan paksa dan kesedihannya sepertinya tak ada habisnya.

Suami Khasro, Saadoun, belum melihat atau mendengar kabar seorang pun saudara lelakinya sejak mereka masih muda. Sementara yang lain meninggalkan Irak sejak 45 tahun yang lalu, karena takut akan penganiayaan dari pasukan pemerintah.

Seiring bertambahnya usia mereka, Khasro khawatir jawaban yang dicari keluarganya akan ikut terkubur bersama dengan generasi yang lebih tua.

“Kami akan pergi pada akhirnya. Tapi apakah kesedihan mereka yang muncul setelah kami akan sama dengan kesedihan kami?” tanyanya.

Pemerintah Irak telah membuat beberapa kemajuan dalam mendata kasus orang hilang pada beberapa bulan terakhir. Beberapa kuburan massal yang berasal dari operasi Anfal dan Perang Teluk 1991 atas Kuwait berhasil ditemukan.

Namun keluarga telah menyatakan frustrasi karena skala pekerjaan tidak menguntungkan sumber daya yang ditugaskan pemerintah.

“Bahkan direktur kuburan massal tidak memiliki nol dinar yang dialokasikan untuknya. Pada titik ini, kami bertaruh pada bantuan dari organisasi internasional,” kata Khasro.

Lembaga utama yang Khasro dan keluarga lainnya harapkan adalah ICRC, yang mengadvokasi atas nama keluarga yang selamat dan membantu menyerahkan sisa-sisa kerangka mayat yang telah digali untuk identifikasi.

“Pesan kami kepada pemerintah adalah bahwa keluarga-keluarga ini membutuhkan lebih banyak dukungan, sehingga file ini pada akhirnya dapat ditutup suatu hari,” kata Juru Bicara ICRC Salma Awdah kepada AFP.

Lebih dari 250 kilometer (150 mil) utara dari Khasro di provinsi Kirkuk, keluarga lain hidup dalam kepedihan yang sama.

Ronak Mohammad yang berusia 63 tahun, belum melihat suaminya sejak dia didaftarkan sebagai tentara cadangan pada tahun 1982.

“Dia meninggalkan rumah dan sekarang saya tidak punya apa-apa selain jam tangan dan cincin kawinnya,” kata Ronak yang tidak memiliki informasi tentang keberadaan suaminya, apalagi sertifikat kematiannya.

Penantian tanpa akhir

Ronak, ibu tiga anak ini sekarang tinggal di sebuah kompleks perumahan di Kirkuk yang menampung keluarga-keluarga yang telah kehilangan orang-orang terkasihnya.

Sambil membolak-balik album tebal yang berisi foto-foto pernikahan hitam-putih, dia mengatakan bahwa anak perempuan bungsunya baru berusia 20 hari ketika ayahnya pergi.

“Dia tidak kenal ayahnya. Dia hanya punya foto-foto ini, dan dia mengunjunginya dalam mimpinya,” kata Ronak.

Zainab Jassem, tetangga Ronak menderita luka yang jauh lebih baru. Kerabatnya hilang sejak serangan berdarah kelompok ISIS di Irak utara pada 2014, ketika para militan itu mengeksekusi warga sipil secara massal, menculik minoritas dan secara paksa merekrut anak-anak.

Zainab meyakini bahwa ibunya, Bushra, diculik oleh ISIS pada tahun 2014 dalam perjalanan pulang dari kota sekitar satu jam perjalanan.

Keduanya bekerja sebagai penjahit. Saat hilangnya, Bushra sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan pakaian yang telah dia kerjakan untuk pelanggan.

Tetapi ISIS menghentikan bus yang dia naiki dan memaksa para penumpang pergi, menuduh mereka melakukan kegiatan mata-mata.

“Mereka (pemerintah) memanggil kami dan bertanya apakah ibuku menyampaikan informasi,” kata Zainab yang belum menyentuh mesin jahitnya sejak ibunya menghilang.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya.

“Kami telah berharap dan berkata, mungkin dia akan kembali besok … Mungkin dia akan kembali pada Idul Fitri berikutnya,” harap Zainab. (AT/RI-1/RS3)

 

Sumber: AFP

 

Mi’raj News Agency (MINA)