Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat.
Rizki terbaik adalah riski yang digunakan untuk memperkuat perjuangan. Harta yang digunakan untuk mendukung upaya memajukan pendidikan, dakwah, kegiatan sosial, dan bantuan kemanusiaan. Itu semua akan menjadi investasi akhirat, yang akan menjadi tabungan amal kebaikan di sisi Allah Ta’ala.
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk saling peduli, bekerja sama serta saling membantu dalam urusan-urusan umat. Orang yang berkecukupan membantu yang kekurangan, yang berilmu membimbing yang awam, dan yang memiliki keahlian membantu dan menularkan keahliannya kepada orang lain yang memerlukan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, serta berbagai karunia yang tidak terhitung jumlah dan nilainya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah-sunnah beliau hingga akhir zaman.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam mencari nafkah, menjaga amanah, menyantuni kaum lemah, membangun persaudaraan, dan memperjuangkan tegaknya keadilan.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumuah [62] ayat ke-10 dan 11:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٠) وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (١١) (الجمعة [٦٢]: ١٠ــ١١)
“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. [10] Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan meninggalkan engkau (Muhammad) yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, ‘Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,’ dan Allah pemberi rezeki yang terbaik.”
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan, asbabun nuzul dari ayat di atas adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah Jumat, datanglah rombongan perdagangan sehingga sebagian jamaah meninggalkan beliau.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Ayat di atas sebagai peringatan agar kesibukan mencari keuntungan dunia tidak melalaikan umat dari ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Setelah shalat Jumat selesai, kaum Muslimin diperbolehkan kembali bekerja untuk mencari karunia Allah Ta’ala.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya meninggalkan urusan dunia. Seorang Muslim dapat menjadi pedagang, petani, wartawan, guru, pegawai, pengusaha, atau menjalankan pekerjaan halal lainnya.
Ibadah dan ikhtiar mencari nafkah bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan beriringan.
Penyebutan kalimat مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَابْتَغُوا (carilah karunia Allah) mengingatkan kepada kita semua, bahwa Allah lah pemilik kanuria (rizki).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Islam mengajarkan keseimbangan antara produktivitas dan spiritualitas. Manusia hendaknya bekerja dengan maksimal, tanpa kehilangan orientasi ibadah kepada-Nya.
Allah Ta’ala menutup ayat di atas dengan وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ, (Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki), maksudnya, Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengatur dan Memberi Rizki hamba-hamba-Nya.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ (رواه مسلم)
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meski pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa-apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR Muslim)
Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan hadis di atas, bahwa mukmin yang kuat, yakni dalam hal iman, ilmu, mental, keterampilan, kesehatan, serta kesanggupan menunaikan tanggung jawab, itu lebih dicintai Allah Ta’ala daripada mukmin yang tidak memiliki kemampuan di atas.
Relevansinya dalam kehidupan zaman sekarang, seorang Muslim hendaknya meningkatkan kompetensi, belajar keterampilan (skill), merintis dan membangun usaha yang halal, menjaga kepercayaan, serta mengembangkan segala hal yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Jangan mudah menyerah menghadapi kesulitan, jangan berhenti belajar ketika berubah keadaan, dan jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Seperti apa rizki yang terbaik itu? Rizki terbaik adalah apa-apa diperoleh melalui jalan yang halal, tidak melanggar larangan Allah Ta’ala, seperti: kecurangan, korupsi, riba, manipulasi, atau mengambil hak orang lain.
Harta yang halal akan membawa keberkahan. Berkah tidak selalu identik dengan jumlah yang besar, tetapi harta yang membawa kebaikan, meski hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Penghasilan yang sedikit dapat menjadi berkah ketika seseorang mampu menjaga kehormatan, serta memudahkannya dalam beribadah dengan tenang.
Sebaliknya, penghasilan besar bisa kehilangan maknanya, apabila mendatangkan kerusakan bagi maasyarakat, permusuhan, kesombongan, atau lalai dan abai terhadap kewajiban.
Ukuran keberkahan tidak pada berapa banyak uang yang kita simpan, tetapi juga diukur dari berapa banyak harta kita dalam memberi manfaat dan kebaikan kepada sesama.
Rizki terbaik adalah riski yang digunakan untuk memperkuat perjuangan. Harta yang digunakan untuk mendukung upaya memajukan pendidikan, dakwah, kegiatan sosial, dan bantuan kemanusiaan. Itu semua akan menjadi investasi akhirat, yang akan menjadi tabungan amal kebaikan di sisi Allah Ta’ala.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk saling peduli, bekerja sama serta saling membantu dalam urusan-urusan umat. Orang yang berkecukupan membantu yang kekurangan, yang berilmu membimbing yang awam, dan yang memiliki keahlian membantu dan menularkan keahliannya kepada orang lain yang memerlukan.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Bagaimana cara menjemput rizki terbaik?
Pertama, luruskan niat dalam mencari rizki. Niatkan ketika memulia pekerjaan dan dan membangun usaha sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, bukan untuk mengejar kekayaan dan kemewahan dunia.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
Berdoalah kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan karunia riski terbaik yang penuh keberkahan dan kebermanfaatan.
Kedua, jangan sampai kesibukan mencari rezeki melalaikan kita dari perintah Allah Ta’ala. Jagalah shalat lima waktu, tunaikan shalat Jumat tepat waktu, dengan datang sebelum khatib naik mimbar, perbanyak taubat dan istighfar dan setiap langkah dalam ikhtiyar.
Ketiga, hindari cara-cara haram, seperti menipu, korupsi, riba, kecurangan, serta segala bentuk kedzaliman dalam bekerja. Harta yang haram hanya akan membuat gelisan dan sengsara, baik saat hidup di dunia, terlebih nanti di akhirat akan mendapat siksa.
Keempat, terus tingkatkan kemampuan diri dan bersungguh-sungguh dalam ikhtiyar. Pelajari keterampilan baru, bangun hubungan baik dengan orang lain, manfaatkan teknologi secara bijaksana, dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Kelima, iringi usaha dengan tawakal. Kerahkan kemampuan terbaik, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala. Seorang Muslim harus yakin bahwa Allah lah yang Maha Pemberi Rezeki, sementara manusia berkewajiban berusaha melalui cara-cara yang diridhai-Nya.
Keenam, tunaikan hak orang lain. Bayarlah utang dan upah pekerja tepat waktu, perbanyak sedekah dan kelola harta dengan bijaksana.
Semoga Allah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita rizki terbaik, yakni yang halal, thayib, luas, dan penuh keberkahan. Aamiin ya Rabbal Alamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً ، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic