Mendengarkan Kebenaran Hakiki dari Al-Qur’an (KH Bachtiar Nasir)

(Da’i dan Ulama’ yang sangat sering mengkaji dan mendalami Ilmu-Ilmu Al-Qur’an)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah An-Nahl ayat 65-69

وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

وَمِن ثَمَرَٰتِ ٱلنَّخِيلِ وَٱلْأَعْنَٰبِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Yang Artinya: Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.

Inilah Al-Qur’an yang di dalamnya dibacakan berbagai ayat Allah baik yang berupa perintah, larangan, dan kabar gembira. Ada penjelasan yang menarik bahwa orang-orang yang senantiasa mendengarkan kebenaran yang sebenar-sebenarnya dan informasi-informasi yang bukan hoaks, maka puncak pengetahuannya akan mencapai tingkat paripurna.

Baca Juga:  Memaksimalkan Bulan Ramadhan

Namun, yang lebih menarik bahwa pendengaranlah pintu masuk pengetahuan bahkan merupakan kunci tercapainya kesempurnaan akal. Pendengaran adalah pintu gerbang pemikiran. Di sini, saya ingin mengingatkan bahwa jika ada bayi terlahir sebagai tuna rungu, maka otomatis dia akan bisu. Meski lidah dan pita suara normal, tetapi dia tidak akan bisa bicara karena tidak ada data yang masuk dan data itu pertama kali didapat melalui pendengaran.

Sementara ada orang-orang yang dikabarkan melalui Al-Qur’an telah dicabut pendengarannya. Kata-kata dicabut pendengarannya ini tak lain adalah karena tidak memanfaatkan pendengarannya dengan benar untuk menerima kebenaran. Padahal pendengaran adalah sumber segala ilmu yang merupakan salah satu pondasi kukuhnya iman. Semakin sempurna pendengarannya akan kebenaran maka akan semakin sempurna akal dan pengetahuannya. Tentu saja, bila yang didengarkan adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada kisah bahwa suatu hari, di tengah jalan ada, tiba ada orang yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, dan mendadak menjadi buta. Di sini saya ingin mengajak untuk senantiasa mengingat nikmat Allah Yang Mahabesar yaitu nikmat mendengar, berbicara, dan melihat. Dengan kondisi seperti ini, tidak ada seorang pun yang dapat mengantarkannya pulang.

Karena, tidak ada pintu komunikasi yang dapat digunakan untuk menemukan kemana orang ini dapat diantarkan. Sampai disini, mari syukuri nikmat yang terbesar dalam hidup kita ini yaitu dapat mendengar, melihat, dan berbicara. Katakanlah kepada Allah Azza wa Jalla, “Alhamdulillah”.

Mendengar untuk Takwa

Nikmat yang luar biasa untuk pendengaran kita adalah dapat mendengarkan kebenaran. Mendengarkan perintah-perintah Allah sampai level sami’na waatho’na. Kalau cuma masalah mendengar, semua binatang di dunia ini juga bisa mendengar, contohnya sapi bisa minggir karena mendengar klakson mobil. Berangkat dari itu, pendengaran seperti apa yang diinginkan oleh Allah untuk dapat melaksanakan perintah-Nya?

Pendengaranmu tidak akan menambah ketakwaan dan pengetahun, kecuali bila yang engkau dengarkan adalah firman-firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Karena, inilah nasihat yang sebenarnya. Inilah sumber ilmu yang sebenarnya. Oleh karena itu, maksimalkanlah fungsi pendengaran kita. Bila Allah Ta’ala telah mencabut pendengaran kita sehingga tidak lagi dapat mendengar petunjuk dari-Nya; tentu tidak dapat dibayangkan akan seperti apa hidup ini kita jalani. Naudzubillahi min dzalik

Baca Juga:  Hadapi Tahun Politik, UBN Berpesan: Umat Islam Jangan Seperti Suku Aus dan Khazraj

Pada ayat, “Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Ini adalah tantangan bagi kita semua untuk “mendengar” dan mempelajari apa yang sebenarnya terkandung dalam air hujan sebagai salah satu ayat Allah Ta’ala. Mengapa hujan sangat sesuai dengan berbagai benih dan tanaman yang ada di bumi, sehingga tanah yang sebelumnya sudah mati mengering akan dengan mudah tumbuh menjadi hijau kembali dengan siraman air hujan. Tentu, tidak ada yang mampu menciptakan yang sedemikan itu kecuali hanya Allah Azza wa Jalla.

Makna simbolik lain yang tersirat adalah begitu mudahnya Allah Ta’ala menghidupkan kamu kembali setelah mati dan terkubur di dalam tanah di hari Kiamat. Untuk diminta pertanggung jawaban. Seperti bumi yang mati dan kering kerontang, tetiba disiram dengan hujan, maka akan hidup dan menghijau lagi.

Begitu pula dengan hatimu yang tadinya mati. Orang -orang yang rusak hatinya akan lebih cenderung pada kemaksiatan dibandingkan pada petunjuk Allah. Hati-hati, salah satu indikasi hati yang telah mati adalah hati yang lebih cenderung kepada maksiat dibandingkan untuk taat kepada Allah. Kalau ingin membuka cakrawala dengan cerdas bacalah Al-Qur’an, baca tafsirnya, tadabburi ayat-ayatnya, dan tanyakan pada ulama apa yang engkau tidak memahaminya.

Carilah ilmu tentang Allah untuk menghidupkan hatimu. Layaknya hati yang sebelumnya mati, tetapi jika sering diingatkan dan disirami ayat-ayat Allah maka, hati akan tumbuh dan hidup hingga berbahagia karena dekat kepada Allah dan tidak ingin berpisah lagi dari-Nya. Inilah kalbu yang kembali hidup.

Baca Juga:  Mencapai Ikhlas (Ustaz Bachtiar Nasir)

Menghidupkan Kalbu dalam Keluarga

Dalam konteks keluarga, peran ayah untuk menghidupkan hati anak-anaknya dengan ayat-ayat Allah, sangatlah penting. Jangan sampai para ayah bekerja keras, tetapi hanya berhasil membesarkan raga anak-anaknya, tetapi tidak hatinya. Anak-anak seperti ini, kelak jiwanya akan dimiliki oleh orang lain.

Orang-orang yang kelak menjerumuskan anak-anaknya ke dalam pergaulan bebas, ke dalam dunia narkoba, atau ke dalam geng mafia. Sehingga ayah-ayah seperti inilah yang kelak akan bertemu dengan anak-anaknya yang telah menjadi monster bagi hidupnya sendiri. Entah karena si anak kecanduan narkoba, freesex, ataupun menjadi preman yang mencelakai kehidupan orang lain.

Wahai para ayah, segeralah hidupkan hati anak-anak kita dengan tetesan ayat-ayat Allah yang akan membuat hati mereka tumbuh subur dalam ketakwaan. Kemudian bacakanlah Al-Qur’an dalam rumah Anda. Utsman bin Affan Radiallahu Anhu adalah orang yang senantiasa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di setiap sudut rumahnya. Anak yang malas shalat, maka bacakanlah Al-Qur’an di dalam kamarnya, bacakanlah pula ayat Kursi di setiap sudut rumahmu, sehingga para malaikat rahmat berkenan untuk memasuki rumahmu. Dengan itu, para setan dan jin yang selalu mengganggu keluarga dan membuat kita malas akan segera pergi meningglkan rumah kita. Bila anggota keluarga di rumah tersebut malas beribadah berarti banyak setan yang menghuni rumah tersebut.

Demikianlah, ayat-ayat Al-Qur’an adalah tuntunan hidup dan komponen hidup yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan yang berlangsung di semesta ini. Kita sejatinya, tidak akan bisa hidup berbahagia tanpa adanya Al-Qur’an.

Setiap kebenaran yang disampaikannya adalah mutlak dan kita membutuhkannya dalam kehidupan sebagai individu, keluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Karena, ia berasal dari Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan dan merawat kita sepanjang hidup di dunia hingga di akhirat nanti. Pada akhirnya, tiada yang dapat kita katakan manakala Al-Qur’an telah menyampaikan kebenaran, kecuali “sami’na wa atha’na”. (AK/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)