Kesaksian Seorang Muslimah Mantan Tahanan “Reedukasi” Cina

Seorang muslimah mantan tahanan Kamp “Reedukasi” Gulbakhar Cililova (54) menceritakan kisah pilunya ketika berada di kamp yang diklaim oleh Pemerintah Cina sebagai Pusat Pelatihan dan Keterampilan.

Ia bercerita pada acara diskusi media yang digelar oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) pada Sabtu (12/1) di bilangan Jakarta Pusat.

Cililovaa adalah seorang wanita berkewarganegaraan Kazakhstan. Sudah 20 tahun ia sering melakukan perjalanan bisnis dari Kazakhstan ke Cina.

Namun pada suatu hari hal yang tak pernah terbayangkan terjadi pada hidupnya. Cililova ditangkap oleh pemerintah Cina pada Mei 2017 dengan tuduhan sebagai etnis Uighur yang menjadi teroris.

Sejak saat itu ia dimasukkan ke dalam kamp Reedukasi di Provinsi Xianjiang, Cina.

“Ketika saya di kamp tersebut saya dimitai KTP Cina saya. Saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan saya tidak melakukan kesalahan,” ungkap Cililova.

Menurutnya, definisi teroris di sana sangat berbeda. Melaksanakan ibadah shalat, mengenakan jilbab, menyimpan ayat-ayat Al-Quran di dalam handphone sudah bisa dikategorikan sebagai teroris.

Selama penginterogasian tersebut Cililova dikurung dalam ruangan yang sempit dan pengap bersama tahanan yang lain.

Di dalam kamp itu tugas mereka hanya satu yaitu duduk diam menghadap ke layar yang ada di tembok dengan tayangan sosok Presiden Komunis Cina. Kegiatan itu mereka lakukan dari Pukul 05.30 – 22.30 waktu setempat. Bahkan untuk buang hajat pun harus mereka lakukan di tempat itu.

“Kami tidak pernah mandi. Jika rambut kami basah sedikit saja, dianggap habis berwudhu. Jika kami menengok dianggap gerakan shalat,” terang wanita yang memiliki tiga orang anak ini.

Mereka juga tidak boleh mengeluh kesakitan karena akan dianggap sedang berbincang. Jika mereka melanggar semua itu, Cililova mengatakan mereka akan langsung diberi hukuman dengan diborgol kaki dan tangan serta diberi pemberat seberat lima kilo gram.

Dalam keadaan kelaparan orang yang dianggap melanggar dihukum. Bahkan ada yang setelah kembali ke ruangan mukanya lebam dan hidung berdarah.

“Kami hanya diberi makan dengan setengah gelas kuah dan sepotong roti. Berat badan saya turun 20 kg sejak satu bulan pertama masuk kamp,” kenangnya.

Cililova mengaku sempat sangat depresi dan empat kali dibawa ke rumah sakit tahanan yang kondisinya sangat tidak layak. Di sana para tahanan sering disuntik dan diambil darahnya secara rutin entah untuk apa.

Di Rumah Sakit itu pula ia pernah menyaksikan tahanan seumur hidup atau tahanan Uighur yang dijatuhi hukuman mati. Suatu saat ia melihat seorang wanita dibawa oleh petugas. Ia bertanya akan dibawa ke mana wanita itu. Dijawabnya wanita itu akan “bebas”, yang berarti akan mati.

“Mereka tidak dibunuh langsung, tapi secara perlahan dengan pemberian obat-obatan yang mematikan,” tambahnya.

Dengan berkaca-kaca Cililova menceritakan seorang wanita hamil yang melahirkan di Kamp. Sesaat setelah anaknya lahir, petugas langsung mengambil anaknya sebelum wanita itu sempat menyusui anaknya.

Dalam Kamp itu terjadi banyak sekali pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang bagi agama apapun akan mengecam tindakan ini.

Akhirnya pada September 2018 lalu Cililova dibebaskan karena terbukti bukan etnis Uighur. Tiga hari sebelum dibebaskan dia dibawa ke hotel dan diberi perawatan intensif agar kondisinya tidak seperti habis ditahan.

Ia mengaku mendapat ancaman dari pihak Pemerintah Komunis Cina untuk tidak membocorkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kemudian ia pun dibuatkan paspor kembali untuk pulang ke negaranya.

“Saya bisa keluar karena saya bukan etnis Uighur. Sedangkan mereka bangsa Uighur tidak tahu kapan mereka akan bisa keluar. Mereka menitipkan amanah kepada saya untuk menyampaikan keadaan yang menimpa mereka kepada dunia,” ujarnya dengan tangisan yang tidak bisa dibendung.

Sebelumnya PBB menyatakan pada Agustus 2018 lalu, setidaknya ada satu juta warga Uighur yang berada di Kamp Reedukasi yang diduga kuat menjadi tempat penindasan oleh Pemerintah Cina terhadap etnis Uighur.

Kehadiran Cililova ke Indonesia bersama Majelis Nasional Turkistan Timur tidak terlepas dari kepedulian masyarakat Indonesia kepada warga Uighur.

Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur Seyit Tumturk mengatakan, selama puluhan tahun tidak ada yang benar-benar menyuarakan penindasan yang dialami Uighur atau membela nasib Uighur secara terang-terangan seperti yang dilakukan Indonesia.

“Saya atas nama 35 juta bangsa Uighur dunia mengucapkan terima kasih kepada seluruh Muslim Indonesia,” ujarnya.

Seperti yang diketahui pada akhir Desember 2018 lalu masyarakat Indonesia melakukan protes besar-besaran atas ketidakadilan yang dialami Uighur.

Krisis kemanusiaan yang dialami warga etnis Muslim Uighur semakin memuncak selama lima tahun belakangan ini, terutama sejak kamp reedukasi dibangun di Xinjiang pada 2014.

PBB menyatakan, pada Agustus 2018 lalu setidaknya ada satu juta warga Uighur yang dikungkung di kamp reedukasi tersebut, yang diduga menjadi tempat di mana warga Uighur direpresi.

Sementara itu, menurut data PBB, sejumlah 3-5 juta warga etnis Uighur terpaksa berdiaspora ke berbagai negara perbatasan, seperti Turki, Uzbekistan, Kirgistan, dan Kazakhstan.(A/Mufi/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)