Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Ekonomi Iran Paksa Ribuan Migran Afghanistan Pulang

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 17 September 2026 - 16:49 WIB

Kamis, 17 September 2026 - 16:49 WIB

870 Views ㅤ

Keluarga Afghanistan di Iran. (Tasnim News)

Teheran, MINA — Krisis ekonomi Iran yang semakin dalam telah memaksa ribuan migran Afghanistan untuk kembali ke tanah air mereka, meskipun harus menghadapi keterbatasan pekerjaan.

Selama beberapa dekade, ekonomi Iran yang lebih besar menjadi tumpuan bagi migran Afghanistan, menyediakan pekerjaan dan perlindungan dari kemiskinan serta ketidakstabilan politik.

Namun, inflasi yang melonjak, sanksi yang lebih ketat, dan gangguan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz telah melumpuhkan ekonomi Iran. Econo Times melaporkan, Kamis (17/9).

Harga-Harga Melonjak

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Harga konsumen Iran melonjak naik hampir 90% dari tahun ke tahun, menurut Pusat Statistik negara itu. Sementara inflasi pangan mendekati 130%.

Banyak migran Afghanistan mengatakan pengangguran, penurunan upah, dan kenaikan biaya hidup membuat tetap tinggal di Iran semakin tidak mungkin.

Mohammad Saeed melarikan diri dari Afghanistan bersama keluarganya pada 2021 setelah Taliban kembali berkuasa.

Lima tahun kemudian, mereka kembali dari Iran dengan sedikit kepemilikan setelah penurunan tajam rial Iran menghabiskan lebih dari dua pertiga tabungan mereka.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Gelombang Kepulangan Sukarela

Survei Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menemukan bahwa hanya 29% dari warga Afghanistan yang baru kembali dari Iran yang memiliki tabungan tersisa. Pendapatan rata-rata mereka turun hampir sepertiga dari tingkat sebelum krisis.

Lebih dari 2 juta warga Afghanistan telah meninggalkan Iran dalam dua tahun terakhir, menurut data Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

Sementara deportasi dan tekanan pemerintah sebelumnya menyebabkan banyak kepergian, gelombang terbaru semakin melibatkan wanita, anak-anak, dan seluruh keluarga yang pergi secara sukarela.

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Di perbatasan Islam Qala di Afghanistan, pejabat Taliban Abdul Ghani Qazizadeh mengatakan sekitar 20 hingga 40 keluarga secara sukarela kembali setiap hari. Banyak yang mengeluhkan bahwa upah di Iran tidak lagi mampu menutupi pengeluaran dasar atau bahwa pemberi kerja menahan pembayaran.

Tantangan Baru di Afghanistan

Keluarga yang kembali menghadapi tantangan besar di Afghanistan. Abdul Jabbar, yang tinggal di Iran selama hampir empat dekade, kembali bersama istri, putri-putrinya, cucu laki-laki, dan ibunya setelah serangan rudal di sekitar dan peluang kerja yang hilang. Ia menganggur dua bulan kemudian.

Saeed dan ibunya, Rezwana Jami, sedang mencoba memulai hidup baru. Setelah meninggalkan bisnis pizza-keju di Iran karena inflasi membuat bahan-bahan semakin langka. Mereka pun menginvestasikan sisa tabungan mereka ke peralatan dan memulai kembali produksi di Afghanistan. []

Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda