Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Hikmah Musibah
Musibah adalah peringatan Allah yang mengajak manusia kembali kepada nilai-nilai ketakwaan dan tanggung jawab menjaga alam. Musibah hendaknya menjadi momen muhasabah: memperbaiki diri, menata ulang hubungan dengan Allah ﷻ, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta menjaga ekosistem yang Allah titipkan sebagai tempat hidup.
Islam sama sekali tidak menolak pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam. Namun Islam menolak bentuk pembangunan yang mengorbankan keselamatan manusia dan merusak keseimbangan alam.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut ini:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Segala puji bagi Allah ﷻ yang menguasai seluruh kejadian di langit dan di bumi. Dialah yang menurunkan berbagai nikmat sebagai ujian syukur, dan menurunkan musibah sebagai ujian kesabaran, agar hati kita kembali kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan akan meneguhkan hati dalam menghadapi setiap musibah, mengajarkan kesabaran, serta mengingatkan kita bahwa di balik setiap ketentuan-Nya selalu terdapat hikmah yang mendekatkan kita kepada-Nya.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ruum [30] ayat 41. Allah berfirman:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الرّوم [٣٠]: ٤١)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini menjelaskan bahwa berbagai musibah, bencana, dan kerusakan yang muncul di darat maupun di laut bukan terjadi tanpa sebab. Menurut Tafsir Jalalain, kerusakan itu muncul akibat kemaksiatan dan perbuatan tangan manusia, sehingga Allah memperlihatkan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka agar mereka kembali kepada-Nya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan ayat di atas, bahwa kaum terdahulu (sebelum Nabi Muhammad ﷺ) telah melakukan kemaksiatan yang menyebabkan rusaknya keseimbangan alam dan tatanan masyarakat. Mereka merasakan musibah berupa kekeringan, wabah penyakit, banjir, dan kerusakan sosial.
Kerusakan terjadi ketika manusia memperturutkan hawa nafsu, melakukan kedzaliman, merusak alam, dan mencampakkan hukum Allah. Maka Allah turunkan bencana agar manusia sadar dan kembali kepada-Nya.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Musibah adalah peringatan Allah yang mengajak manusia kembali kepada nilai-nilai ketakwaan dan tanggung jawab menjaga alam. Musibah hendaknya menjadi momen muhasabah: memperbaiki diri, menata ulang hubungan dengan Allah ﷻ, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta menjaga ekosistem yang Allah titipkan sebagai tempat hidup.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Islam sama sekali tidak menolak pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam. Namun Islam menolak bentuk pembangunan yang mengorbankan keselamatan manusia dan merusak keseimbangan alam. Kaidah Ushul Fikih menyebutkan:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Mencegah kerusakan lebih utama daripada mengejar kemaslahatan”.
Karena itu, jika sebagian pihak menikmati keuntungan berlimpah dari eksploitasi hutan dan sumber daya alam, sementara masyarakat sekitar menanggung bencana, maka jelas terjadi ketidakadilan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Musibah seperti ini bukan hanya peringatan, tetapi ajakan agar manusia kembali kepada nilai amanah, keadilan, dan tanggung jawab bersama.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Musibah yang terjadi menyimpan banyak pelajaran bagi umat Islam, di antaranya:
Pertama: Musibah adalah tarbiyah dan peringatan dari Allah ﷻ.
Musibah bukan datang begitu saja. Ia bukan sekadar fenomena alam atau rangkaian kebetulan. Setiap tetesan hujan, pergeseran tanah, hingga aliran air, semuanya berjalan dalam ketetapan Allah ﷻ sejak azali. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Ibnu Abbas:
اِعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ (رواه ٱلتِرمذي)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
“Ketahuilah, apa yang menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu.” (HR. Tirmidzi)
Ketika seorang mukmin memahami hakikat ini, hatinya menjadi tenang. Ia menerima musibah sebagai bentuk pendidikan dari Allah ﷻ untuk menguatkan jiwa, mendewasakan iman, dan mendekatkan dirinya kepada Allah ﷻ tanpa keluh kesah dan tanpa menyalahkan siapa pun.
