Kumencintaimu Karena Dia

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Cinta yang paling tinggi dan mutlak bagi seorang Muslim sesunggguhnya adalah cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Karena itu, segala jenis cinta seorang Muslim kepada siapa pun dan kepada apapun, sepatutnyalah harus dilandaskan semata-mata pada cinta kepada Allah. Itulah tanda ikatan iman yang paling kuat.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

Artinya: “Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ

Artinya: “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Maka, begitulah, jika dua orang berkawan, bersahabat dan berjuang karena Allah, maka merekapun akan dipertemukan dalam naungan Allah pada Hari Akhir tatkala tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Di dalam hadits disebutkan dengan:

…..وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ…..

Artinya: “…..dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya…..” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).
Begitulah, keindahan ajaran Islam yang mengajarkan untuk saling mencintai karena Allah.

Maka, ketika kita mencintai saudara kita karena Allah, ungkapkanlah cinta tersebut.

Ini seperti disebutkan di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR Bukhari).

Cinta kepada saudaranya, bukan berarti kalau saudaranya salahatau khilaf didiamkan begitu saja. Hingga terus-menerus terjerembab ke dalam kubangan dosa. Namun, justru sebagai wujud cintanya adalah mengingatkannya, menasihatinya dan meluruskannya dengan santun dan penuh cinta pula.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.”

Cinta karena Allah adalah cinta yang bersih, jujur dan ikhlas. Ia bukan cinta karena dunia yang dekat hanya tatkala ada materi. Juga bukan cinta nafsu, yang hanya untuk melampiaskan nafsunya semata.

“Ya Allah sesungguhnya kami memohon kecintaan kepada-Mu, mencintai orang-orang yang Engkau cintai dan mencintai amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri pada cinta-Mu dan jadikanlah kecintaan kami kepada-Mu melebihi kecintaan kami pada diri kami, keluarga kami, dan air dingin yang segar.”

Semoga dalam ‘Kumencinatimu karena Dia, Allah semata’, terus abadi sepanjang perjuangan menegakkan kalimatullah di permukaan bumi ini. Bahkan sampai menghadap-Nya tetap dalam saling mencintai karena Allah. Saling meridhai dan mendoakan. Aamiin.(RS2/RS3)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)7