
Migran asal sub-Sahara di Maroko. (Foto: dok. Dune Voice)
Tangier, Maroko, 16 Syawwal 1438/10 Juli 2017 (MINA) – Bahaya yang mengancam di Libya, membuat mayoritas migran asal Afrika sub-Sahara yang menuju ke Eropa, kini memilih Maroko sebagai jalur populer.
Awalnya, para migran yang kebanyakan berasal dari Guinea, Gambia atau Pantai Gading, pergi ke Libya dengan harapan bisa menyeberang ke Italia memakai kapal.
Namun, Helena Maleno Garzon dari agen bantuan migran Caminando Fronteras mengatakan, rute itu menjadi lebih berisiko dan sulit untuk dikontrol. Demikian Nahar Net memberitakan yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).
Banyak migran yang melewati Libya telah melaporkan kisah-kisah dramatis tentang berbagai pelecehan yang mereka alami.
Baca Juga: Warga Daraa Suriah Unjuk Rasa Mengutuk Serangan Israel
Migran telah melaporkan bahwa mereka dijual “di pasar budak”.
Amnesty International juga mengeluhkan penyiksaan yang dialami para migran dan mereka dipenjara.
UNHCR telah menerbitkan laporan dari para migran tentang kondisi mengerikan di pusat penahanan migran di Libya.
Garzon mengatakan, akibatnya sebagian migran lebih memilih untuk pergi ke Maroko atau Aljazair. Dari sana mereka melintasi Laut Tengah menuju Spanyol.
Baca Juga: Pelapor Khusus PBB, Albanese: Apa yang Terjadi di Gaza Bukan Perang, Tapi Genosida
Selain lebih aman dibandingkan Libya, rute laut lebih pendek dan harganya lebih murah. (T/RI-1/B05)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Myanmar Identifikasi 180.000 Warga Rohingya di Bangladesh Layak Dipulangkan