Keutamaan Menuntut Ilmu, Nasihat Untuk Santri Baru

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Pembina Ma’had Tahfidzul Quran Daarut Tabiyah Indonesia, Redaktur Senior MINA

 

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Para pelajar, wa bil khusus para santri yang mondok, memulai hidup baru, suasana baru, teman-teman baru, lingkungan baru.

Tidak sedikit yang memulainya dengan kesedihan dan tangisan, terutama santriwati. Ada yang merenungi nasib dirinya mengapa dititipkan oleh kedua orangtuanya jauh di perantauan. Padahal dirinya masih ingin dan betah di rumah, kumpul dengan kawan-kawannya, bebas main mobile legend, bebas sampai tengah malam, bebas bergaul, dan seterusnya.

Dirinya merasa belum terlalu siap menuntut ilmu jauh di luar kota, dan belum cukup mantap berpisah dengan keluarganya.

Padahal, kalian wahai para santri, kalian saat ini berada di lingkungan pondok pesantren, apalagi Tahfidzul Quran, kalian berarti sedang berada di taman surga. Kalau di taman surga kalian tidak betah, apakah kekal tidak ingin berada di taman surga juga?

Ingatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan di dalam haditsnya:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Ini artinya, kalian berada di pondok berarti kalian sedang berada di jalan menuju surga. Allah akan memudahkan kalian mencapai surga-Nya.

Bagaimana tidak? Di tempat penuh ilmu ini kalian akan diajarkan menjadi hamba Allah yang bertakwa, tatacara shalat dan pengamalannya, dan berbagai disiplin ilmu dari para asatidz. Ini semua bekal penting kalian untuk meniti dan menata kehidupan kalian nanti.

Bahkan orang-orang yang sedang berada di majelis ilmu, tempat menuntut ilmu, berarti sedang berada di taman surga.

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Artinya: “Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah. Mereka bertanya,”Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah dzikir (majelis Ilmu).” (HR At-Tirmidzi).

Kalian orang-orang beriman, jika kalian sebagai santri sekaligus penuntut ilmu agama, maka kalian akan diangkat derajatnya oleh Allah.

Ini allah nyatakan di dalam ayat-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ وَ اللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبيرٌ

Artinya : “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang–rang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah dengan apapun yang kalian kerjakan adalah Maha Mengetahui.” (QS Al-Mujadalah [58] : 11).

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah akan mengangkat tinggi derajat dan kedudukan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.

Mereka para penuntut ilmu diangkat derajatnya karena imannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan orang-orang yang berilmu pengetahuan diangkat derajatnya karena mereka dapat memberikan manfaat (mashlahat) kepada orang lain dengan ilmunya itu.

Ilmu di sini tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, seperti aqidah, tauhid, tafsir Al-Quran, fiqih ibadah, akhlak, dain lainyya. Akan tetapi juga termasuk di dalamnya ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya, seperti ilmu geografi, fisika, teknik, kedokteran, dll. Selama ilmunya dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membeirkan manfaat kepada manusia dan alam sekitarnya.

Sebab semua ilmu pengetahuan itu pada hakikatnya adalah datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

Artinya : Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”. (QS Al-Mulk [67]: 26).

Karena itulah, agar kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, kita mestinya minta kepada Allah agar memberikan ilmu pengetahuan. Bahkan Allah sendiri mengajarkan agar sebelum kita menuntu ilmu, atau ketika mencari ilmu, maka kita memohon agar Allah membimbing kita mendapatkan ilmu yag manfaat itu.

Sebagaimana doa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan :

وَقُلْ رَبِّي زِدْنِي عِلْمًا

Artinya : “Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku ilmu.” (QS Thaha [20]: 114).

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْمًا تَنْفَعُنِي بِهِ

Artinya : “Ya Allah, berilah aku manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah untukku ilmu yang bermanfaat bagiku.” (HR An-Nasa’i).

Oleh karena itu, manakala orang-orang beriman mendapatkan ilmu atau kemudian memperoleh kedudukan atau keuntungan dengan ilmunya. Hal itu bukanlah menjadi tujuannya, dan tidaklah ia pantas bersombong diri atau merasa lebih dengan yang lainnya. Sehingga ia menyepelekan orang lain.

Padahal tidak ada manusia yang sempurna. Ya, mungkin ia hebat dalam ilmu tafsir Al-Quran sekalipun, namun ketika ia memerlukan pakaian, maka ia memerlukan orang memiliki ilmu membuat pakaian. Demikian pula mungkin ia professor sekalipun di bidang kedokteran. Akan tetapi manakala ia akan membangun rumah, ia tidak bisa membangunnya sendiri dengan keprofesorannya tersebut. Ia pasti memerlukan tukang yang ahli dalam masalah bangunan.

Karena itu, tidak lain ucapan orang-orang beriman dengan ilmunya itu adalah memuji Allah :

سُبۡحَـٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

Artinya : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al-Baqarah [2]: 32).

Sehingga dengan ilmunya itu, ia akan berusaha mengamalkannya dengan cara menshadaqahkannya kepada orang lain yang memerlukan. Sehingga bermanfaatalah ilmu itu, dan menjadi tambahan pahala buatnya.

Di dalam hadits disebutkan bahwa ilmu yang manfaat merupakan harta warisan yang sangat berharga dan akan terus mengalirkan pahala kepada yang punya, walaupun ia telah meninggal dunia.

 إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدصَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara, yaitu : (1) Shadaqah jariyah, dan (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Dengan ilmunya itu pula, akan menambah rasa takutnya dan ibadahnya kepada Allah. Seperti Allah sebutkan tentang siapakah yang disebut ‘ulama’ itu? Bukan semata yang ahli dalam kitab, tilawah atau agama. Tetapi yang takut kepada Allah.

 …إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya : “…..Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘ulama (orang-orang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fathir [35]: 28).

Jadi, bersyukurlah kalian, Allah pilih kalian menjadi manusia-manusia pilihan-Nya, yang ditempatkan di tempat ilmu, di taman surga-Nya. Tempat kalian menempa diri menjadi anak-anak shalihin-shalihat, Aamiin. (T/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)