Mengenal Tokoh Pembuka Andalusia

Masjid Cordoba. (Istimewa)

 

Oleh: Rendy Setiawan, Mahasiswa STAI Al-Fatah Bogor

Sejarah Islam menyimpan berjuta kisah dan prestasi yang tak akan ada habisnya untuk dipelajari. Sejak Nabi Muhammad SAW menjabat sebagai wartawan Allah untuk menyampaikan informasi Ilahi sampai wafatnya hingga hari ini, sudah tak terhitung dan tak bisa terucap dengan kata-kata betapa kontribusi umat Islam begitu besar bagi perkembangan dan kemajuan peradaban masyarakat dunia.

Kontribusi umat Islam untuk dunia bukan saja dipersembahkan pada masa-masa akhir ini. Tetapi telah diberikan sejak awal kemunculan Islam. Saat itu belum ada satu pun perdaban yang lebih maju ketimbang peradaban lainnya. Bermula dari Tanah Arab, Islam kemudian meluncur bebas menyusuri wilayah-wilayah yang masih mengalami ketertinggalan. Mulai dari bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang kedokteran, hingga bidang astronomi.

Salah satu contoh kisah menarik yang patut dibaca adalah kisah Abdurahman bin Muawiyah, seorang keturunan Umawi yang kemudian membuka pintu cahaya di tengah kegelapan Bangsa Eropa saat itu. Abdurrahman yang memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik ini membuka lembaran baru Dinasty Umawi di selatan Eropa, tepatnya di wilayah Andalusia (sekarang negara Spanyol).

Anak muda yang masih mewarisi darah Quraisy ini memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Membaca kisahnya mendirikan Daulah Bani Umawi jilid II seperti membaca kisah dongeng. Kalau kita takjub dengan anak muda membuat “kerajaan” bisnis; mendirikan perusahaan, sejuta pencapaian, atau takjub dengan Mark Zuckerberg yang mendirikan FaceBook, maka kita akan lebih takjub lagi dengan kisah Abdurrahman ad Dakhil.

Abdurrahman mendirikan kerajaan dalam arti senyatanya. –atas izin Allah– ia mampu melakukan lobi-lobi tingkat tinggi, memimpin puluhan ribu pasukan untuk tunduk pada komandonya, memadamkan puluhan pemberontakan, menyelamatkan nyawa dari ribuan pedang, semua itu ia lakukan sejak berusia 19 tahun.

Kisahnya dimulai pada tahun 136 H, ketika itu, Abdurrahman tiba di tepi pantai Andalusia seorang diri disambut oleh budaknya, Badr. Begitu Abdurrahman ibn Muawiyah memasuki Andalusia, mulailah ia mengumpulkan para pendukungnya, para pecinta Bani Umawi, kabilah Barbar dan beberapa kabilah yang menentang gubernur Andalusia, Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri. Abdurrahman juga mendapat dukungan dari orang-orang Yaman yang dipimpin oleh Abu al-Ṣabah al-Yashubi.

Abdurrahman mengirim surat kepada Yusuf al Fihri meminta kesediaannya secara baik-baik untuk menyerahkan kepemimpinan dan al-Fihri akan diangkatnya sebagai salah seorang pejabat pentingnya di Andalusia. Tetapi Yusuf al Fihri menolak hal tersebut sehingga ‘Abd al-Rahmān ibn Mu’āwiyah menyiapkan pasukan untuk memeranginya.

Maka pada tahun 756 M (138 H) terjadi pertempuran antara Abdurrahman ibn Mu’awiyah dengan Yūsuf bin Abdurrahman al-Fihrī di tepi Sungai Guadalquivir. Pertempuran ini dikenal dengan Pertempuran al-Muṣarah yang dimenangkan oleh Abdurrahman ibn Mu‘awiyah. Sementara itu Yusuf al Fihri melarikan diri.

Setelah meraih kemenangan dalam pertempuran al-Muṣarah, Abdurrahman memasuki Cordoba, dan dia diberi gelar “ad Dakhil”, yang berarti “masuk” karena dialah orang pertama dari kalangan Bani Umayyah yang masuk ke Andalusia sebagai pemimpin.

Sejak itu babak baru Daulah Umawi di Andalusia. Fase ini dikenal sebagai periode Keamiran yang dimulai sejak tahun 756 M (138 H) dan berakhir 928 M (316 H). Disebut “Keamiran” karena saat itu Andalusia telah terpisah dari kekhilafahan Islam, baik yang ada di masa kekhilafahan Abbasiyah ataupun yang ada sesudahnya hingga akhir masa Andalusia.

Namun tak lama setelah Daulah Umawi jilid II berdiri di Andalusia, wilayah itu dilanda pergolakan terus-terus yang dipelopori oleh orang Yamaniyun (Arab Selatan) dan bangsa Barbar.

Pada saat yang sama, Khalifah Al Manshur mengirimkan bala tentaranya yang terdiri dari para budak belian yang setia kepada Daulah Abbasiyah untuk mengembalikan Andalusia ke tangan mereka. Lagi-lagi, ad Dakhil mampu memadamkan berbagai pergolakan tersebut, serta memukul mundur tentara al Manshur.

Tatkala Harun ar Rasyid memegang kendali pemerintahan di Baghdad, Charlemagne (Raja Perancis), dengan leluasa memerangi musuhnya di Andalusia, karena Harun Ar-Rasyid sedang memerangi Byzantium, musuh Charlemagne.

Raja Perancis itu menyeberangi gunung Brawns untuk menyerang Abdurrahman. Namun karena ada berita kekacauan yang melanda imperiumnya, dia terpaksa kembali lagi dan urung menyerang Andalusia.

Kekalahan Perancis membuat Abdurrahman ad Dakhil tenang. Tatkala memasuki Andalusia, ia menemukan bahwa tentaranya telah diatur sesuai dengan cara yang berlaku dalam kabilah Badui. Dia kemudian membangun angkatan bersenjata yang teratur yang jumlahnya tidak kurang dari empat puluh ribu personil.

Dia sadar bahwa Andalusia sangat mungkin diserang dari tiga arah di lautan. Oleh sebab itu, dia kemudian membangun armada perang laut yang tergolong sebagai armada yang pertama kali di Andalusia. Armada inilah yang pada zaman Abdurrahman III menjadi armada perang laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.

Ad Dakhil dikenal sebagai orang yang cerdas dan berani. Dia memilih menaklukan Spanyol daripada harus merebut kembali kekuasaan khalifah dari tangan Abbasiyah. Dengan pasukan yang dihimpunnya selama perjalanan, ia kemudian memilih menyerang Cordoba. Dia berhasil menaklukkan kota itu dan kemudian menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan.

Masa pemerintahannya dikenal oleh para ahli sejarah dengan masa pembangunan besar-besaran. Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperolah air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Cordoba dan istana.

Pada zamannya pula, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi, dan perkembangan peradaban yang sangat pesat. Tampaknya dia telah menyiapkan hal itu dalam masa yang cukup lama. Suatu kemajuan yang belum pernah dicapai oleh Andalusia hingga saat ini.

Cordoba bersaing dengan Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) dan Baghdad dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni. Cordoba dikenal sebagai Pengantin Andalusia dan Permata Dunia.

Sebutan Permata Dunia disematkan karena di sana terdapat sebuah taman yang dinamakan al Rusafah di luar kawasan, menjadikan Cordoba sebagai pusat dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa, dan sebagai tandingan dari Baghdad yang berada di bagian Timur.

Kontribusi yang diberikan olehnya dalam bidang penulisan ilmu menarik orang-orang untuk belajar ke istananya. Selain itu, ad Dakhil juga mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Cordova, Universitas Toledo dan Universitas Sevilla.

Selain itu, Ad Dakhil juga dikenal sebagai seorang penyair dan orator ulung. Meskipun sejarah menyebutkan bahwa dia adalah pemuda terusir, namun dengan ketegaran dan kemauan kerasnya ia berhasil mendirikan Daulah Umayyah II yang mampu bertahan hingga 1031 M. Dia mampu mengatasi serangan dari dua kekuatan besar di Timur dan Barat, Harun ar Rasyid dan Charlemagne.

Tiga tahun sebelum meninggal dunia, Abdurrahman merenovasi dan memperluas bangunan Masjid Cordoba. Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar yang berjumlah 1293 tiang. Dia laksana Ka’bah kaum Muslimin di dunia Islam bagian barat. Hingga kini masjid itu masih berdiri megah. Ia termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Istana Al-Hamra, sebagai peninggalan sejarah yang menarik.

Setelah memerintah selama 32 tahun, Abdurrahman ad Dakhil meninggal pada 172 H dalam usia 61 tahun di Andalusia. Dari seorang pelarian politik, ia menjadi penguasa yang disegani kawan dan lawan. (A/R06/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)