Khutbah I’ed Imaamul Muslimin : Syariat Haji Bermuara pada Kesatuan dan Kebersamaan

Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur saat Khutbah Iedul Adha di Lapangan Gaza Komplek Ponpes Al-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, Jumat, (1/9). Photo : Hadis/MINA.

 

Bandar Lampung, MINA – Seluruh syariat yang dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji bermuara kepada pentingnya kesatuan dan kebersamaan, demikian Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur dalam Khutbah Iedul Adha di hadapan jamaah shalat I’ed yang digelar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung di Lapangan Gaza Komplek Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, Jumat, (1/9).

“Ibadah haji dimulai dengan menggunakan pakaian ihram putih dengan menanggalkan pakaian yang bedakan status sosial, ekonomi, dan profesi agar pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian dapat ditanggalkan sehingga semua merasakan dalam satu kesatuan dan persamaan,” katanya.

Kedua, dari berbagai penjuru, para hujjaj datang mengunjungi satu titik yang sama dan melakukan bentuk peribadatan berupa thawaf dengan aktifitas yang sama. Hal ini mengingatkan agar setiap muslim memiliki tujuan hidup yang sama dan dalam setiap melakukan aktifitas selalu mengedepankan persamaan dan menghindarkan perbedaan.

Lebih lanjut, Yakhsyallah mengemukakan ritual ibadah berikutnya yakni, Thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia yang lain, serta memberi nuansa kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni mendekatkan diri (Taqarrub) kepada Allah.

Kemudian Sa’i yang arti harfiahnya usaha, dimulai dari bukit Shafa yang berarti kesucian dan ketegaran dan diakhiri di Marwa yang berarti ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Inilah nilai-nilai kehidupan yang apabila diterapkan akan mewujudkan kesatuan dan kebersamaan.

“Lantas, di Arafah, padang yang luas lagi gersang, seluruh jamaah haji wuquf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sinilah seharusnya setiap pribadi menemukan ma’rifah (pengetahuan) tentang jatidirinya bahwa mereka masing-masing adalah bagian dari satu umat yang tidak dapat dipisahkan dalam segala situasi dan kondisi bahkan dalam saat yang paling menderita sekalipun seperti kondisi di padang Mahsyar,” ujarnya.

Berlanjut ke Mudzdalifah untuk mengumpulkan batu di malam hari dalam rangka melempar jumrah di Mina. Kemudian di Mina melemparkan batu pada titik yang sama secara bersama-sama pada waktu yang sama dengan cara yang sama.

“Batu dikumpulkan di tengah malam sebagai lambang bahwa musuh tidak boleh mengetahui siasat dan senjata kita. Melempar batu pada titik yang sama secara bersama-sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama merupakan pengajaran bahwa umat Islam dalam menghadapi musuh, mereka harus bekerja sama. Apabila mereka menghadapi musuh sendiri-sendiri bahkan saling berselisih, jangan diharap mereka dapat menang,” katanya.

Pantauan wartawan MINA di lokasi pelaksanaan Sholat I’ed yang digelar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung tersebut, sekitar seribu lebih jamaah yang terdiri dari santri, anak-anak, dewasa, orang tua memadati lapangan menunaikan Shalat I’ed.(L/B01/P1).

Mi’raj News Agency (MINA).