Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Toleransi dalam Bingkai Tauhid

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 18 Desember 2025 - 14:02 WIB

Kamis, 18 Desember 2025 - 14:02 WIB

54 Views ㅤ

Toleransi ditunjukkan umat Muslim di Kanada, di mana pihak masjid menolong gereja yang diserang. (foto: X)

 Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Toleransi dalam Bingkai Tauhid

Rasulullah ﷺ diutus, bukan untuk memaksa manusia beriman, tetapi menyampaikan risalah dengan hujjah dan keteladanan.

Dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, kita mendapati teladan toleransi yang luhur. Beliau bermuamalah dengan non-Muslim, menjenguk tetangga yang berbeda agama, berdiri menghormati jenazah Yahudi, bahkan memberi ruang delegasi Nasrani Najran beribadah di Masjid Nabawi, itu semua tanpa mengurangi sedikit pun keteguhan beliau terhadap tauhid.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Namun Rasulullah ﷺ juga memberi batas yang jelas agar toleransi tidak berubah menjadi pencampuran akidah.

Khutbah selengkapnya silakan disimak berikut:

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam, yang menciptakan manusia dalam keberagaman sebagai ujian untuk menampakkan kualitas iman dan kemuliaan akhlak dalam kehidupan bersama.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah tauhid dan teladan agung dalam keadilan serta keluhuran akhlak, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Dengan takwa, seorang hamba mampu bersikap teguh dalam akidah, lapang dalam pergaulan, dan bijak menyikapi perbedaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Al-Kafirun [109] ayat 1-6. Allah  berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (١) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (٢) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٣) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (٤) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٥) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (٦) (الْكافرون [١٠٩]: ١-٦)

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Surat ini turun ketika kaum Quraisy menawarkan kompromi akidah, setahun Nabi ﷺ menyembah tuhan mereka dan setahun mereka menyembah Allah. Maka Allah ﷻ menurunkan surah ini sebagai penolakan total terhadap kompromi akidah.

Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini bukan seruan permusuhan, melainkan pernyataan ketegasan prinsip dan kejujuran iman. Akidah tidak boleh dikompromikan, namun hubungan kemanusiaan tetap dijaga dengan adab dan keadilan.

Ketegasan tauhid itu ditegaskan kembali dalam firman Allah ﷻ:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤) (الاخلاص [١١٢]: ١-٤)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS. Al-Ikhlas [112]:1-4)

Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menyebut surah Al-Ikhlas sebagai ringkasan akidah Islam, karena mencakup penetapan keesaan Allah, penafian kebutuhan Allah terhadap makhluk, serta penolakan konsep ketuhanan yang menyimpang.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Dua ayat inilah yang disunahkan Rasulullah ﷺ untuk di baca pada saat shalat sunnah qabla Shubuh dan sunnah ba’da Magrib.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Imam An-Nasai meriwayatkan dari Abdullah bin Umar berkata, “Aku memperhatikan Rasulullah selama 20 kali membaca surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas di dua rakaat setelah Maghrib dan dua rakaat sebelum Shubuh.”

Menurut Al-Mubarakfuri, hikmah dibacakannya Surah Al-Kafirun dan Surah Al-Ikhlaṣ dalam shalat adalah karena kedua surah tersebut mencakup seluruh pokok tauhid.

Dalam Surah Al-Kafirun terkandung penegasan tauhid uluhiyyah (tauhid ibadah), yaitu bahwa seorang hamba hanya beribadah dan menyembah kepada Allah ﷻ semata, tanpa mencampuradukkan ibadah dengan keyakinan lain.

Adapun dalam Surah Al-Ikhlaṣ terkandung dua unsur tauhid lainnya, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa ṣifat, yang menegaskan keesaan Allah dalam kekuasaan-Nya serta kesempurnaan nama dan sifat-Nya, tanpa penyerupaan dengan makhluk.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memulai harinya dengan membaca kedua surah tersebut dalam shalat sunnah fajar, dan menutup harinya dengan membaca keduanya dalam shalat sunnah ba‘diyah Maghrib. Hal ini sebagaimana dijelaskan para ulama sebagai bentuk penjagaan iman dari awal hingga akhir hari.

Dengan membaca dan mengamalkan makna kedua surah ini, seorang Muslim akan senantiasa terjaga hubungannya dengan Allah (ḥablun minallah) melalui kemurnian tauhid, dan hubungannya dengan sesama manusia (ḥablun minannas) melalui sikap yang adil, santun, dan toleran dalam kehidupan sosial.

Prinsip ini selaras dengan ketegasan Al-Qur’an bahwa iman tidak boleh lahir dari paksaan. Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ ۝٩٩ (يونس [١٠]: ٩٩)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

“Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?” (QS Yunus [10]: 99)

Aspek filosofis ayat ini terkait keberagaman keyakinan adalah bagian dari ketetapan Allah ﷻ, apakah manusia akan memilih jalan iman atau kufur sebagai ujian kehidupannya.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Demikian pula Rasulullah ﷺ diutus, bukan untuk memaksa manusia beriman, tetapi menyampaikan risalah dengan hujjah dan keteladanan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, kita mendapati teladan toleransi yang luhur. Beliau bermuamalah dengan non-Muslim, menjenguk tetangga yang berbeda agama, berdiri menghormati jenazah Yahudi, bahkan memberi ruang delegasi Nasrani Najran beribadah di Masjid Nabawi, itu semua tanpa mengurangi sedikit pun keteguhan beliau terhadap tauhid.

Namun Rasulullah ﷺ juga memberi batas yang jelas agar toleransi tidak berubah menjadi pencampuran akidah. Beliau bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أبو داود)

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Yang dimaksud dengan penyerupaan (tasyabbuh) oleh para ulama bukanlah dalam perkara muamalah umum atau urusan duniawi, melainkan dalam kekhususan agama, ibadah, dan simbol-simbol keyakinan yang mencerminkan akidah suatu kaum.

Oleh karena itu, hadist ini tidak bertentangan dengan ajaran toleransi, bahkan menjaga toleransi agar tetap berada dalam koridor tauhid.

Seorang Muslim tetap diperintahkan berbuat adil, santun, dan hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun, namun tanpa meniru atau ikut serta dalam ritual dan simbol keagamaan yang bertentangan dengan akidah Islam. Inilah keseimbangan ajaran Islam: teguh dalam iman,

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Islam membedakan secara tegas antara mu‘amalah sosial, akidah dan ibadah makhdoh. Dalam ranah sosial, Islam mengajarkan toleransi, keadilan, dan kedamaian. Namun dalam akidah Islam menetapkan batas yang jelas.

Secara bahasa, toleransi berarti membiarkan, menahan diri, dan menghargai perbedaan. Dalam khazanah Islam disebut tasamuḥ (التسامح), yang bermakna kelapangan dada, kemudahan, dan sikap saling menghormati.

Secara historis, istilah toleransi digunakan di kalangan Nasrani, sebagai respons atas konflik teologis Kristen dan pertentangan antar sekte yang saling mengklaim kebenaran, bukan sebagai konsep akidah. Selanjutnya istilah toleransi digunakan mereka untuk menunjukkan sikap menghargai kepercayaan agama lain.

Dalam konteks keindonesiaan, toleransi terwujud melalui kehidupan berbangsa yang menjamin kebebasan beragama. Negara hadir sebagai pengayom seluruh umat beragama, sementara urusan keyakinan tetap menjadi wilayah masing-masing.

Para ulama, melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Perayaan Natal, telah menegaskan bahwa umat Islam tidak diperkenankan ikut serta dalam ritual ibadah agama lain, demi menjaga kemurnian akidah. Namun fatwa tersebut juga menegaskan kewajiban untuk tetap saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.

Dengan demikian, toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, dan keberagaman tidak menuntut penghapusan batas-batas teologis.

Harmoni sosial dibangun tidak dengan menyeragamkan iman, tetapi dengan saling memahami posisi masing-masing. Keteguhan dalam akidah dan kelapangan dalam bermasyarakat bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Mari, kita menjadi umat Islam yang kokoh dalam tauhid, lembut dalam akhlak, tegas dalam prinsip, dan santun dalam pergaulan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat