SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:57 WIB

145 Views ㅤ

Masjid Jami tempat Shalat Jumat (foto: Fpik)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian.

Menepati janji kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dengan kesungguhan menolong agama-Nya, menegakkan kebenaran, menjalankan syariat, menjaga keadilan, dan memperjuangkan kebaikan.

Berjanji kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, menjaga kehormatan risalahnya, serta meneruskan perjuangan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Khutbah selengkapnya bisa disimak berikut ini:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 

Khutbah ke-1:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang dengan kasih sayang dan rahmat-Nya membimbing hamba-hamba-Nya dengan cahaya Islam dan iman menuju kebahagiaan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta seluruh orang yang istiqamah mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah  dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di antara wujud ketakwaan seorang mukmin adalah menjaga komitmen kepada Allah, menepati janji, memegang teguh amanah, serta setia dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 91, Allah  berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (النحل: ٩١(

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah-sumpah setelah meneguhkannya, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai penjamin atas sumpah-sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Merujuk pada Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, ayat ini turun berkaitan dengan baiat (janji setia) kaum Muslimin kepada Nabi Muhammad ﷺ yang dilakukan oleh orang-orang yang baru masuk Islam di Makkah. Allah  memerintahkan kepada umat Islam untuk menepati janji, ikrar, serta memelihara sumpah yang telah dikukuhkannya. Dan Allah  melarang keras mereka membatalkan komitmen tersebut hanya karena silau melihat jumlah kaum musyrikin yang saat itu jauh lebih banyak, kuat, dan kaya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Dalam Ad-Durr al-Mantsur, Imam As-Suyuthi menukil penjelasan Sa‘id bin Jubair bahwa larangan membatalkan sumpah setelah diteguhkan mencakup larangan merusak perjanjian yang telah dikuatkan, sementara Allah  telah dijadikan sebagai saksi dan penjamin.

Kata الْعَهْدُ (al-‘ahd) berarti janji, ikatan, perjanjian, atau komitmen yang mengikat seseorang untuk melaksanakan sesuatu yang telah disepakati. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menganggap ringan sebuah janji. Ketika Allah  dijadikan sebagai saksi atas sebuah ikrar, maka janji tersebut bukan lagi sekadar hubungan antarmanusia, tetapi menjadi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Janji atau sumpah dalam ayat di atas mencakup dua dimensi baiat yang wajib dijaga oleh setiap muslim:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Pertama, Baiat setelah masuk Islam (Syahadah): Setelah bersyahadah, dilanjutkan berbaiat dan berjanji setia kepada Allah  untuk tunduk, patuh, menjalankan syariat-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, Baiat Mengangkat Pemimpin (Ulil Amri): Janji setia ketaatan kepada pemimpin kaum Muslimin atau Imaamul Muslimin dalam hal yang ma’ruf.

Baiat merupakan komitmen yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Allah  berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ ۚ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa melanggar janji, sesungguhnya dia melanggar atas janji itu sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al-Fath [48]: 10).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa baiat kepada Rasulullah ﷺ pada hakikatnya merupakan baiat dalam ketaatan kepada Allah , karena menaati Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah . Oleh karena itu, orang yang menepati baiat dan janjinya pada hakikatnya sedang menjaga dirinya sendiri, sedangkan orang yang mengingkarinya pada hakikatnya merugikan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan berjamaah, bentuk komitmen tersebut juga berkaitan dengan ketaatan kepada ulil amri dalam perkara yang makruf. Rasulullah ﷺ dalam baiat Aqabah memberikan gambaran tentang beratnya sebuah komitmen. Para sahabat berjanji untuk mendengar dan taat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar, menegakkan kebenaran, serta memberikan pertolongan dan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ. Komitmen tersebut bukan sekadar ucapan, tetapi kesiapan untuk melaksanakan konsekuensinya dengan pengorbanan.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terpilih sebagai khalifah untuk menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin umat, para sahabat membaiat beliau. Begitu juga dengan sahabat sesudahnya, umat Islam membaiat mereka sebagai janji setia untuk mentaati mereka selama mereka mentaati Allah .

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya baiat ini, dalam beberapa sabdanya antara lain:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Barang siapa meninggal sedangkan di lehernya tidak terdapat baiat, maka ia meninggal dalam keadaan seperti kematian jahiliah.”

Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, ‘mati dalam keadaaan jahiliyah’ maknanya adalah مَاتَ مِيتَةً  بِغَيْرِ إِمَامٍ مُطَاعٍ, mati tanpa memiliki Imaam yang ditaati.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Ma‘asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada ayat berikutnya, Allah  kembali mengingatkan agar manusia tidak merusak baiat (perjanjian) yang telah diteguhkan. Allah  memberikan perumpamaan dengan ayat sesudahnya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا ۚ تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا

بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antara kamu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak daripada golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS. An-Nahl [16]: 92).

Menurut para ahli tafsir, turunnya ayat ini bersesuaian dengan seorang wanita Quraisy bernama Raytah/Ritah binti Amr. Ia adalah wanita yang kurang akal (gila). Pekerjaannya setiap hari adalah memintal benang dengan sangat kuat dan rapi dari pagi hingga siang. Namun, di sore hari, ia sendiri yang membongkar dan merusak pintalan tersebut hingga hancur berantakan.

Melalui ayat ini Allah  mengingatkan kepada orang yang sudah mengikrarkan janji, lalu ia berkhianat dan merusak komitmen tersebut hanya demi keuntungan materi atau duniawi, esensinya sama seperti orang gila tersebut. Mereka membangun ketaatan, lalu menghancurkannya sendiri dengan tangan mereka.

Mujahid dan Sa‘id bin Jubair menjelaskan tentang firman Allah, أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ, bahwa seseorang jangan sampai membatalkan perjanjiannya hanya karena melihat pihak lain lebih banyak, lebih kuat, atau lebih menguntungkan. Baiat tidak boleh dijadikan alat untuk mencari keuntungan sesaat. Sebab, menjadikan sumpah dan perjanjian sebagai دَخَلًا  (alat penipu) berarti merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya

Inilah ujian integritas seorang mukmin. Jangan sampai kita membangun komitmen dengan sungguh-sungguh, kemudian melanggarnya ketika datang kepentingan yang lebih besar. Janji adalah amanah di hadapan Allah, dan kesetiaan kepada komitmen merupakan bagian dari ketakwaan.

Ma‘asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Menepati janji kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dengan kesungguhan menolong agama-Nya, menegakkan kebenaran, menjalankan syariat, menjaga keadilan, dan memperjuangkan kebaikan.

Berjanji kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, menjaga kehormatan risalahnya, serta meneruskan perjuangan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Dalam kehidupan bermasyarakat, janji kepada Allah   dan Rasul-Nya juga diwujudkan dengan menaati ulil amri dalam perkara yang makruf. Karena itu, ketika seseorang telah diberikan amanah dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat, hendaknya ia menjaga amanah tersebut, membantu dan memperjuangkannya, serta mengutamakan persatuan dan kemaslahatan bersama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat