Masjid Pertama di Seville Akan Dibangun

Mantan bintang sepak bola Fred Oumar Kanoute. (Foto: Halil Sagirkaya/Anadolu)

Mantan bintang sepak bola Fred Oumar Kanoute telah mengumpulkan dana US$ 1 juta dalam kampanye crowdfunding online untuk membangun masjid dan pusat kebudayaan khusus di Seville, Spanyol. Konon terakhir membangun masjid di sana adalah 700 tahun yang lalu. Sejarah panjang Spanyol amat banyak berisi kehadiran Islam di sana.

Kanoute, seorang Muslim kelahiran Perancis dengan latar belakang Mali yang sebelumnya bermain untuk Sevilla FC, memulai kampanyenya setahun yang lalu di LaunchGood, sebuah platform crowdfunding yang berfokus pada komunitas Muslim global.

“Terima kasih dan semoga Allah membalas bagi Anda untuk semua yang berpartisipasi dalam kampanye,” twit Kanoute pada hari Selasa, 19 Mei 2020.

Olga Torres, seorang anggota departemen Studi Arab dan Islam di Universitas Seville, mengkonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa tidak ada masjid yang dibangun khusus di kota itu dalam “hampir 800 tahun”.

Masjid Kanoute 4 Seville akan mengumpulkan dana tambahan yang dihimpun pada tanggal 27 Mei. Perkiraan biaya proyek mendekati 12 juta euro ($ 13,1 juta).

Tahun lalu, Kanoute bekerja sama dengan Yayasan Masjid Seville (SMF).

“Ketika saya tiba di sana (Seville), sangat sulit untuk menemukan masjid. Saya harus bertanya kepada orang-orang,” kata Kanoute, yang masuk Islam pada usia 20.

Ia mengatakan, komunitas Muslim Seville adalah “campuran yang indah”, termasuk mualaf Spanyol, Muslim Spanyol generasi kedua, dan orang-orang dari Aljazair, Maroko, Senegal dan latar belakang Mali.

Spanyol diperkirakan memiliki dua juta Muslim, dengan sekitar 30.000 tinggal di Seville.

Diperkirakan 30.000 Muslim tinggal di Seville (File: Seville Mosque Foundation)

Pada tahun 2007, Kanoute, yang bersama clubnya pernah memenangkan Piala Spanyol dan Piala UEFA, membeli sebuah musalla atau ruang shalat di Seville yang hampir ditutup setelah kontrak tempat itu akan berakhir. Kanoute sebelumnya menggambarkannya sebagai “masjid sementara”.

Proyek $ 1juta berjanji akan lebih besar dan lebih permanen.

“Dia adalah sosok yang sangat dihormati di Seville, tidak hanya untuk sepak bola tetapi bagaimana dia sebagai pribadi,” kata Ibrahim Hernandez, Direktur SMF, kepada Al Jazeera.

Selain mengadakan shalat, masjid dan pusat kebudayaan akan mengadakan lokakarya untuk masyarakat setempat tentang hal-hal seperti persalinan, seni Andalusia, dan memasak.

Klinik kesehatan yang menyediakan perawatan primer untuk penduduk setempat juga direncanakan, bersama dengan kelas bahasa Arab dan Al-Quran untuk anak-anak.

“Sebuah masjid untuk kaum muda, anak-anak dan Muslim generasi pertama, kedua dan ketiga sangat penting untuk identitas mereka, dan memahami (agama) mereka,” kata Abdiya Meddings, seorang wirausahawan Inggris dan penduduk Seville.

Ruang shalat yang ada di Seville biasanya kecil, khususnya di ruang bawah tanah.

“Di saat sebagian besar wanita tidak pergi (shalat Jumat), ruang wanita yang ada di musalla masih penuh,” kata Meddings, mantan guru Al-Quran.

Dia biasa mengajar anak-anak berusia antara lima hingga 13 tahun, tetapi ruang itu sering terlalu kecil.

Dia mengatakan, meskipun menjadi daya tarik wisata utama bagi umat Islam, sebagian karena sejarah Islam sejak abad ke-8, sulit menemukan tempat untuk shalat di Seville.

“Di sini, di Seville, (ruang-ruang shalat) yang saya tahu hampir seperti disembunyikan,” katanya. “Pengunjung datang ke Seville dan mereka tidak dapat menemukannya.”

Di tengah meningkatnya Islamofobia di seluruh Eropa, penyelenggara proyek masjid Seville berharap bisa mengatasi prasangka. Partai sayap kanan Spanyol Vox menuntut penutupan apa yang disebutnya sebagai “masjid fundamentalis” dan menyerukan penangkapan dan deportasi “imam ekstremis”.

“Salah satu niat yang kami miliki … adalah untuk mengubah persepsi tentang orang-orang Islam,” kata Hernandez. “Segera setelah kami melakukan kontak dekat dengan masyarakat, kami dapat membantu menambah pengetahuan mereka tentang Islam.”

Meddings mengatakan, masjid akan membantu dalam “normalisasi hubungan dengan umat Islam” di kota. (AT/RI-1/P1))

 

Sumber: tulisan Usaid Siddiqui di Al Jazeera

 

Mi’raj News Agency (MINA)