Mengenal Fatimah Al Fihri, Muslimah Pendiri Universitas Pertama

 

Oleh: Rendy Setiawan, Wartawan MINA 

Sebagian besar dari kita mungkin berpikiran universitas pertama yang dibangun berada di Eropa atau Amerika. Hal yang wajar mengingat saat ini negara-negara dari dua benua tersebut yang memiliki banyak universitas bergengsi dengan pendidikan terbaik.

Nyatanya, universitas pertama dan tertua berada di Afrika, dikenal dengan nama Universitas Al-Qarawiyyin, terletak di Kota Fez, Maroko. Hebatnya, universitas ini dibangun oleh seorang muslimah bernama Fatimah Al Fihri.

Fatimah Al Fihri, namanya terdengar asing, bahkan di telinga umat Islam sekalipun. Padahal dialah muslim pertama yang mendirikan perguruan tinggi. Dengan latar belakang sebagai pedagang, ia berhasil membangun masjid yang kemudian menjadi universitas pertama dan tertua, bukan hanya dalam sejarah Islam melainkan dalam sejarah dunia.

Nama lengkapnya Fatimah Muhammad Al Fihri, sering dijuluki Oum Al Banine, yang berarti ibu dari anak-anak Fez. Lahir pada tahun 800 masehi. Ayahnya bernama Muhammad Al Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Maroko.

Di masa Raja Idris ll, awal abad ke-9, ayah Fatimah memang membawa keluarganya pindah dari Tunisia ke Kota Fez di Maroko. Kota Fez, kala itu terkenal sebagai kota metropolitan, dengan penduduk muslim non-Arab. Kota yang terkenal maju di sejumlah bidang.

Aktivitas ekonomi saat itu berkembang sangat pesat.

Menariknya, di sana terjadi harmoni antara kebudayaan kosmopolitan dan budaya tradisional. Dari sini, Kota Fez berkembang menjadi salah satu kota muslim yang berpengaruh besar dan cukup diperhitungkan.

Di Kota Fez, keluarga Fatimah Al Fihri mengembangkan bisnis. Mereka menjadi pengusaha muslim yang sukses. Harta kekayaannya melimpah. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Fatimah muda ditinggal oleh ayah dan suaminya tercinta yang wafat.

Tinggal Fatimah bersama saudara kandungnya, Maryam. Dua wanita muda ini sepakat akan menggunakan semua warisan kedua orang tuanya untuk membangun masjid. Mereka bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Sejak awal, Fatimah dan Maryam mempunyai tekad dan cita-cita untuk kemajuan masyarakat di kota tersebut.

Fatimah memilih untuk membangun masjid, yang dinamakan Al Qarawiyyin, juga dikenal dengan julukan Masjid Jami’ Al Syurafa’. Sementara Maryam membangun masjid Al Andalus di Spanyol.

Dua masjid ini kemudian bertransformasi menjadi universitas, yang kelak menjadi kiblat dunia pendidikan modern. Mulai dari kurikulum, sistem pengajaran, sampai ke urusan simbol akademik. Hingga kini, pakaian mahasiswa berupa toga ala Fatimah Al Fihri masih dipakai oleh kampus-kampus di segenap penjuru dunia. Toga yang berbentuk segi empat itu merupakan simbol yang diinspirasi dari bentuk Ka’bah di Makkah, sebagai kiblat umat Islam.

Pembangunan Masjid Al Qarawiyyin dimulai pada Ramadan 245 H/859 M. Fatimah turut serta langsung mengontrol dan mengarahkan semua hal yang berhubungan dengan pembangunan Masjid Al Qarawiyyin. Mulai dari pemilihan lokasi strategis hingga terkait dengan arsitektur bangunannya. Seluruh biayanya berasal dari kantong pribadinya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 861 M, masjid megah Al Qarawiyyin dapat berdiri tegak dan mulai beroperasi.

Di Masjid Al Qarawiyyin inilah dilangsungkan sistem pendidikan formal setingkat universitas. Masjid ini menjadi cikal berdirinya Universitas Al Karaouine (Al-Qarawiyyin) di Fez, Maroko. Setelah beberapa waktu, barulah dibangun kelas dan ruang belajar.

Guiness Book of World Records pada 1998 lalu mencatat universitas ini sebagai kampus tertua di dunia. Jauh sebelum lahirnya Universitas Al Azhar di Mesir, Universitas Cambridge, Harvard, Oxford, dan yang lainnya. Di Eropa sendiri, University of Bologna di Italia baru berdiri pada abad ke-11 M. Kemudian diikuti oleh University of Paris di Prancis dan Oxford University di Inggris pada abad ke-12 M.

Tak lama, Masjid Al Qarawiyyin menjadi salah satu tujuan para penuntut ilmu dari berbagai penjuru, mulai Maroko, Jazirah Arab, bahkan Eropa dan Asia. Jumlah mahasiswanya pada abad ke-14 M sudah lebih dari 8.000 orang.

Pada masa Al Murabithi berkuasa, para ulama diberi tugas mulia untuk mengajar di Universitas Al Qarawiyyin. Kota itu berubah menjadi kota yang dipenuhi oleh aktivitas keilmuan.

Sedemikian pesatnya penyebaran ilmu pengetahuan, Kota Fez mampu bersanding dengan pusat ilmu tersohor pada masa itu, yakni Cordova. Adapun di antara cabang ilmu yang diajarkan di Universitas Al Qawariyyin meliputi ilmu Tafsir, Fikih, Bahasa Arab, kedokteran, Matematika, Filsafat, Musik, Sejarah, Kimia, Astronomi, Retorika, hingga Arsitektur.

Universitas Al Qarawiyyin dianggap sebagai pusat intelektual utama di Mediterania. Reputasi yang sangat baik bahkan menyebabkan tokoh Gerber dari Auvergne ikut menjadi mahasiswa Universitas Al Qawariyyin. Gerber kemudian menjadi Paus Silvester II dan kemudian memperkenalkan angka Arab dan angka nol ke seluruh Eropa.

Universitas Al Qawariyyin terus berkembang sebagai kampus inklusif yang menjadi sinar pencerah bagi dunia, tanpa diskriminasi. Tidak hanya terbuka bagi kalangan Muslim, tapi juga diperuntukkan untuk semua. Banyak mahasiswa beragama Yahudi dan Kristen ikut mengeyam bangku pendidikan di sini.

Universitas pertama di dunia ini telah meluluskan banyak sosok pemikir dan ilmuwan Muslim terkemuka. Beberapa di antaranya yaitu Abu Abullah Al Sati, Abu Al Abbas Al Zawawi, Ibnu Rashid Al-Sabti, Ibnu Al Haj Al Fasi, Abu Madhab Al Fas, Ibn Al ‘Arabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Al Khatib, Ibnu Harazim, Muhammad Taqiuddin Al Hilali, dan banyak ilmuwan lain.

Tidak salah, Fatimah Al Fihri, muslimah hebat yang telah mendedikasikan 80 tahun umurnya untuk kemajuan peradaban dunia. Universitas yang mula-mula digagasnya dari pembangunan masjid, kini dijadikan rujukan oleh dunia. Fatimah Al Fihri yang wafat pada 266 H/880 M telah meninggalkan karya monumental yang menjadi karya sejarah besar dalam peradaban dunia. (A/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)