Kisah Setahun Aksi Damai Gaza, Menantang Peluru Israel (Bag. 2)

Malina Al-Hindy terluka di salah satu kesempatan protes Great March of Return di dekat perbatasan Gaza-Israel. (Foto: Abed Zagout/The Electronic Intifada)

Setiap Jumat sejak 30 Maret 2018, puluhan ribu warga Palestina di Jalur Gaza melakukan aksi Great March of Return, aksi damai di sepanjang dekat pagar perbatasan dengan Israel, menuntut hak untuk kembali ke tanah air mereka yang dirampas dan diduduki Israel.

Hak kembali itu dijamin oleh hukum internasional dalam resolusi PBB.

Inilah kisah beberapa warga Palestina dari ribuan peserta yang selalu pergi ke dekat perbatasan, dengan aksi damai mereka menantang peluru-peluru tentara Israel yang bersiap di seberang pagar perbatasan.

Tulisan sebelumnya: Kisah Setahun Aksi Damai Gaza, Menantang Peluru Israel (Bag. 1)


“Saya melihat Azzam jatuh”

Iyad Barbakh yang berusia 12 tahun tidak setuju dengan saran yang melarang anak-anak tidak boleh ambil bagian dalam aksi pekanan Great march of Return di dekat perbatasan bersama ribuan pria lainnya dari segala usia.

“Jika saya dicegah untuk berpartisipasi dalam pawai, saya akan menemukan cara untuk melakukannya,” katanya. “Saya pergi ke pawai untuk menuntut hak yang sama seperti anak lain di dunia.”

Sejauh ini, hal terburuk yang terjadi pada Iyad dalam setahun terakhir adalah temannya Azzam Oweida yang ditembak oleh penembak jitu Israel. Dia meninggal tak lama kemudian.

“Saya melihat Azzam jatuh ke tanah dengan darah di wajahnya,” kata Iyad. “Saya tidak akan pernah melupakannya.”

Iyad sendiri telah terluka dua kali selama protes.

Pada kesempatan pertama, dia terkena proyektil gas air mata. Dia membutuhkan perawatan untuk luka bakarnya.

Pada kesempatan kedua, Iyad ditembak di lengan dan kaki selama Februari tahun ini. Meski ada cedera tambahan, dia terus bergabung dengan protes tanpa gentar dengan peluru-peluru tentara pendudukan Israel.

 

Tiga wanita gugur

Tiga wanita telah gugur selama setahun protes pekanan, salah satunya seorang gadis.

Malina Al-Hindy berpartisipasi dalam demonstrasi, bersama dengan suami dan anak-anaknya.

“Perempuan selalu berdampingan dengan laki-laki di semua bidang perlawanan Palestina,” katanya. “Adalah tugas kami untuk berpartisipasi dalam pawai.”

Al-Hindy telah membayar harga untuk perlawanannya. Dia telah terluka tiga kali dengan proyektil gas air mata dan dua kali dengan peluru tajam saat melakukan protes selama setahun terakhir.

Satu pembunuhan yang mendapat perhatian internasional adalah dibunuhnya Razan Al-Najjar. Ia seorang tenaga medis sukarela. Dia ditembak mati oleh penembak jitu Israel pada bulan Juni saat sedang menangani para demonstran yang terluka.

Pembunuhan itu membuktikan bahwa petugas kesehatan beroperasi dengan risiko yang ekstrem.

Alaa Al-Ajramy adalah di antara petugas medis yang sibuk selama setiap protes pekananan. Wanita 34 tahun itu mengakui bahwa dia merasakan ketegangan tinggi selama delapan jam sif dia bekerja pada hari Jumat.

“Saya tidak takut mati atau nanti tidak melihat keempat anakku lagi,” katanya. “Tapi saya tidak bisa membayangkan berada di tempat salah satu dari orang-orang muda itu, yang kehilangan kemampuan mereka untuk menggunakan lengan atau kaki lagi.”

Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan, lebih dari 100 amputasi telah dilakukan karena cedera pada pengunjuk rasa. Sekitar 25 dari mereka yang membutuhkan amputasi adalah anak-anak.

Pengalaman paling mengerikan yang dialami Al-Ajramy adalah menyaksikan gugurnya rekannya, Mousa Jaber Abu Hassanein, pada bulan Mei.

“Teman saya berdarah selama 15 menit,” kata Al-Ajramy. “Dan selama waktu itu kami tidak dapat menjangkau dia karena api besar di sekelilingnya. Kami tidak bisa melakukan tindakan untuk menyelamatkan hidupnya.”

 

Wartawan tidak luput sasaran

Wartawan juga dalam bahaya saat demonstrasi. Dua telah terbunuh saat meliput protes Great March of Return.

Kematian mereka tidak menghalangi rekan-rekannya untuk mencatat secara penuh kekejaman Israel.

Satu-satunya perlindungan yang diberikan oleh seorang jurnalis tertentu adalah bahwa kantor berita tempat ia bekerja menerbitkan laporan videonya tanpa menyebutkan namanya.

Seorang wartawan yang tidak disebutkan namanya menjelaskan, hari terburuknya adalah ketika Israel membantai sekitar 60 pengunjuk rasa tahun lalu pada 14 Mei 2018.

Wartawan itu bekerja di Gaza timur ketika pasukan Israel melepaskan tembakan.

“Tiba-tiba, semua orang di sekitar saya mulai jatuh ke tanah,” katanya. “Beberapa ditembak di kepala, yang lain di lengan atau kaki. Itu sangat sulit. Saya menyalakan kamera saya dan merangkak di antara kerumunan.”

Ia dikagumi di antara rekan-rekannya karena keberaniannya. Jurnalis itu terus maju dalam jarak 100 meter dari pagar batas.

“Saya mendekati pagar, sehingga saya bisa dekat dengan demonstran,” katanya. “Saya mencoba mendokumentasikan kejahatan Israel terhadap orang-orang ini.” (AT/RI-1/R06)

 

Sumber: tulisan Sarah Algherbawi di The Electronic Intifada.

Mi’raj News Agency (MINA)