Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Isra Mi’raj dan Pembebasan Al-Aqsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 9 Januari 2026 - 08:40 WIB

Jumat, 9 Januari 2026 - 08:40 WIB

141 Views

Kawasan sekitar Masjid Al-Aqsa (Foto: IST)

JUMAT ini judul Khutbah Jumat adalah “Isrs Mi’raj dan Pembebasan Al-Aqsa”, yang ditulis oleh Ali Farkhan Tsani. Isinya mengajak jamaah untuk lebih peduli pada pembebasan Masjidil Aqsa.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلاَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ,

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ,

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنِ اتَبِعَهُ , مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَاْ لَمْ يَكُنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ , اَمَّا بَعْدُ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa

فَيَا عِبَادَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ اُوْسِيْنيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَااللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ , كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ , أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Segala puji dan syukur hanya milik Allah yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua, dan rasa dalam hati kita untuk memuliakan Masjidil Aqsa.

Shalawat teriring salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang sepanjang hidupnya sangat memberikan perhatian terhadap Masjidil Aqsa dan kawasan Baitul Maqdis.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial

Selanjutnya, kami sampaikan wasiat untuk diri kami khususnya dan kita semua dengan wasiat takwa kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim berserah diri kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran [3] : 102).

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Baca Juga: Khutbah Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan Ketaqwaan Manusia

Pada kesempatan Jumat ini, bulan Rajab ini, bulan Isra Mi’raj ini, marilah kita kuatkan kembali tentang perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsa, di bumi penuh berkah Baitul Maqdis, Palestina. Mengapa Masjid Al-Aqsa harus kita bela dan kita wajib andil membebaskannya? Karena Allah dan Rasul-Nya memang memerintahkan demikian. Sehingga melaksanakannya pun ibadah yang berpahala.

Kita sudah tahu, berdasarkan ayat dan hadits, Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, masjid yang namanya tercantum di dalam ayat Al-Quran, tempat yang diberkahi, bumi para Nabi dan Rasul utusan Allah diturunkan di sana.

Masjid Al-Aqsa juga merupakan tempat yang kita sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana. Maka, kalau Allah dan Rasul-Nya saja memuliakan, kitapun demikian.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Baca Juga: Khutbah Jumat: Hubungan Puasa Ramadhan dan Jihad Pembebasan Al-Aqsa

Terkait kemuliaan Masjidil Aqsa ini, Allah sendiri menyebutkan secara langsung di dalam firman-Nya:

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra [17]  : 1).

Inilah sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Peristiwa nyata yang benar-benar telah terjadi dan kita sebagai umat Islam mengimani ayat-ayat Al-Quran wajib meyakini adanya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Tazkiyatun Nafs

Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat  Islam karena pada peristiwa ini, Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan untuk umat Islam, berupa kewajiban mendirikan shalat fardhu lima waktu sehari semalam.

Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada dalam situasi tekanan dan hinaan yang kuat dari kelompok musyrikin Mekkah, terutama dari Abu Jahal, Abu Lahab, dan sekutunya. Sementara ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baru saja ditinggal wafat isterinya tercinta Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela dan pendukung utama perjuangan dakwahnya.

Pada saat beriringan, beliau juga baru saja berduka karena meninggalnya Abu Thalib pamannya yang selama ini turut menjadi tameng pembelanya. Itulah tahun duka cita atau disebut dengan ‘amul hazn’.

Menurut Sayyid Quthb dalam kitab Fi Dzilalil Qur’an, bahwa peristiwa Isra’ yang disebut dalam surat al-Isra’ adalah mengabarkan tentang tumbangnya kejayaan Bani Israel.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Taqwa  

Adapun secara umum, Surat Al-Isra’ berisi tentang akhir perjalanan hidup dan kejayaan bangsa Yahudi, juga mengungkapkan hubungan langsung antara tumbangnya kejayaan suatu bangsa dengan maraknya kemaksiatan yang terjadi di tengah-tengah masyarakatnya.

Hal ini sejalan dengan sunnatullah yang disebutkan pada ayat 16 surat Al-Isra:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا(١٦)

Artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra [17]: 16).

Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Ramadhan

Kemudian, setelah ayat 1 surat Al-Isra, ayat-ayat berikutnya, terutama pada ayat ke-4 hingga ke-8, sangat jelas Allah memberikan isyarat kehancuran kaum Yahudi, akibat mereka membuat kerusakan di muka bumi. Di dalam surat Al-Isra ayat 4-8 Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman :

وَقَضَيۡنَآ إِلَىٰ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ فِى ٱلۡكِتَـٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَرَّتَيۡنِ وَلَتَعۡلُنَّ عُلُوًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (٤) فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ أُولَٮٰهُمَا بَعَثۡنَا عَلَيۡڪُمۡ عِبَادً۬ا لَّنَآ أُوْلِى بَأۡسٍ۬ شَدِيدٍ۬ فَجَاسُواْ خِلَـٰلَ ٱلدِّيَارِ‌ۚ وَكَانَ وَعۡدً۬ا مَّفۡعُولاً۬ (٥) ثُمَّ رَدَدۡنَا لَكُمُ ٱلۡڪَرَّةَ عَلَيۡہِمۡ وَأَمۡدَدۡنَـٰكُم بِأَمۡوَٲلٍ۬ وَبَنِينَ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ أَڪۡثَرَ نَفِيرًا (٦) إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ‌ۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَا‌ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأَخِرَةِ لِيَسُـۥۤـُٔواْ وُجُوهَڪُمۡ وَلِيَدۡخُلُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ڪَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ۬ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوۡاْ تَتۡبِيرًا (٧)عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يَرۡحَمَكُمۡ‌ۚ وَإِنۡ عُدتُّمۡ عُدۡنَا‌ۘ وَجَعَلۡنَا جَهَنَّمَ لِلۡكَـٰفِرِينَ حَصِيرًا (٨)

Artinya: “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (4) Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (5) Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. (6) Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yamg mereka kuasai. (7) Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengadzabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman”.(8) (QS. al-Isro’ [17]: 4-8).

Ayat-ayat tersebut menyatakan tentang terjadinya dua kerusakan yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Sekiranya dua kerusakan yang dimaksud sudah terjadi pada masa lampau, maka sungguh sejarah mencatat bahwa mereka telah berbuat kerusakan berkali-kali bukan hanya dua kali. Akan tetapi, dua kerusakan yang  dimaksud  dalam  adalah al-Qur’an ini adalah puncak dari kerusakan yang mereka lakukan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan

Adapun aksi kejahatan dan pengrusakan Yahudi di muka bumi antara lain : mendustakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, padahal mereka mengetahui dengan yakin bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman yang selama ini mereka harap kedatangannya. Kejahatan lainnya, mereka gemar mengkhianati perjanjian yang telah mereka buat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Mereka juga suka memprovokasi kaum musyrikin untuk membalas dendam, membuat permusuhan, perpecahan dan membuat keonaran di kalangan kaum Muslimin. Demi melihat kekejian dana kejahatan mereka, tidak ada pilihan bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selain menghancurkan dan menghentikan kekuatan mereka. Maka, peperangan demi perangan terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kabilah-kabilah Yahudi di kota Madinah.

Hingga akhirnya kaum Yahudi terusir dari kota Madinah dengan hina dina, akibat pelanggaran mereka sendiri.

Khalifah Umar bin Khaththab pun membuat penegasan dengan menghancurkan kekuatan mereka yang masih tersisa di daerah Baitul Maqdis, Palestina, yang pada saat itu dikuasai oleh orang-orang Romawi.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Bulan Sya’ban, Jalan Menuju Cahaya Ramadhan

Setelah peristiwa itu, mereka kembali tercerai-berai, hancurlah kekuatan mereka selama ini. Mereka mengembara lagi di muka bumi sebagai diaspora untuk kembali menyusun kekuatan. Mereka pergi ke negara-negara kuat untuk mencari perlindungan dan keamanan.

Hingga akhirnya kemudian, ketika zaman Nubuwwah dan Khilafah Rasyidah berakhir, kaum muslimin sedikit demi sedikit menjauh dari ajaran Islam. Kaum Muslimin pun berpecah belah dan mudah diadu domba, dan ditambah dengan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Hingga terjangkiti penyakit al-wahn (cinta dunia dan takut mati) pada sebagian besar kaum Muslimin.

Saat itulah Yahudi yang tercerai berai kembali menyusun kekuatan, sampai kemudian merebut kekuasaan yang berada di tangan kaum muslimin, dengan menjajah tanah dan bangsa Palestina sejak 1948 hingga kini. Ekonomi dunia pun mereka kuasai, tentara internasional loyal kepada mereka, bahkan bisa mereka kendalikan. Kejahatan demi kejahatan mereka lakukan, pembunuhan demi pembunuhan mereka nyatakan secara terang-terangan. Terutama di Jalur Gaza bumi Palestina.

Namun, justru dengan tindakan di luar batas kemanusiaan itu, sebenarnya mereka telah sampai pada titik akhir kehidupannya. Ibarat lengkingan terakhir nyawa di kerongkongan mereka. Tinggal sekali pukulan dan hentakan dari kaum Muslimin mereka akan hancur binasa.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gembira

Selanjutnya hadirin rahimakumullah

Pada ayat 104 surat Al-Isra , Allah menegaskan :

وَقُلْنَا مِنْ بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا

Artinya: “Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu).” (QS Al-Isra [17]: 104).

