Oleh Majelis Dakwah Pusat, Jama’ah Muslimin
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang mengatur langit dan bumi dengan hikmah dan ketetapan-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, dan Dia pula yang menundukkan matahari dan bulan sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Di tengah-tengah Bulan Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi hidup dalam hati, tercermin dalam sikap, dan nyata dalam perjuangan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Gerhana yang dimuliakan Allah
Gerhana bulan adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah ﷻ berfirman:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥
“Sesungguhnya matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna بِحُسْبَانٍ adalah bi hisābin muqaddar — berjalan dengan perhitungan yang tepat dan ketentuan yang teratur. Artinya: Matahari dan bulan beredar sesuai orbit yang telah Allah tetapkan. Tidak maju dan tidak mundur dari ketentuan-Nya. Peredarannya sekaligus menjadi dasar perhitungan waktu, hari, bulan, dan tahun.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada yang terjadi secara acak.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Hubungan Puasa Ramadhan dan Jihad Pembebasan Al-Aqsa
Gerhana bukanlah kekacauan kosmik. Ia terjadi dalam sistem “بِحُسْبَانٍ” (perhitungan Allah). Bahkan ketika bulan tampak gelap, itu tetap dalam ketetapan-Nya.
Maka fenomena alam harus menguatkan tauhid, bukan sekadar kekaguman ilmiah semata.
Sebagaimana matahari dan bulan tunduk, demikian pula manusia seharusnya tunduk dalam ibadah, terutama di bulan Ramadhan—bulan tarbiyah ketakwaan ini.
Jika alam saja tidak pernah melanggar ketentuan Allah , maka bagaimana mungkin manusia beriman masih enggan untuk taat kepadaNya?
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Tazkiyatun Nafs
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: Dari Ibnu Mas’ud Al Anshori ra,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena langit, bukan pula diakibatkan kematian dan kelahiran seseorang, tetapi momentum muhasabah. Islam mengajarkan kita agar fenomena alam tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi berlanjut pada kesadaran spiritual dan perubahan sikap.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Taqwa
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana memberi pelajaran besar bagi umat manusia, bahwa pemasalahan dalam kehidupan tidak akan selamanya menghampiri. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali bersinar.
Inilah sunnatullah. Ujian berat yang menimpa kehidupan kita sehari-hari, umat yang masih lemah dan ketaatan yang kurang, Jamaah yang belum di kenal—ibarat bulan yang tertutup gerhana. Ia tidak akan selamanya gelap. Cahaya itu akan kembali, dengan izin Allah.
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di bumi para nabi, di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka terus dalam incaran pembunuhan Zionis Yahudi, rasa dingin yang menyengat di tenda-tenda mereka, makanan dan minuman yang terbatas, akses yang sulit, mengharuskan kita peduli kepada penderitaan mereka. Kita yakin: setelah kegelapan, selalu ada cahaya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Ramadhan
Bukankah Rasulullah ﷺ pun diuji dalam Perang Uhud hingga beliau terluka dan berdarah? Namun dari ujian itu lahir generasi yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad dan bersabar di antara kalian?” (QS. Ali Imran: 142)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana akan berlalu dengan sendirinya karena itu hukum Allah atas alam. Namun kegelapan umat tidak akan berlalu tanpa sebab. Ada beberapa syaratnya yang harus kita upayakan bersama dalam mengatasi permasalah umat:
Pertama, Kembali kepada Allah, tidak mungkin kemenangan turun kepada umat yang jauh dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk perbaiki diri, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah , berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melaksanakan sunah-sunahnya dengan meningkatkan amalan-amalan soleh kita di bulan Ramadhan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Bulan Sya’ban, Jalan Menuju Cahaya Ramadhan
Kedua, Husnuzan kepada Allah, meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak sesuai waktu yang kita inginkan.
Dengan berjamah, perolongan akan Allah turunkan,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama Al-Jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gembira
Ketiga, Berjamaah dan Tidak Berpecah, Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Rahmat Allah bersama Al-Jama’ah, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan umat Islam. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan jangan berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Momentum Sya’ban, Mempersiapkan Jasmani dan Rohani Menuju Bulan Ramadhan
الجماعةُ رحمةٌ، والفُرقةُ عذابٌ
“Al-Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu azab.” (HR. Al-Tabarani dan Al-Baihaqi)
Maka, mari kuatkan Al Jama’ah ini dengan peran kita semua, jaga silaturahmi dan ukhuwah diantara kita, jangan sampai kita berpecah kembali setelah berada di dalam al-Jama’ah, apadahal Allah telah menyatukan hati-hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
Bersatunya hati adalah murni karunia Allah, bukan karena kepentingan dunia, atau kekuatan materi, apalagi politik.
Harta sebanyak apa pun tidak mampu menyatukan hati jika Allah tidak menghendaki.
Keempat, beramal saleh
…فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“..Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Allah tidak menghendaki umatnya shaleh pribadi, tetapi tidak mau bersedekah, tidak memperdulikan lingkungannya, tidak membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, janda dan orang-orang yang terzalimi, sebagaimana muslimin di Palestina.
Allah menghendaki umat Islam senantiasa peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikat kebajikan bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi pada isi dan tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ۚ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana yang kita saksikan adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di langit. Adapun Ramadhan yang kita jalani adalah ayat syar’iyah (qauliyah), perintah Allah dalam wahyu-Nya. Keduanya mengajarkan satu hakikat yang sama: agar manusia kembali beriman dan bertakwa kepada Allah ﷻ.
Ketika bulan tertutup dalam gerhana, kita diingatkan bahwa alam seluruhnya tunduk kepada ketentuan Allah. Dan ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada perintah-Nya.
Semoga puasa yang kita lakukan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa perubahan. Melainkan menjadi sarana transformasi jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana alam yang tunduk dalam keteraturan-Nya.aamiin ya rabbal alamin.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mi’raj News Agency (MINA)
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah Shalat Gerhana Bulan:
Gerhana Bulan : Kebesaran Allah dan
Oleh:
Majelis Dakwah Pusat
14 Ramadhan 1447/3 Maret 2026
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang mengatur langit dan bumi dengan hikmah dan ketetapan-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, dan Dia pula yang menundukkan matahari dan bulan sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Di tengah-tengah Bulan Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi hidup dalam hati, tercermin dalam sikap, dan nyata dalam perjuangan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Gerhana yang dimuliakan Allah
Gerhana bulan adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah ﷻ berfirman:
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥
“Sesungguhnya matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna بِحُسْبَانٍ adalah bi hisābin muqaddar — berjalan dengan perhitungan yang tepat dan ketentuan yang teratur. Artinya: Matahari dan bulan beredar sesuai orbit yang telah Allah tetapkan. Tidak maju dan tidak mundur dari ketentuan-Nya. Peredarannya sekaligus menjadi dasar perhitungan waktu, hari, bulan, dan tahun.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada yang terjadi secara acak.
Gerhana bukanlah kekacauan kosmik. Ia terjadi dalam sistem “بِحُسْبَانٍ” (perhitungan Allah). Bahkan ketika bulan tampak gelap, itu tetap dalam ketetapan-Nya.
Maka fenomena alam harus menguatkan tauhid, bukan sekadar kekaguman ilmiah semata.
Sebagaimana matahari dan bulan tunduk, demikian pula manusia seharusnya tunduk dalam ibadah, terutama di bulan Ramadhan—bulan tarbiyah ketakwaan ini.
Jika alam saja tidak pernah melanggar ketentuan Allah , maka bagaimana mungkin manusia beriman masih enggan untuk taat kepadaNya?
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: Dari Ibnu Mas’ud Al Anshori ra,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena langit, bukan pula diakibatkan kematian dan kelahiran seseorang, tetapi momentum muhasabah. Islam mengajarkan kita agar fenomena alam tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi berlanjut pada kesadaran spiritual dan perubahan sikap.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana memberi pelajaran besar bagi umat manusia, bahwa pemasalahan dalam kehidupan tidak akan selamanya menghampiri. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali bersinar.
Inilah sunnatullah. Ujian berat yang menimpa kehidupan kita sehari-hari, umat yang masih lemah dan ketaatan yang kurang, Jamaah yang belum di kenal—ibarat bulan yang tertutup gerhana. Ia tidak akan selamanya gelap. Cahaya itu akan kembali, dengan izin Allah.
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di bumi para nabi, di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka terus dalam incaran pembunuhan Zionis Yahudi, rasa dingin yang menyengat di tenda-tenda mereka, makanan dan minuman yang terbatas, akses yang sulit, mengharuskan kita peduli kepada penderitaan mereka. Kita yakin: setelah kegelapan, selalu ada cahaya.
Bukankah Rasulullah ﷺ pun diuji dalam Perang Uhud hingga beliau terluka dan berdarah? Namun dari ujian itu lahir generasi yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad dan bersabar di antara kalian?” (QS. Ali Imran: 142)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana akan berlalu dengan sendirinya karena itu hukum Allah atas alam. Namun kegelapan umat tidak akan berlalu tanpa sebab. Ada beberapa syaratnya yang harus kita upayakan bersama dalam mengatasi permasalah umat:
Pertama, Kembali kepada Allah, tidak mungkin kemenangan turun kepada umat yang jauh dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk perbaiki diri, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah , berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melaksanakan sunah-sunahnya dengan meningkatkan amalan-amalan soleh kita di bulan Ramadhan.
Kedua, Husnuzan kepada Allah, meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak sesuai waktu yang kita inginkan.
Dengan berjamah, perolongan akan Allah turunkan,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama Al-Jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Berjamaah dan Tidak Berpecah, Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Rahmat Allah bersama Al-Jama’ah, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan umat Islam. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan jangan berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الجماعةُ رحمةٌ، والفُرقةُ عذابٌ
“Al-Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu azab.” (HR. Al-Tabarani dan Al-Baihaqi)
Maka, mari kuatkan Al Jama’ah ini dengan peran kita semua, jaga silaturahmi dan ukhuwah diantara kita, jangan sampai kita berpecah kembali setelah berada di dalam al-Jama’ah, apadahal Allah telah menyatukan hati-hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
Bersatunya hati adalah murni karunia Allah, bukan karena kepentingan dunia, atau kekuatan materi, apalagi politik.
Harta sebanyak apa pun tidak mampu menyatukan hati jika Allah tidak menghendaki.
Keempat, beramal saleh
…فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“..Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Allah tidak menghendaki umatnya shaleh pribadi, tetapi tidak mau bersedekah, tidak memperdulikan lingkungannya, tidak membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, janda dan orang-orang yang terzalimi, sebagaimana muslimin di Palestina.
Allah menghendaki umat Islam senantiasa peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikat kebajikan bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi pada isi dan tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ۚ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana yang kita saksikan adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di langit. Adapun Ramadhan yang kita jalani adalah ayat syar’iyah (qauliyah), perintah Allah dalam wahyu-Nya. Keduanya mengajarkan satu hakikat yang sama: agar manusia kembali beriman dan bertakwa kepada Allah ﷻ.
Ketika bulan tertutup dalam gerhana, kita diingatkan bahwa alam seluruhnya tunduk kepada ketentuan Allah. Dan ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada perintah-Nya.
Semoga puasa yang kita lakukan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa perubahan. Melainkan menjadi sarana transformasi jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana alam yang tunduk dalam keteraturan-Nya.aamiin ya rabbal alamin.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah Shalat Gerhana Bulan:
Gerhana Bulan : Kebesaran Allah dan
Oleh:
Majelis Dakwah Pusat
14 Ramadhan 1447/3 Maret 2026
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang mengatur langit dan bumi dengan hikmah dan ketetapan-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, dan Dia pula yang menundukkan matahari dan bulan sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Di tengah-tengah Bulan Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi hidup dalam hati, tercermin dalam sikap, dan nyata dalam perjuangan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Gerhana yang dimuliakan Allah
Gerhana bulan adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah ﷻ berfirman:
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥
“Sesungguhnya matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna بِحُسْبَانٍ adalah bi hisābin muqaddar — berjalan dengan perhitungan yang tepat dan ketentuan yang teratur. Artinya: Matahari dan bulan beredar sesuai orbit yang telah Allah tetapkan. Tidak maju dan tidak mundur dari ketentuan-Nya. Peredarannya sekaligus menjadi dasar perhitungan waktu, hari, bulan, dan tahun.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada yang terjadi secara acak.
Gerhana bukanlah kekacauan kosmik. Ia terjadi dalam sistem “بِحُسْبَانٍ” (perhitungan Allah). Bahkan ketika bulan tampak gelap, itu tetap dalam ketetapan-Nya.
Maka fenomena alam harus menguatkan tauhid, bukan sekadar kekaguman ilmiah semata.
Sebagaimana matahari dan bulan tunduk, demikian pula manusia seharusnya tunduk dalam ibadah, terutama di bulan Ramadhan—bulan tarbiyah ketakwaan ini.
Jika alam saja tidak pernah melanggar ketentuan Allah , maka bagaimana mungkin manusia beriman masih enggan untuk taat kepadaNya?
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: Dari Ibnu Mas’ud Al Anshori ra,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena langit, bukan pula diakibatkan kematian dan kelahiran seseorang, tetapi momentum muhasabah. Islam mengajarkan kita agar fenomena alam tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi berlanjut pada kesadaran spiritual dan perubahan sikap.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana memberi pelajaran besar bagi umat manusia, bahwa pemasalahan dalam kehidupan tidak akan selamanya menghampiri. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali bersinar.
Inilah sunnatullah. Ujian berat yang menimpa kehidupan kita sehari-hari, umat yang masih lemah dan ketaatan yang kurang, Jamaah yang belum di kenal—ibarat bulan yang tertutup gerhana. Ia tidak akan selamanya gelap. Cahaya itu akan kembali, dengan izin Allah.
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di bumi para nabi, di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka terus dalam incaran pembunuhan Zionis Yahudi, rasa dingin yang menyengat di tenda-tenda mereka, makanan dan minuman yang terbatas, akses yang sulit, mengharuskan kita peduli kepada penderitaan mereka. Kita yakin: setelah kegelapan, selalu ada cahaya.
Bukankah Rasulullah ﷺ pun diuji dalam Perang Uhud hingga beliau terluka dan berdarah? Namun dari ujian itu lahir generasi yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad dan bersabar di antara kalian?” (QS. Ali Imran: 142)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana akan berlalu dengan sendirinya karena itu hukum Allah atas alam. Namun kegelapan umat tidak akan berlalu tanpa sebab. Ada beberapa syaratnya yang harus kita upayakan bersama dalam mengatasi permasalah umat:
Pertama, Kembali kepada Allah, tidak mungkin kemenangan turun kepada umat yang jauh dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk perbaiki diri, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah , berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melaksanakan sunah-sunahnya dengan meningkatkan amalan-amalan soleh kita di bulan Ramadhan.
Kedua, Husnuzan kepada Allah, meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak sesuai waktu yang kita inginkan.
Dengan berjamah, perolongan akan Allah turunkan,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama Al-Jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Berjamaah dan Tidak Berpecah, Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Rahmat Allah bersama Al-Jama’ah, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan umat Islam. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan jangan berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الجماعةُ رحمةٌ، والفُرقةُ عذابٌ
“Al-Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu azab.” (HR. Al-Tabarani dan Al-Baihaqi)
Maka, mari kuatkan Al Jama’ah ini dengan peran kita semua, jaga silaturahmi dan ukhuwah diantara kita, jangan sampai kita berpecah kembali setelah berada di dalam al-Jama’ah, apadahal Allah telah menyatukan hati-hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
Bersatunya hati adalah murni karunia Allah, bukan karena kepentingan dunia, atau kekuatan materi, apalagi politik.
Harta sebanyak apa pun tidak mampu menyatukan hati jika Allah tidak menghendaki.
Keempat, beramal saleh
…فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“..Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Allah tidak menghendaki umatnya shaleh pribadi, tetapi tidak mau bersedekah, tidak memperdulikan lingkungannya, tidak membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, janda dan orang-orang yang terzalimi, sebagaimana muslimin di Palestina.
Allah menghendaki umat Islam senantiasa peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikat kebajikan bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi pada isi dan tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ۚ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana yang kita saksikan adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di langit. Adapun Ramadhan yang kita jalani adalah ayat syar’iyah (qauliyah), perintah Allah dalam wahyu-Nya. Keduanya mengajarkan satu hakikat yang sama: agar manusia kembali beriman dan bertakwa kepada Allah ﷻ.
Ketika bulan tertutup dalam gerhana, kita diingatkan bahwa alam seluruhnya tunduk kepada ketentuan Allah. Dan ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada perintah-Nya.
Semoga puasa yang kita lakukan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa perubahan. Melainkan menjadi sarana transformasi jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana alam yang tunduk dalam keteraturan-Nya.aamiin ya rabbal alamin.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah Shalat Gerhana Bulan:
Gerhana Bulan : Kebesaran Allah dan
Oleh:
Majelis Dakwah Pusat
14 Ramadhan 1447/3 Maret 2026
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang mengatur langit dan bumi dengan hikmah dan ketetapan-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, dan Dia pula yang menundukkan matahari dan bulan sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Di tengah-tengah Bulan Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi hidup dalam hati, tercermin dalam sikap, dan nyata dalam perjuangan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Gerhana yang dimuliakan Allah
Gerhana bulan adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah ﷻ berfirman:
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥
“Sesungguhnya matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna بِحُسْبَانٍ adalah bi hisābin muqaddar — berjalan dengan perhitungan yang tepat dan ketentuan yang teratur. Artinya: Matahari dan bulan beredar sesuai orbit yang telah Allah tetapkan. Tidak maju dan tidak mundur dari ketentuan-Nya. Peredarannya sekaligus menjadi dasar perhitungan waktu, hari, bulan, dan tahun.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada yang terjadi secara acak.
Gerhana bukanlah kekacauan kosmik. Ia terjadi dalam sistem “بِحُسْبَانٍ” (perhitungan Allah). Bahkan ketika bulan tampak gelap, itu tetap dalam ketetapan-Nya.
Maka fenomena alam harus menguatkan tauhid, bukan sekadar kekaguman ilmiah semata.
Sebagaimana matahari dan bulan tunduk, demikian pula manusia seharusnya tunduk dalam ibadah, terutama di bulan Ramadhan—bulan tarbiyah ketakwaan ini.
Jika alam saja tidak pernah melanggar ketentuan Allah , maka bagaimana mungkin manusia beriman masih enggan untuk taat kepadaNya?
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: Dari Ibnu Mas’ud Al Anshori ra,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena langit, bukan pula diakibatkan kematian dan kelahiran seseorang, tetapi momentum muhasabah. Islam mengajarkan kita agar fenomena alam tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi berlanjut pada kesadaran spiritual dan perubahan sikap.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana memberi pelajaran besar bagi umat manusia, bahwa pemasalahan dalam kehidupan tidak akan selamanya menghampiri. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali bersinar.
Inilah sunnatullah. Ujian berat yang menimpa kehidupan kita sehari-hari, umat yang masih lemah dan ketaatan yang kurang, Jamaah yang belum di kenal—ibarat bulan yang tertutup gerhana. Ia tidak akan selamanya gelap. Cahaya itu akan kembali, dengan izin Allah.
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di bumi para nabi, di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka terus dalam incaran pembunuhan Zionis Yahudi, rasa dingin yang menyengat di tenda-tenda mereka, makanan dan minuman yang terbatas, akses yang sulit, mengharuskan kita peduli kepada penderitaan mereka. Kita yakin: setelah kegelapan, selalu ada cahaya.
Bukankah Rasulullah ﷺ pun diuji dalam Perang Uhud hingga beliau terluka dan berdarah? Namun dari ujian itu lahir generasi yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad dan bersabar di antara kalian?” (QS. Ali Imran: 142)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana akan berlalu dengan sendirinya karena itu hukum Allah atas alam. Namun kegelapan umat tidak akan berlalu tanpa sebab. Ada beberapa syaratnya yang harus kita upayakan bersama dalam mengatasi permasalah umat:
Pertama, Kembali kepada Allah, tidak mungkin kemenangan turun kepada umat yang jauh dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk perbaiki diri, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah , berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melaksanakan sunah-sunahnya dengan meningkatkan amalan-amalan soleh kita di bulan Ramadhan.
Kedua, Husnuzan kepada Allah, meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak sesuai waktu yang kita inginkan.
Dengan berjamah, perolongan akan Allah turunkan,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama Al-Jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Berjamaah dan Tidak Berpecah, Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Rahmat Allah bersama Al-Jama’ah, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan umat Islam. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan jangan berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الجماعةُ رحمةٌ، والفُرقةُ عذابٌ
“Al-Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu azab.” (HR. Al-Tabarani dan Al-Baihaqi)
Maka, mari kuatkan Al Jama’ah ini dengan peran kita semua, jaga silaturahmi dan ukhuwah diantara kita, jangan sampai kita berpecah kembali setelah berada di dalam al-Jama’ah, apadahal Allah telah menyatukan hati-hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
Bersatunya hati adalah murni karunia Allah, bukan karena kepentingan dunia, atau kekuatan materi, apalagi politik.
Harta sebanyak apa pun tidak mampu menyatukan hati jika Allah tidak menghendaki.
Keempat, beramal saleh
…فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“..Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Allah tidak menghendaki umatnya shaleh pribadi, tetapi tidak mau bersedekah, tidak memperdulikan lingkungannya, tidak membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, janda dan orang-orang yang terzalimi, sebagaimana muslimin di Palestina.
Allah menghendaki umat Islam senantiasa peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikat kebajikan bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi pada isi dan tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ۚ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana yang kita saksikan adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di langit. Adapun Ramadhan yang kita jalani adalah ayat syar’iyah (qauliyah), perintah Allah dalam wahyu-Nya. Keduanya mengajarkan satu hakikat yang sama: agar manusia kembali beriman dan bertakwa kepada Allah ﷻ.
Ketika bulan tertutup dalam gerhana, kita diingatkan bahwa alam seluruhnya tunduk kepada ketentuan Allah. Dan ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada perintah-Nya.
Semoga puasa yang kita lakukan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa perubahan. Melainkan menjadi sarana transformasi jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana alam yang tunduk dalam keteraturan-Nya.aamiin ya rabbal alamin.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah Shalat Gerhana Bulan:
Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan
Oleh:
Majelis Dakwah Pusat
14 Ramadhan 1447/3 Maret 2026
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang mengatur langit dan bumi dengan hikmah dan ketetapan-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, dan Dia pula yang menundukkan matahari dan bulan sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Di tengah-tengah Bulan Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi hidup dalam hati, tercermin dalam sikap, dan nyata dalam perjuangan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Gerhana yang dimuliakan Allah
Gerhana bulan adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah ﷻ berfirman:
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥
“Sesungguhnya matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna بِحُسْبَانٍ adalah bi hisābin muqaddar — berjalan dengan perhitungan yang tepat dan ketentuan yang teratur. Artinya: Matahari dan bulan beredar sesuai orbit yang telah Allah tetapkan. Tidak maju dan tidak mundur dari ketentuan-Nya. Peredarannya sekaligus menjadi dasar perhitungan waktu, hari, bulan, dan tahun.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada yang terjadi secara acak.
Gerhana bukanlah kekacauan kosmik. Ia terjadi dalam sistem “بِحُسْبَانٍ” (perhitungan Allah). Bahkan ketika bulan tampak gelap, itu tetap dalam ketetapan-Nya.
Maka fenomena alam harus menguatkan tauhid, bukan sekadar kekaguman ilmiah semata.
Sebagaimana matahari dan bulan tunduk, demikian pula manusia seharusnya tunduk dalam ibadah, terutama di bulan Ramadhan—bulan tarbiyah ketakwaan ini.
Jika alam saja tidak pernah melanggar ketentuan Allah , maka bagaimana mungkin manusia beriman masih enggan untuk taat kepadaNya?
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: Dari Ibnu Mas’ud Al Anshori ra,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena langit, bukan pula diakibatkan kematian dan kelahiran seseorang, tetapi momentum muhasabah. Islam mengajarkan kita agar fenomena alam tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi berlanjut pada kesadaran spiritual dan perubahan sikap.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana memberi pelajaran besar bagi umat manusia, bahwa pemasalahan dalam kehidupan tidak akan selamanya menghampiri. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali bersinar.
Inilah sunnatullah. Ujian berat yang menimpa kehidupan kita sehari-hari, umat yang masih lemah dan ketaatan yang kurang, Jamaah yang belum di kenal—ibarat bulan yang tertutup gerhana. Ia tidak akan selamanya gelap. Cahaya itu akan kembali, dengan izin Allah.
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di bumi para nabi, di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka terus dalam incaran pembunuhan Zionis Yahudi, rasa dingin yang menyengat di tenda-tenda mereka, makanan dan minuman yang terbatas, akses yang sulit, mengharuskan kita peduli kepada penderitaan mereka. Kita yakin: setelah kegelapan, selalu ada cahaya.
