Kisah Inspiratif Petani Kopi dan Madu “Cahya” Ngadirejo dari Kota Malang

(Foto: Istimewa)

Petani kopi dari Kota Malang, Jawa Timur atau biasa dikenal kopi Lereng Gunung Bromo ini mampu mengoptimalkan hasil kebun kopinya tetap memberikan manfaat lebih di masa pandemi Covid-19.

Berputar haluan dari jual kopi saat panen di kebun sendiri akhirnya beralih ke proses pembuatan bubuk kopi berkualitas unggul menjadi awal perjalanan usahanya di masa pandemi Covid-19.

Inilah perjalanan usaha yang dilakoni sosok Ibu rumah tangga bernama lengkap Sus Wahyuningsih yang merupakan warga Jalan Janti Barat C/B3, Kota Malang, Jawa Timur.

“Awalnya membantu usaha suami lalu kami putar haluan yang tadinya kita jual kopi saat panen di kebun, lalu beralih ke proses kopi hingga bisa memproduksi bubuk kopi kualitas unggul nomor satu,” tutur Sus Wahyuningsih, dalam siaran pers yang diterima MINA, Ahad (25/4).

Berbagai jenis kopi yang ditanam di kebunnya diantaranya kopi lanang, arabica dan robusta semua berkualitas unggul. Lokasinya di Desa Ngadirejo, Tumpang, Kota Malang yang jaraknya dari kebun kopi ke tempat tinggalnya sekitar 18 km.

Selain itu, Sus Wahyuningsih bersama suami juga memproduksi madu asli yang diternak sendiri di kebun kopinya.

”Kami menamakan kopi dan madu dari kebun kami di lereng bromo ini dengan merk “Cahya” asal Malang dengan slogan Kopi asli Lereng Bromo dengan tag line ”Sak sruput…encer pikir’e,” ujarnya.

Produk kopi dan madu merek “Cahya” merupakan dua komoditas unggulannya yang saat ini tengah naik daun seiring dengan meningkatkan kebutuhan herbal sebagai penambah imunitas tubuh.

Termasuk minuman kopi yang sekarang banyak digemari semua kalangan sebagai minuman favorit.

”Seiring dengan munculnya cafe coffee di Indonesia, kami berharap produk kami pun makin bertambah omsetnya,” kata wanita paruh baya ini penuh semangat.

Sus Wahyuningsih mengaku dua produk andalannya yaitu kopi dan madu ”Cahya” merupakan produk pilihan dengan kualitas yang bermutu.

“Karena dipetik dari kebun sendiri di Desa Ngadirejo, Tumpang, Malang, saat kopi sudah matang dan kami pilih secara selektif yang berwarna merah saja,” ungkapnya.

Semua dikerjakan secara tradisional seperti madu diproduksi dengan cara yang masih manual dengan peras tangan.

“Pelanggan lokal bisa petik madu di lokasi kebun dan memeras sendiri, sehingga dijamin madunya murni dan berkualitas,” beber Sus Wahyuningsih.

Madu dan kopi merek “Cahya” semua sudah mendapatkan perijinan PIRT dan ber NIB, namun stok produk masih kemasan lama dan masih belum dicantumin.

”Saat ini kami sudah mendapat NIB, akan tetapi karena label dan kemasan lama masih ada kami belum cantumkan NIB, selanjutnya nanti akan kami cantumkan NIB nya, selain itu kami juga membuat sambel pecel asli Blitar dengan merk yang sama “Cahya”,” urainya lebih lanjut.

Sementara untuk promosi dan pemasaran, Sus Wahyuningsih melalui grup whatshapp UMKM, Komunitas Pena Usaha Telkom dan pelanggan pemilik Cafe Abah Atho di Sulawesi, Cafe Bandara Tunggul Wulung di Cilacap, Kopi Goreng di Wates Yogyakarta serta pelanggan di sekitar Kota Malang yang sudah setia menjadi penikmat kopi Ngadirejo, Malang.

Harapannya usaha kopi dan madunya tetap eksis dan makin bertambah pelanggannya meskipun di masa Covid-19 ini dan selalu berdoa agar ekonomi kembali normal.

”Kami berharap ekonomi kembali pulih sehingga pelaku UMKM tidak terkendala lagi karena pandemi daya beli menurun,” ujarnya berharap.

Untuk mengetahui lebih lanjut usaha kopi dan madu “Cahya” bisa disimak di web https://mybisnis.id/Cahya.(AK/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)