JUMAT ini masih dalam suasana bulan Sya’ban, menjelang kehadiran bulan suci Ramadhan, tema Khutbah Jumat kali ini Adalah “Keutamaan Bulan Sya’ban, Jalan Menuju Cahaya Ramadhan”, yang ditulis oleh Ali Farkhan Tsani, wartawan Kantor Berita MINA, yang juga Duta Al-Quds.
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ وَعَلٰى نِعَمِهِ فِي شَهْرِالشَّعْبَانِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.
أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ, وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Alhamdulillahi, segala puji hanya bagi Allah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya, yang telah Allah curahkan kepada kita.
Shalawat teriring salam marilah senantiasa kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarganya, para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia menegakkan sunnahnya hingga akhir jaman.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial
Selanjutnya, khatib menyampaikan wasiat untuk dirinya dan keluarganya, serta hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah agar kita hidup bahagia, selamat dan sejahtera, di dunia hingga di akhirat kelak.
Takwa merupakan bekal terbaik kita untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti Allah sebutkan di dalam firman-Nya :
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya : “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197).
Baca Juga: Khutbah Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan Ketaqwaan Manusia
Hadirin yang dimuliakan Allah
Kita masih berada di bulan Sya’ban, sebuah bulan yang tenang namun sarat makna, berdiri tepat sebelum datangnya tamu agung bernama Ramadhan. Ia bukan sekadar penanda waktu, melainkan bulan persiapan, bulan pemurnian jiwa, bulan ketika hati diajak bersiap menyambut limpahan rahmat dan ampunan Allah.
Kata Sya’ban berasal dari syi‘ab, yang bermakna jalan setapak menuju puncak, jalan mendaki yang tidak selalu mudah, tetapi menjanjikan pemandangan yang indah di atasnya. Maka Sya’ban adalah jalur pendakian ruhani yang Allah hamparkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, agar mereka tidak memasuki Ramadhan dengan jiwa yang kaget, lelah, atau kosong.
Di bulan inilah kita mulai melatih diri, menata langkah, dan menguatkan napas ibadah. Sedikit demi sedikit kita membiasakan puasa sunah, seperti Senin dan Kamis. Kita memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berdzikir dan bershalawat, menumbuhkan kebaikan, meringankan beban sesama, memperluas infak di jalan Allah, serta menguatkan kepedulian dan solidaritas, khususnya terhadap perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsa, Baitul Maqdis dan kemerdekaan Palestina.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Hubungan Puasa Ramadhan dan Jihad Pembebasan Al-Aqsa
Sya’ban mengajari kita bahwa Ramadhan bukan tujuan yang bisa dicapai dengan tergesa, melainkan puncak yang harus disiapkan dengan kesungguhan.
Keutamaan bulan Sya’ban banyak diterangkan dalam hadits Nabi ﷺ dan penjelasan para ulama. Di antaranya bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
“Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa sebanyak di bulan Sya’ban.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Itulah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan semesta alam. Dan aku ingin ketika amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Sya’ban adalah bulan yang kerap terlewat, tenggelam di antara dua bulan besar. Namun justru di bulan yang sunyi inilah, amal-amal kita dinaikkan ke hadapan Allah. Betapa indah jika catatan amal itu terangkat dalam keadaan kita dekat dengan-Nya, dalam ibadah, dalam kesungguhan, dan dalam puasa.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Tazkiyatun Nafs
Hadirin yang dimuliakan Allah
Bulan Sya’ban juga adalah sebagai bulan penuh keberkahan. Sya’ban adalah salah satu bulan yang secara khusus didoakan keberkahannya oleh Rasulullah ﷺ, sebagaimana Rajab dan Ramadhan.
Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Taqwa
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad).
Doa ini bukan sekadar permohonan umur panjang, melainkan harapan agar kita diberi kesiapan ruhani, kesehatan, dan kekuatan iman untuk bertemu Ramadhan dengan hati yang hidup.
Selanjutnya, bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur’an. Sebagian ulama menyebut Sya’ban sebagai Syahrul Qurra’, bulan para pembaca Al-Qur’an. Adapun Ramadhan disebut Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Karena itu, orang-orang shalih terdahulu memiliki kebiasaan mulia. Di bulan Sya’ban dan Ramadhan, sebagian dari mereka menutup toko-toko dagangannya. Bukan karena cinta dunia telah mati, tetapi karena cinta kepada Al-Qur’an telah mengalahkan segalanya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Ramadhan
Mereka ingin lebih khusyuk, lebih lapang waktu untuk membaca, mengkaji, dan merenungi ayat-ayat Allah. Sya’ban menjadi latihan, agar saat Ramadhan tiba, lisan telah terbiasa dengan tilawah dan hati telah akrab dengan cahaya wahyu.
Maka, jangan sia-siakan bulan Sya’ban. Ia adalah undangan lembut dari Allah, agar kita mendaki dengan tenang, membersihkan langkah, dan menyiapkan jiwa, sebelum akhirnya sampai di puncak Ramadhan, dengan hati yang siap menerima cahaya.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic