Masa Depan Ratusan Anak-anak ISIS

Ratusan anak yang orangtuanya warga Turki telah dihukum di Irak karena menjadi anggota kelompok Islamic State (ISIS). Namun, mereka akan dikembalikan ke Turki akhir Desember ini, menurut Middle East Eye (MEE).

Saat ini diperkirakan setidaknya ada 328 wanita Turki di penjara Irak. Hampir 250 dari mereka pada awalnya dijatuhi hukuman mati, tetapi setelah proses banding beberapa hukuman mereka dikurangi menjadi penjara seumur hidup.

Secara total, diperkirakan ada 456 anak yang sebelumnya tinggal bersama orangtua Turkinya yang dituduh sebagai anggota ISIS, yang menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak utara antara tahun 2014 hingga 2017.

Sebagian besar anak-anak itu saat ini berada di penjara di Baghdad bersama ibu mereka atau saudara perempuan lainnya yang dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup.

“Tidak ada alasan untuk memperpanjang situasi yang merugikan anak-anak yang dipenjara bersama ibu mereka,” kata seorang sumber pejabat Turki kepada MEE.

“Komunikasi resmi dari pengadilan banding belum tiba, tetapi kami telah diberi tahu bahwa hukuman mereka dikurangi,” kata pejabat itu.

Namun menurut Yasin Maden, seorang warga Turki yang keponakannya diculik oleh ayahnya, seorang anggota ISIS, tidak semua hukuman wanita itu menjadi hukuman seumur hidup.

Pengembalian anak-anak ke Turki dalam prosesnya berjalan lambat meskipun perkembangannya diharapkan segera.

Menurut informasi, anak-anak akan didatangkan ke Turki dalam tiga kelompok terpisah pada tiga waktu terpisah.

Kelompok pertama akan menjadi orang-orang yang dokumen resminya telah selesai. Kemudian, kelompok kedua ketika pemrosesan dokumen mereka selesai. Kedua kelompok pertama adalah anak-anak yang dipenjara bersama ibu mereka.

Sementara kelompok ketiga berada di penjara remaja. Ada sekitar 40 anak yang berusia antara 12 hingga 18 tahun.

Sebelum ditangkap, sebagian besar wanita dan anak-anak itu berada di Suriah bersama suami dan ayah mereka yang bergabung dengan ISIS. Mereka kemudian melarikan diri ke Tal Afar setelah serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) dimulai di Suriah.

Pada Agustus 2017, hampir 1.700 wanita dan anak-anak ditangkap di Tal Afar oleh pasukan Peshmerga Kurdi Irak, ketika mereka mencoba menyelamatkan diri dari pertempuran antara pasukan Irak dan ISIS. Mereka tidak makan atau minum selama berhari-hari. Mereka semua kemudian dibawa ke Baghdad.

Anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun dan tanpa orang tua dikirim ke panti asuhan. Beberapa lahir di Suriah atau Irak. Akibatnya, mereka tidak memiliki kartu identitas. Dua puluh anak di panti asuhan dibawa ke Turki musim panas ini. Namun untuk selebihnya, prosesnya tidak mudah.

Orangtua Turki?

Yasin Maden menekankan bahwa pihak berwenang Irak khawatir jika beberapa anak yang dikirim pulang ke Turki mungkin sebenarnya adalah anak-anak Yazidi Irak.

“Beberapa anak Yazidi yang diculik oleh anggota ISIS dibesarkan oleh mereka. Otoritas Irak ingin memastikan bahwa di antara anak-anak itu tidak ada yang seperti itu,” katanya.

Sejumlah anak lahir di Irak atau Suriah, bahkan ada yang terlalu kecil untuk mengingat siapa orang tua mereka. Selainnya mungkin tidakb ersama ibu biologis mereka.

Beberapa anak lahir dari perempuan Yazidi yang diperkosa oleh anggota ISIS, kemudian diasuh oleh anggota perempuan kelompok itu atau istri anggota ISIS.

Pejabat Turki juga mengatakan bahwa beberapa wanita non-Turki mengaku bahwa mereka orang Turki, serta beberapa anak yang menemani mereka.

Menurut hukum Turki, siapa pun yang lahir dari ibu atau ayah Turki dianggap sebagai warga negara Turki.

Upaya-upaya untuk memperjelas ibu anak-anak itulah yang membuat proses memakan waktu dan karena pemerintah Irak menuntut data biometrik pada anak-anak itu.

Ketakutan Radikalisasi

Sampel DNA anak-anak dan keluarganya dikumpulkan untuk penyelidikan. Namun, ada beberapa tuntutan lain dari pihak berwenang Irak.

Mereka ingin memastikan bahwa keluarga dari anak-anak yang tinggal di Turki tidak terhubung dengan ISIS atau kelompok yang dianggap radikal lainnya, serta tidak akan membesarkan anak-anak ini sebagai seorang radikal.

Pemerintah Irak menuntut jaminan pendidikan dan kesejahteraan anak-anak di masa depan dari keluarga mereka yang bersedia membawanya ke dalam kepengurusan mereka.

Pemerintah Irak juga ingin tahu di mana anak-anak itu akan tinggal. Bahkan mereka menuntut rencana plot rumah masa depan bagi mereka. Mereka khawatir jika anak-anak itu dapat diradikalisasi dan kembali berperang ketika mereka tumbuh dewasa.

Sebagian kalangan di Turki juga prihatin bahwa anak-anak itu dibawa pulang tanpa skema yang jelas di Irak untuk membantu mereka mengatasi traumanya. 

Bagi anak-anak yang kembali pada musim panas ini, trauma pengalaman mereka di bawah aturan ISIS sangat membekas dan harus menyesuaikan kembali dengan kehidupan di Turki. Itu sangat sulit.

“Anak-anak ini adalah anak-anak kami, dan mereka mungkin membutuhkan bantuan untuk merehabilitasi trauma mereka. Namun, di Turki tidak ada fasilitas atau lembaga semacam itu untuk memastikan itu,” kata Maden.

Risiko Keamanan

“Di satu sisi, anak-anak ini adalah risiko keamanan, tetapi di sisi lain, mereka adalah warga Turki dan mereka tidak boleh ditinggalkan di penjara Irak, ini tidak manusiawi. Tetapi tentu saja beberapa tindakan harus diambil,” kata Hilmi Demir, seorang profesor teologi di Ankara yang mengkhususkan diri dalam radikalisasi.

Dia mengatakan, anak-anak itu adalah korban perang. Mereka telah kehilangan ayah dan ibu serta hidup dalam kondisi buruk di penjara.

Menurut Demir, Turki memiliki kapasitas untuk mengatasi masalah itu. Demir menekankan bahwa orang-orang, guru, dan psikolog yang akanmerawat anak-anak itu harus memiliki kualifikasi yang unik.

“Jika anak-anak ini direhabilitasi dan di masa depan berubah menjadi kisah sukses, saya percaya itu mungkin, jika dilakukan dengan perhatian khusus. Maka perang melawan ISIS akan dimenangkan,” katanya. (T/RI-1/R06)

Sumber: Middle East Eye (MEE)

Mi’raj News Agency (MINA)