Ketahanan Nasional di Era V2 (Virtual dan Virus). Oleh: dr. Yogi Prabowo, SpOT *

  •  Dr. Yogi Prabowo, SpOT,  Presidium dan Relawan Medis MER-C, Praktisi Kegawatdaruratan Medis & Kebencanaan 

Pandemi Covid-19 memberikan pelajaran bagi bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia. Dua aspek utama kehidupan berbangsa terdampak, yaitu kesehatan dan ekonomi. Dampak pandemi ini bisa disetarakan dengan perang dunia. Jutaan orang terkena, ratusan ribu meninggal, krisis ekonomi di depan mata. Bukan tentara yang melakukannya, bukan pula senjata nuklir. Ternyata virus, bukan hanya virus komputer ciptaan Bill Gates yang mampu menembus batas negara dan benua yang dijaga oleh angkatan bersenjata baik darat, laut dan udara, tetapi juga virus corona yang mempunyai daya sebar cepat dan luas, mampu memporakporandakan ketahanan nasional negara-negara di dunia.

Pertahanan dunia nyata berupa angkatan bersenjata dan senjata nuklir sudah banyak diwaspadai oleh setiap negara. Tetapi pertahanan dunia maya (virtual) hanya akan dimenangkan oleh penguasa tehnologi. Pilihannya menjadi “Director” atau “Follower”.

Ekonomi

Sistem ekonomi kerakyatan, terbukti lebih tangguh menghadapi efek lockdown ketimbang ekonomi kapitalis. Perusahaan-perusahaan besar banyak yang berhenti beroperasi, bahkan yang padat karya terancam PHK besar-besaran. Sementara pedagang-pedagang kecil, pasar-pasar rakyat tetap bisa beroperasi walaupun dengan keterbatasan. Sistem ekonomi virtual juga masih bisa beroperasi.

Belajar dari hal tersebut, mengingatkan kita pada tokoh nasional Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi dan UKM era Presiden BJ Habibie yang sempat dijuluki oleh The Washington Post sebagai “Indonesia’s Most Dangerous Man” akibat konsep ekonomi kerakyatan yang mengedepankan pengembangan koperasi. Sisi lain ekonomi virtual tetap dapat membantu dalam transaksi dan distribusi.

Jadi dua hal yang bisa disimpulkan untuk survive secara ekonomi dalam menghadapi pandemi atau serangan virus, yaitu, 1). Ekonomi kerakyatan, dan 2). Ekonomi Virtual Parsial

Kesehatan

Kesulitan dalam menghadapi virus adalah alat diagnostik. Kecilnya virus yang tidak kasat mata dan ketidakjelasan diagnosis bagaikan berhadapan dengan hantu yang menyeramkan. Ketidakjelasan akan menimbulkan kepanikan dan ketakutan. Ke depan perang tidak lagi menggunakan senjata-senjata konvensional tetapi akan berkembang menjadi senjata biologi (virus, bakteri) dan racun zat-zat kimia. Oleh karena itu, belajar dari pandemi Covid-19 tersebut, maka :

1. Setiap Bandara, Pelabuhan, perkuat sistem kesehatan KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) dengan alat diagnostik mikrobiologi PCR (Polymerase Chain Reaction) yang cepat dan toksikologi yang handal;

2. Jadikan pemeriksaan mikrobiologi PCR (Polymerase Chain Reaction) virus dan toksikologi menjadi pemeriksaan rutin sehari hari. Wajibkan setiap RS Tipe A dan B memiliki laboratorium tersebut;

3. Sudah saatnya melahirkan laboratorium-laboratorium kelas dunia seperti Lembaga Eijkman di beberapa tempat dan pusat produksi vaksin seperti Biofarma yang akan menunjang kemandirian produksi vaksin. Hal ini agar bangsa Indonesia tidak bergantung pada negara lain yang virusnya belum tentu sama, agar negara dan bangsa bisa melepaskan diri dari agenda-agenda besar dominator dunia yang berkaitan dengan virus mikroorganisme dan vaksin. Sesuai dengan pengalaman dari Menteri Kesehatan RI, DR. Dr. Siti Fadilah Supari, SpJP(K), yang berhasil membongkar agenda terselubung negara adidaya terhadap virus dan vaksin. Vaksin Covid-19 harus mampu kita buat sendiri berdasarkan strain virus yang ada di Indonesia;

4. Perkuat sistem penanggulangan bencana terpadu, khususnya untuk bencana wabah dan racun;

5. Perbanyak ahli-ahli mikrobiologi, toksikologi, sekolahkan putra-putri terbaik bangsa untuk mendalami ilmu tersebut. (A/R8/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)