Bukankah Rasulullah ﷺ pun diuji dalam Perang Uhud hingga beliau terluka dan berdarah? Namun dari ujian itu lahir generasi yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad dan bersabar di antara kalian?” (QS. Ali Imran: 142)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana akan berlalu dengan sendirinya karena itu hukum Allah atas alam. Namun kegelapan umat tidak akan berlalu tanpa sebab. Ada beberapa syaratnya yang harus kita upayakan bersama dalam mengatasi permasalah umat:
Pertama, Kembali kepada Allah, tidak mungkin kemenangan turun kepada umat yang jauh dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk perbaiki diri, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah , berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melaksanakan sunah-sunahnya dengan meningkatkan amalan-amalan soleh kita di bulan Ramadhan.
Kedua, Husnuzan kepada Allah, meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak sesuai waktu yang kita inginkan.
Dengan berjamah, perolongan akan Allah turunkan,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama Al-Jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Berjamaah dan Tidak Berpecah, Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Rahmat Allah bersama Al-Jama’ah, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan umat Islam. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan jangan berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الجماعةُ رحمةٌ، والفُرقةُ عذابٌ
“Al-Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu azab.” (HR. Al-Tabarani dan Al-Baihaqi)
Maka, mari kuatkan Al Jama’ah ini dengan peran kita semua, jaga silaturahmi dan ukhuwah diantara kita, jangan sampai kita berpecah kembali setelah berada di dalam al-Jama’ah, apadahal Allah telah menyatukan hati-hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
Bersatunya hati adalah murni karunia Allah, bukan karena kepentingan dunia, atau kekuatan materi, apalagi politik.
Harta sebanyak apa pun tidak mampu menyatukan hati jika Allah tidak menghendaki.
Keempat, beramal saleh
…فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“..Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Allah tidak menghendaki umatnya shaleh pribadi, tetapi tidak mau bersedekah, tidak memperdulikan lingkungannya, tidak membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, janda dan orang-orang yang terzalimi, sebagaimana muslimin di Palestina.
Allah menghendaki umat Islam senantiasa peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikat kebajikan bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi pada isi dan tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ۚ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana yang kita saksikan adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di langit. Adapun Ramadhan yang kita jalani adalah ayat syar’iyah (qauliyah), perintah Allah dalam wahyu-Nya. Keduanya mengajarkan satu hakikat yang sama: agar manusia kembali beriman dan bertakwa kepada Allah ﷻ.
Ketika bulan tertutup dalam gerhana, kita diingatkan bahwa alam seluruhnya tunduk kepada ketentuan Allah. Dan ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada perintah-Nya.
Semoga puasa yang kita lakukan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa perubahan. Melainkan menjadi sarana transformasi jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana alam yang tunduk dalam keteraturan-Nya.aamiin ya rabbal alamin.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah Shalat Gerhana Bulan:
Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan
Oleh:
Majelis Dakwah Pusat
14 Ramadhan 1447/3 Maret 2026
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang mengatur langit dan bumi dengan hikmah dan ketetapan-Nya. Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, dan Dia pula yang menundukkan matahari dan bulan sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Di tengah-tengah Bulan Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi hidup dalam hati, tercermin dalam sikap, dan nyata dalam perjuangan.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Gerhana yang dimuliakan Allah
Gerhana bulan adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah ﷻ berfirman:
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥
“Sesungguhnya matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna بِحُسْبَانٍ adalah bi hisābin muqaddar — berjalan dengan perhitungan yang tepat dan ketentuan yang teratur. Artinya: Matahari dan bulan beredar sesuai orbit yang telah Allah tetapkan. Tidak maju dan tidak mundur dari ketentuan-Nya. Peredarannya sekaligus menjadi dasar perhitungan waktu, hari, bulan, dan tahun.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada yang terjadi secara acak.
Gerhana bukanlah kekacauan kosmik. Ia terjadi dalam sistem “بِحُسْبَانٍ” (perhitungan Allah). Bahkan ketika bulan tampak gelap, itu tetap dalam ketetapan-Nya.
Maka fenomena alam harus menguatkan tauhid, bukan sekadar kekaguman ilmiah semata.
Sebagaimana matahari dan bulan tunduk, demikian pula manusia seharusnya tunduk dalam ibadah, terutama di bulan Ramadhan—bulan tarbiyah ketakwaan ini.
Jika alam saja tidak pernah melanggar ketentuan Allah , maka bagaimana mungkin manusia beriman masih enggan untuk taat kepadaNya?
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim: Dari Ibnu Mas’ud Al Anshori ra,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena langit, bukan pula diakibatkan kematian dan kelahiran seseorang, tetapi momentum muhasabah. Islam mengajarkan kita agar fenomena alam tidak berhenti pada kekaguman visual, tetapi berlanjut pada kesadaran spiritual dan perubahan sikap.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana memberi pelajaran besar bagi umat manusia, bahwa pemasalahan dalam kehidupan tidak akan selamanya menghampiri. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali bersinar.
Inilah sunnatullah. Ujian berat yang menimpa kehidupan kita sehari-hari, umat yang masih lemah dan ketaatan yang kurang, Jamaah yang belum di kenal—ibarat bulan yang tertutup gerhana. Ia tidak akan selamanya gelap. Cahaya itu akan kembali, dengan izin Allah.
Hari ini kita juga menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, di bumi para nabi, di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mereka terus dalam incaran pembunuhan Zionis Yahudi, rasa dingin yang menyengat di tenda-tenda mereka, makanan dan minuman yang terbatas, akses yang sulit, mengharuskan kita peduli kepada penderitaan mereka. Kita yakin: setelah kegelapan, selalu ada cahaya.
Bukankah Rasulullah ﷺ pun diuji dalam Perang Uhud hingga beliau terluka dan berdarah? Namun dari ujian itu lahir generasi yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah siapa yang berjihad dan bersabar di antara kalian?” (QS. Ali Imran: 142)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana akan berlalu dengan sendirinya karena itu hukum Allah atas alam. Namun kegelapan umat tidak akan berlalu tanpa sebab. Ada beberapa syaratnya yang harus kita upayakan bersama dalam mengatasi permasalah umat:
Pertama, Kembali kepada Allah, tidak mungkin kemenangan turun kepada umat yang jauh dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bulan Ramadhan ini menjadi momen untuk perbaiki diri, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah , berinteraksi dengan Al-Qur’an dan melaksanakan sunah-sunahnya dengan meningkatkan amalan-amalan soleh kita di bulan Ramadhan.
Kedua, Husnuzan kepada Allah, meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak sesuai waktu yang kita inginkan.
Dengan berjamah, perolongan akan Allah turunkan,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama Al-Jama’ah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, Berjamaah dan Tidak Berpecah, Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Rahmat Allah bersama Al-Jama’ah, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan umat Islam. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ …
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan jangan berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الجماعةُ رحمةٌ، والفُرقةُ عذابٌ
“Al-Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu azab.” (HR. Al-Tabarani dan Al-Baihaqi)
Maka, mari kuatkan Al Jama’ah ini dengan peran kita semua, jaga silaturahmi dan ukhuwah diantara kita, jangan sampai kita berpecah kembali setelah berada di dalam al-Jama’ah, apadahal Allah telah menyatukan hati-hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)
Bersatunya hati adalah murni karunia Allah, bukan karena kepentingan dunia, atau kekuatan materi, apalagi politik.
Harta sebanyak apa pun tidak mampu menyatukan hati jika Allah tidak menghendaki.
Keempat, beramal saleh
…فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا.
“..Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
Allah tidak menghendaki umatnya shaleh pribadi, tetapi tidak mau bersedekah, tidak memperdulikan lingkungannya, tidak membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, janda dan orang-orang yang terzalimi, sebagaimana muslimin di Palestina.
Allah menghendaki umat Islam senantiasa peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikat kebajikan bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi pada isi dan tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menebar manfaat bagi sesama.
Allah berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ۚ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Gerhana yang kita saksikan adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah di langit. Adapun Ramadhan yang kita jalani adalah ayat syar’iyah (qauliyah), perintah Allah dalam wahyu-Nya. Keduanya mengajarkan satu hakikat yang sama: agar manusia kembali beriman dan bertakwa kepada Allah ﷻ.
Ketika bulan tertutup dalam gerhana, kita diingatkan bahwa alam seluruhnya tunduk kepada ketentuan Allah. Dan ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada perintah-Nya.
Semoga puasa yang kita lakukan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa perubahan. Melainkan menjadi sarana transformasi jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana alam yang tunduk dalam keteraturan-Nya.aamiin ya rabbal alamin.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
















Mina Indonesia
Mina Arabic