Teheran, MINA — Krisis ekonomi Iran yang semakin dalam telah memaksa ribuan migran Afghanistan untuk kembali ke tanah air mereka, meskipun harus menghadapi keterbatasan pekerjaan.
Selama beberapa dekade, ekonomi Iran yang lebih besar menjadi tumpuan bagi migran Afghanistan, menyediakan pekerjaan dan perlindungan dari kemiskinan serta ketidakstabilan politik.
Namun, inflasi yang melonjak, sanksi yang lebih ketat, dan gangguan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz telah melumpuhkan ekonomi Iran. Econo Times melaporkan, Kamis (17/9).
Harga-Harga Melonjak
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Harga konsumen Iran melonjak naik hampir 90% dari tahun ke tahun, menurut Pusat Statistik negara itu. Sementara inflasi pangan mendekati 130%.
Banyak migran Afghanistan mengatakan pengangguran, penurunan upah, dan kenaikan biaya hidup membuat tetap tinggal di Iran semakin tidak mungkin.
Mohammad Saeed melarikan diri dari Afghanistan bersama keluarganya pada 2021 setelah Taliban kembali berkuasa.
Lima tahun kemudian, mereka kembali dari Iran dengan sedikit kepemilikan setelah penurunan tajam rial Iran menghabiskan lebih dari dua pertiga tabungan mereka.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Gelombang Kepulangan Sukarela
Survei Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menemukan bahwa hanya 29% dari warga Afghanistan yang baru kembali dari Iran yang memiliki tabungan tersisa. Pendapatan rata-rata mereka turun hampir sepertiga dari tingkat sebelum krisis.
Lebih dari 2 juta warga Afghanistan telah meninggalkan Iran dalam dua tahun terakhir, menurut data Badan Pengungsi PBB (UNHCR).
Sementara deportasi dan tekanan pemerintah sebelumnya menyebabkan banyak kepergian, gelombang terbaru semakin melibatkan wanita, anak-anak, dan seluruh keluarga yang pergi secara sukarela.
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Di perbatasan Islam Qala di Afghanistan, pejabat Taliban Abdul Ghani Qazizadeh mengatakan sekitar 20 hingga 40 keluarga secara sukarela kembali setiap hari. Banyak yang mengeluhkan bahwa upah di Iran tidak lagi mampu menutupi pengeluaran dasar atau bahwa pemberi kerja menahan pembayaran.
Tantangan Baru di Afghanistan
Keluarga yang kembali menghadapi tantangan besar di Afghanistan. Abdul Jabbar, yang tinggal di Iran selama hampir empat dekade, kembali bersama istri, putri-putrinya, cucu laki-laki, dan ibunya setelah serangan rudal di sekitar dan peluang kerja yang hilang. Ia menganggur dua bulan kemudian.
Saeed dan ibunya, Rezwana Jami, sedang mencoba memulai hidup baru. Setelah meninggalkan bisnis pizza-keju di Iran karena inflasi membuat bahan-bahan semakin langka. Mereka pun menginvestasikan sisa tabungan mereka ke peralatan dan memulai kembali produksi di Afghanistan. []
Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic