Ketua MPR Desak Polisi Segera Usut Penganiayaan Ulama

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkifli Hasan. (Foto: dok. Suara Muhammadiyah)

Jakarta, MINA – Penganiyaan terhadap tokoh agama dan alim ulama meningkat dalam sebulan terakhir ini. Ketua MPR RI Zulkifli Hasan meminta polisi untuk segera mengusut tuntas kasu tersebut.

“Kami meminta polisi dan badan intelijen kita bersikap tegas dan cepat menyelesaikan permasalahan penganiayaan kiai ini, diharapkan agar hal ini tidak terjadi lagi,” ujar Zulkifli usai menghadiri seminar nasional menghadapi fenomena penganiayaan terhadap ulama di Gedung DDII (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia), Jakarta, Selasa (20/2).

Ia khawatir kalau semakin lama kasus ini dibiarkan, para ulama dan tokoh agama terus dianiaya, maka umat bisa terpancing. Kalau terlalu lama, umat akan tidak sabar, walaupun para ulama sudah meminta untuk jangan terpancing.

“Kami meminta kepada aparat keamanan untuk bertindak mengambil langkah-langkah cepat menyelesaikan masalah ini, sebab walaupun kita terus katakan jangan terpancing, jangan terpancing, tapi kalau terlalu lama, kita khawatir umat nggak sabar,” katanya.

Selain meminta aparat cepat bertindak, Zulkifli juga meminta kepada umat Islam dan umat lainnya untuk dapat menahan diri. Ia menduga, kasus yang rutin terjadi dalam beberapa hari terakhir ini ada yang memang ingin mengadu domba antar umat beragama memasuki tahun-tahun politik.

“Saya mengimbau umat jangan terpancing. Saya meyakini ada yang ingin memecah belah, mengkoyak-koyak kita, karena itu maka harus kita satukan umat agar tidak terpecah belah. Mari kita lawan, kita buktikan bahwa kita tidak bisa dipecah belah,” katanya.

Seperti diberitakan media-media nasional, rentetan kasus yang terjadi adalah di Jawa Barat, kasus penganiayaan terhadap ulama terjadi di waktu dan tempat yang berdekatan. Kasus pertama terjadi kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong).

Ia menjadi korban penganiayaan usai Shalat Subuh di masjid pada Sabtu (27/1). Kemudian muncul kasus baru yang bahkan menyebabkan meninggalnya Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto pada Kamis (2/1) pagi.

Kemudian peristiwa penyerangan seorang pastur di Sleman, Yogyakarta, Ahad (11/1) kemarin. Penyerangan itu menyebabkan Pastur Romo Karl Edmund Prier terluka bersama lima orang lainnya.

Penyerangan ini pun belum ada keterkaitan dengan penyerangan pemuka agama lainnya. Bukan hanya tokoh agama, tempat ibadah pun mengalami teror.

Sebuah klenteng di Karawang, pada Ahad (11/2) mengalami ancaman bom. Kemudian, sebuah masjid di Tuban, mengalami kerusakan kaca pada Selasa (13/2) dini hari.

Yang terakhir, percobaan penyerangan terjadi lagi terhadap KH Hakam Mubarok, yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur terjadi Ahad (18/2). (L/R06/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)