Ayat ini dapat dipahami setelah kehancuran karena serangan musuh-musuhnya, bangsa Yahudi kemudian bercerai berai (diaspora) ke seluruh penjuru dunia dan kembalinya bangsa Yahudi ke Palestina pada tahun 1948 adalah berasal dari bermacam-macam suku dan ras yang ada di dunia.

Namun, justru dengan kembali dan berkumpulnya bangsa Yahudi di Palestina saat ini berarti tanda kehancuran mereka yang kedua sudah dekat. Mereka sedang menunggu “Orang-orang yang akan menyuramkan muka mereka dan memasuki Masjid Al-Aqsha serta menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.”

Seperti pada ayat:

… فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأَخِرَةِ لِيَسُـۥۤـُٔواْ وُجُوهَڪُمۡ وَلِيَدۡخُلُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ڪَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ۬ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوۡاْ تَتۡبِيرًا

“…..dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”. (QS Al-Isra [17]: 7).

Berkenaan dengan hal itu, Muhammad Al-Rasyid menyatakan, “Pada waktu negara Israel berdiri dan memproklamirkan kemerdekaannya (tahun 1948), seorang wanita Yahudi menangis dan masuk ke rumah keluarganya. Ketika ditanya, “Mengapa engkau menangis, padahal orang Yahudi sedang bergembira dan merayakan kemerdekaan Israel?” Dia menjawab, “Bahwa dengan berdirinya negara Israel yang kedua adalah sebab adanya bani Israel yang akan dihancurkan dan dibinasakan”.

Indikasi tersebut dipercayai oleh banyak pihak, bahkan oleh para pendukung Israel. Seperti menurut laporan media, Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS yang berbangsa Yahudi menyatakan, bahwa dalam waktu dekat bangsa Yahudi Israel tidak ada di muka bumi.

Lenyapnya Yahudi Israel yang berarti terbebasnya Masjid Al-Aqsha dari penjajahan Israel, dan yang akan membebaskan Masjid Al-Aqsha adalah umat Islam sebagaimana sabda

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Artinya: “Tidak akan terjadi Kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi sampai Yahudi berlindung di balik batu dan pohon lalu batu dan pohon berbicara “Hai Muslim, hai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku, kemari, bunuhlah dia,” kecuali gharqad sebab ia (gharqad) sungguh merupakan pohon Yahudi.” (HR Bukhari).

Begitulah hadirin yang sama-sama mengharap ridha dan ampunan Allah

Mereka kaum Yahudi mempercayai dan merasakan hadits tersebut, antara lain dengan adanya peraturan agar Yahudi beramai-ramai menanam pohon gharqad di setiap halaman rumahnya. Dan akan memberikan denda bagi yang tidak melaksanakannya. Sekali lagi tanda kehancuran itu sudah dekat!

Tinggal kaum Muslimin untuk terus berjihad di jalan Allah, berlandaskan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup, secara berjama’ah. Sebagaimana para pendahulu telah berjuang secara berjama’ah, dan diteladankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Para Khalifah Rasyidah.

Adapun dalam urusan jihad ini, kita ingat akan pesan yang pernah disampaikan sahabat Nabi, Abdullah bin Rawahah salah seorang panglima Perang Mu’tah, perang menuju perbatasan Syam di mana Masjidil Aqsha berada.

Ketika ia dengan gagah berani menerjang pasukan kaum kuffar. Ia berseru, “Demi Allah! Apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya adalah sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita memerangi mereka karena Islam memerintahkan seperti ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah! Karena di medan juang sana hanya ada satu dari dua kebaikan yang akan kita jemput : kemenangan atau mati syahid!”

Karena itu, hadirin yang dimuliakan Allah

Marilah kita terus berjuang secara integral, yang kita cita-citakan bagaimana Al-Aqsa bebas dan Palestina merdeka. Setelah bebas dan merdeka, insya Allah perjuangan dan pembangunan apa saja bisa masuk. Kita tahu, walaupun masih ada masalah di sekitar kita, tetangga yang dhuafa, problematika pendidikan, dsb. Akan tetapi ini persoalannya masjid tempat suci yang dinodai dan hendak dirobohkan, saudara-saudara kita mulai bayi sampai orang jompo dibunuhi tiap detik, para tahanan dibiarkan menderita tanpa peri kemanusiaan sama sekali.

Untuk itu, marilah tetap fokuskan dan prioritaskan pembebasan Al-Aqsa dalam perjuangan umat Islam, organisasi Islam dan pergerakan Islam di manapun dan kapanpun. Semua program pun hendaknya terkait dengan Al-Aqsa, seperti pengokohan Tauhidullah, kaderisasi tarbiyah, ekonomi umat, silaturrahim antarkomponen kaum Muslimin, lembaga sosial, lembaga kemanusiaan, media, dan sebagainya.

Sehingga potensi kaum Muslimin 1,7 miliar lebih di seluruh dunia akan sangat mampu membebaskan Al-Aqsa dari belenggu penjajahan Zionis Israel. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin. []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda