Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Hijrah Membangun Peradaban   

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 18 Juni 2026 - 17:30 WIB

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:30 WIB

238 Views ㅤ

Hijrah itu bukan sekedar berpindah tempat, tapi jauh lebih penting adalah hijrah hati dan diri (foto: ig)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Hijrah Membangun Peradaban.

Hijrah Rasulullah ﷺ bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, melainkan titik awal lahirnya sebuah peradaban baru. Sebelum hijrah, masyarakat Arab hidup dalam berbagai bentuk jahiliyah, seperti penyembahan berhala, perpecahan dan peperangan antarsuku, ketidakadilan, dan kerusakan moral.

Namun setelah hijrah, Rasulullah ﷺ membangun masyarakat yang berlandaskan wahyu Allah, sehingga Yatsrib berubah menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah, kota yang diterangi iman, ilmu, persaudaraan, dan keadilan. Dari kota inilah lahir peradaban Islam yang kemudian menerangi dunia.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Keberhasilan hijrah tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Ada beberapa kunci sukses hijrah Rasulullah ﷺ yang patut menjadi pelajaran bagi umat Islam sepanjang zaman.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji bagi Allah  yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam kepada kita serta mempertemukan kita kembali dengan bulan Muharam, bulan yang mulia dan menjadi awal tahun Hijriah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah . Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dan meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah [9]: 20, yang berbunyi:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ (التوبة (٩): ٢٠)

“Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, mereka itulah yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Ayat ini menjelaskan bahwa keberhasilan hijrah Rasulullah ﷺ bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi secara kebetulan, melainkan buah dari keimanan yang kokoh, pengorbanan yang tulus, dan perjuangan yang sungguh-sungguh.

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah  menyebut tiga sebab utama kemenangan kaum mukminin, yaitu iman, hijrah, dan jihad dengan harta serta jiwa. Dari tiga fondasi inilah Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhasil membangun masyarakat baru di Madinah, yang kemudian berkembang menjadi peradaban Islam yang menerangi dunia.

Adapun Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa firman Allah  ﴿اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ﴾  menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan harta, jabatan, keturunan, atau kedudukan duniawi, melainkan dengan kadar iman, pengorbanan, dan perjuangan seorang hamba di jalan Allah .

Karena itu, ketika kita memasuki datangnya bulan Muharam dan tahun baru Hijriah, yang perlu kita renungkan bukan hanya perpindahan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, melainkan makna besar yang terkandung di balik hijrah tersebut.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Hijrah Rasulullah ﷺ bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, melainkan titik awal lahirnya sebuah peradaban baru. Sebelum hijrah, masyarakat Arab hidup dalam berbagai bentuk jahiliyah, seperti penyembahan berhala, perpecahan dan peperangan antarsuku, ketidakadilan, dan kerusakan moral. Namun setelah hijrah, Rasulullah ﷺ membangun masyarakat yang berlandaskan wahyu Allah, sehingga Yatsrib berubah menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah, kota yang diterangi iman, ilmu, persaudaraan, dan keadilan. Dari kota inilah lahir peradaban Islam yang kemudian menerangi dunia.

Keberhasilan hijrah tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Ada beberapa kunci sukses hijrah Rasulullah ﷺ yang patut menjadi pelajaran bagi umat Islam sepanjang zaman.

Pertama, Rasulullah ﷺ menunggu perintah Allah. Ini mengajarkan bahwa setiap pelaksanaan syariat ataupun perjuangan harus berlandaskan wahyu dan ketakwaan, bukan hawa nafsu.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Kedua, beliau memilih sahabat yang terpercaya, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang amanah, jujur, dan siap berkorban.

Ketiga, beliau menjaga rahasia dan menyusun strategi dengan matang. Rasulullah ﷺ menjaga rahasia keberangkatan, memilih waktu, jalur perjalanan, dan sistem informasi yang tepat. Ini mengajarkan bahwa tawakal harus disertai perencanaan dan ikhtiar yang maksimal.

Keempat, Rasulullah ﷺ dan para sahabat berkorban demi mempertahankan agama Allah. Tidak ada perubahan besar tanpa pengorbanan. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. telah mempersiapkan dua ekor untanya yang telah dirawat selama beberapa bulan untuk perjalanan hijrah dan mengerahkan hartanya (5000 driham atau 595 juta rupiah) untuk mendukung perjuangan Islam. Sementara Rasulullah ﷺ membeli unta yang dihadiahkan Abu Bakar seharga 400 dirham atau 47 juta rupiah).

Kelima, Rasulullah ﷺ menerapkan pembagian tugas yang jelas. Setiap orang menjalankan perannya masing-masing sehingga seluruh proses hijrah berjalan dengan baik. Abu Bakar mendampingi perjalanan Rasulullah ﷺ, Asma’ menyiapkan logistic dan mengumpulkan informasi, Ali bin Abi Thalib ra. tidur di tempat Rasulullah ﷺ untuk mengelabui kaum Quraisy, dan Abdullah bin Uraiqith bertugas sebagai penunjuk jalan. Dengan kerja sama, pembagian tugas, dan kepemimpinan yang baik inilah proses hijrah berjalan dengan aman dan sukses.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ bukan membangun benteng pertahanan dan bukan pula memperluas wilayah kekuasaan. Beliau terlebih dahulu membangun fondasi peradaban.

Beliau membangun masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat. Beliau juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sehingga hilang sekat-sekat kesukuan, kepentingan pribadi, dan fanatisme golongan. Bahkan suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya bertahun-tahun terlibat peperangan berhasil dipersatukan dalam ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah.

Beliau membangun masyarakat yang berdiri di atas aqidah yang sama, tujuan yang sama, dan pedoman hidup yang sama. Persatuan dan persaudaraan itulah yang menjadi fondasi utama Peradaban Madinah. Dengan persatuan, kaum muslimin mampu menegakkan keadilan, memperkuat perekonomian, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan melahirkan generasi terbaik yang memimpin dunia. Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا) متفق عليه

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (Muttafaq ‘Alaih).

Kemudian Rasulullah ﷺ menjalin jari-jemari beliau sebagai gambaran kokohnya persatuan kaum mukminin.

Selain membangun persatuan internal umat Islam, Rasulullah ﷺ juga membangun tata kehidupan masyarakat yang adil dan harmonis melalui Piagam Madinah. Di bidang pendidikan, beliau mendirikan Ash-Shuffah di serambi masjid sebagai pusat pembinaan ilmu dan kaderisasi para sahabat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari fondasi tauhid, ilmu, persatuan, dan kehidupan berjamaah yang dibangun Rasulullah ﷺ di Madinah, lahirlah generasi sahabat yang menjadi pelopor peradaban Islam. Mereka bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga pemimpin, pendidik, panglima, hakim, dan pemimpin yang menyebarkan risalah Islam ke berbagai penjuru dunia, sebagaimana para Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ lainnya.

Di atas fondasi yang kokoh itu kemudian lahir para ulama dan ilmuwan muslim yang mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan kontribusi besar bagi kemajuan peradaban manusia.

Keberhasilan membangun masyarakat yang beriman, berilmu, berakhlak, dan menebarkan kasih sayang dan kemaslahatan inilah yang mengantarkan umat Islam memperoleh pengakuan langsung dari Allah  sebagai khaira ummah, umat terbaik.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ)آل عمران (٣): ١١٠

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Karena itu, hijrah tidak cukup dimaknai sebatas simbol dan penampilan semata. Hijrah yang hakiki adalah perubahan menuju kehidupan yang lebih baik; dari kebodohan menuju ilmu, dari perpecahan menuju persatuan, dan dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan umat.

Semoga Allah  menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu meneladani hijrah Rasulullah ﷺ dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang berlandaskan iman, ilmu dan ketaqwaan.

.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat