Mengenang 29 Tahun Tragedi Kota Khojaly

Oleh: Hamidah Juariah, Mahasiswa STAI Al Fatah, Bogor

Dikenal dengan sebutan Khojaly, merupakan kota di Azerbaijan, dan Azerbaijan merupakan negara sekuler pecahan Uni Soviet dengan mayoritas 95 persen penduduknya beragama Islam. Namun, kehidupan Islam di negara itu terbilang unik, penganut Syiah dan Sunni hidup harmonis berdampingan secara damai selama puluhan tahun.

Letaknya di Kaukasus di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya, negara itu berbatasan dengan Rusia di sebelah Utara, Georgia dan Armenia di Barat dan Iran di Selatan.

Khojaly terletak di wilayah Nagorno-Karabakh memiliki luas 940 kilometer persegi dan penduduknya mencapai 7.000 yang kebanyakan warga Azerbaijan.

Pada awal 1988, orang-orang Armenia memulai tindakan agresif terhadap Azerbaijan yang berencana secara sepihak memisahkan Nagorno-Karabakh dari Azerbaijan dan ingin menguasai wilayah tersebut.

Khojaly yang berada di wilayah itu, menjadi sasaran aksi brutal mereka, tragedi terjadi di malam hari pada 25-26 Februari 1992 dimana pasukan senjata Armenia dengan dukungan dari Resimen Infantri Bermotor ke-366 bekas Uni Soviet, bergerak merebut kota itu.

Dengan menduduki Khojaly, Armenia bertujuan untuk mendapatkan keuntungan strategis dan kondisi yang menguntungkan untuk menguasai kota-kota lain di wilayah Nagorno-Karabakh.

Mereka juga bertujuan menghapus Khojaly dari muka bumi, karena jejak sejarah di Khojaly dan sekitarnya menjadi bukti sejarah yang menyangkal klaim teritorial Armenia terhadap Azerbaijan.

Pasukan Armenia dengan leluasa melakukan pembantaian besar-besaran terhadap warga sipil, sebab kota itu adalah permukiman yang sepenuhnya dihuni rakyat sipil tanpa peralatan dan benteng militer yang mumpuni.

Saat pembantaian dimulai, sekitar 2.500 penduduk yang tersisa mencoba melarikan diri untuk bisa sampai di wilayah kendali Azerbaijan, namun usaha mereka gagal karena pasukan Armenia dengan cepat menangkap mereka.

Hanya sedikit dari penduduk Khojaly yang sampai di kota Aghdam yang dikuasai Azerbaijan, diantara mereka ada yang dibunuh dengan tembakan dari pos militer Armenia, ada pula terutama perempuan dan anak-anak meninggal karena kedinginan saat mencoba lari ke daerah pegunungan.

Tragedi malam tragis itu secara keseluruhan, membunuh 613 warga sipil, diantaranya 106 wanita, 63 anak-anak dan 70 lansia. Sedangkan, 1.275 orang disandera, 487 mengalami luka-luka termasuk 76 anak-anak dan 150 lainnya hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Sementara itu, ada 8 keluarga yang seluruhnya tewas terbunuh, 130 anak kehilangan salah satu orang tuanya, 25 anak kehilangan kedua orang tuanya.

Dari mereka yang tewas, 56 orang dibunuh dengan dengan sangat keji, mereka dibakar hidup-hidup, dipenggal dan dicungkil matanya.

Kota itu pun akhirnya rata dengan tanah, bersama dengan Khojaly, Armenia menduduki wilayah Azerbaijan lainnya di wilayah Nagorno-Karabakh dan tujuh distrik yang berdekatan.

Mereka melakukan pembersihan etnis di daerah yang direbut, mengusir satu juta orang Azerbaijan dari tanah air mereka dan melakukan kejahatan kemanusiaan lainnya.

Pada 28 Februari, dua helikopter bersama sekelompok wartawan berhasil mencapai kota Khojaly, yang didapat pemandangan yang mengerikan, semua lapangan dipenuhi oleh mayat. Tugas helikopter itu,  mengambil mayat yang berserakan.

Namun, helikopter itu, hanya mampu membawa empat mayat karena penembakan intens oleh Armenia.

Pada 1 Maret, sekelompok wartawan asing dan lokal juga berhasil sampai di lokasi pembunuhan massal. Mereka dikagetkan dengan penampakan yang mengerikan, mereka menyaksikan mayat-mayat itu ada yang dimutilasi dan dikuliti.

Kota itu menyimpan sejarah pilu yang menyesakkan, ketika kembali mengenang sejarah itu, ada kebahagiaan bagi mereka yang memiliki kenangan indah, namun menjadi isak tangis bagi mereka karena kenangan buruk. (A/Hju/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)