Kedua: Musibah mengingatkan manusia akan lemahnya diri.
Kekuatan, teknologi, dan segala perencanaan manusia tidak mampu menolak takdir Allah bila manusia menjauh dari aturan-Nya. Musibah menjadi cermin bahwa di hadapan takdir, manusia sangat kecil dan membutuhkan pertolongan Rabb-nya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
Ketiga: Sebagian musibah terjadi akibat ulah manusia.
Kerusakan ekologis banyak muncul karena tangan-tangan manusia sendiri: hutan ditebang tanpa kendali, sungai kehilangan pelindungnya, tambang dikelola tanpa amanah, dan syariat dalam pengelolaan bumi diabaikan. Ketika moral dan kesadaran spiritual merosot, kerusakan fisik pun menyusul. Inilah yang Allah ﷻ tegaskan dalam QS Ar-Rum: 41 di atas dengan kalimat, لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Agar mereka kembali (ke jalan yang benar”.
Musibah seperti ini adalah alarm langit, panggilan halus agar manusia kembali kepada nilai tauhid, memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ, dan berhenti merusak bumi yang telah lama menopang kehidupan mereka.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
Musibah menurut para ulama memiliki tiga bentuk, yaitu bala’, tazkirah, dan ‘azab.
Musibah yang disebut bala’ adalah ujian yang Allah turunkan kepada hamba-Nya yang beriman untuk mengangkat derajat mereka dan membersihkan dosa-dosa. Dalam jenis musibah ini, kesabaran menjadi penentu, semakin seorang hamba ridha, tabah, dan bersandar kepada Allah, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi-Nya. Karena itulah bala’ justru banyak diberikan kepada para nabi dan orang-orang beriman.
Semakin tinggi iman seseorang, semakin besar pula ujiannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ (رواه ٱلتِرمذي)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka dan yang semisal mereka.” (HR. Tirmidzi)
Adapun musibah yang berfungsi sebagai tazkirah (peringatan) datang agar manusia berhenti dari langkah-langkah keliru, meninggalkan kemaksiatan, dan kembali kepada nilai amanah, kejujuran, serta ketakwaan. Ia berfungsi seperti alarm Ilahi yang membangunkan hati yang sedang lengah.
Sementara itu, musibah yang termasuk ‘azab adalah hukuman yang Allah turunkan kepada orang yang mengingkari kebenaran, bergelimang dalam kerusakan, dan terus-menerus menolak semua peringatan. ‘Azab turun ketika mereka tidak mau bertaubat.
Namun demikian, seorang Muslim tidak boleh tergesa-gesa menilai bahwa setiap bencana adalah ‘azab. Sikap pertama yang harus dilakukan adalah muhasabah diri: memperbaiki amal, memperbanyak istighfar, memperkuat ketaatan, dan kembali merendah di hadapan Allah ﷻ.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Sikap terbaik seorang mukmin dalam menghadapi musibah adalah sabar dan memperbaiki diri.
Kesabaran bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan jiwa yang hanya dimiliki orang-orang beriman. Ketika musibah datang, ia tidak kehilangan arah. Ia sadar bahwa Allah sedang mendidik imannya dan membersihkan dosanya.
Sabar bukan berarti diam; sabar adalah tetap taat meskipun sedang terluka. Sabar adalah tetap berdoa meski belum tampak perubahan. Sabar adalah yakin bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher kita.
Dan musibah itu sendiri menjadi penghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ (رواه البخاري ومسلم)
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga musibah yang terjadi menjadi sebab kita memperbaiki diri dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, menjaga tangan-tangan kita untuk senantiasa merawat alam, serta menumbuhkan kepedulian antarsesama muslim untuk saling bantu-membantu dalam kebaikan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic