Menjadi Generasi Muslim (Oleh: Muhamad Abduh, Lc)

Syubban Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Alumnus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)

Setiap muslim adalah pengabdi Allah SWT. Ia harus selalu tunduk dan patuh, berserah diri kepada-Nya. Karena itu, agar manusia bisa beribadah dengan benar kepada-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Keduanya berfungsi sebagai penjelasan (tibyan) yang menjelaskan cara beribadah kepada Allah, hukum-hukum syariah dan lain sebagainya. Sehingga manusia dapat beribadah kepada Allah secara baik dan benar.

Dalam hal pengabdian kepada Allah Ta’ala, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Seperti dijelaskan Al Qur’an surat Fathir ayat 32.

{ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32)

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

Tafsir Surat Fathir, ayat 32

Allah Swt. berfirman, “Kemudian Kami jadikan orang-orang yang mengamalkan Kitab yang Besar yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya adalah orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,” Mereka adalah umat Nabi Muhammad Saw. Kemudian mereka terbagi menjadi tiga golongan, untuk itu Allah Swt. berfirman:

{فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ}

Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Fathir: 32)

Dia adalah orang yang melalaikan sebagian dari pekerjaan yang diwajibkan atasnya dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan.

{وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ}

Artinya: dan di antara mereka ada yang pertengahan. (QS. Fathir: 32)

Dia adalah orang yang menunaikan hal-hal yang diwajibkan atas dirinya dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, tetapi adakalanya dia meninggalkan sebagian dari hal-hal yang disunatkan dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang dimakruhkan.

{وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ}

Artinya: dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. (Fathir: 32)

Dia adalah orang yang mengerjakan semua kewajiban dan hal-hal yang disunatkan, juga meninggalkan semua hal yang diharamkan, yang dimakruhkan, dan sebagian hal yang diperbolehkan.

Untuk menjadi generasi muslim di atas rata-rata membutuhkan perjuangan dan keistiqomahan. Di antara karakteristik generasi muslim di atas rata-rata sehingga kita bisa masuk ke dalam kelompok sabiqun bil khairat, antara lain sebagai berikut.

Pertama, memiliki jiwa mujadid, berusaha untuk mengamalkan Islam dengan murni. Tajdid di sini adalah memperbaharui agama Islam yang telah dipraktekan oleh kaum muslimin dengan cara mengajarkan amal-amal shalih dan mulia, menyebarkan ilmu agama di antara manusia, serta menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah, menolak dan memerangi bid’ah (ibadah yang tidak ada dasar dalilnya) yang telah menyebar di antara kaum muslimin.

Sifat ini atau karakter mujadid ini disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadistnya yang berbunyi :

”إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها“

Hadist Ini shohih diriwayatkan oleh imam Al hakim di kitabnya al Mustadrak.

Sedangkan yang dimaksud dengan puncak 100 tahun, adl: Allah mengutusnya di akhir fase abad (100 tahunnya), bukan di awal-awal abad dimulai dari awal abad hijrah/kalender hijriah. Maksud di atas, seperti yang dikatakan oleh Dr Sholaby dalam kitab beliau ”Ad-daulah Al-umawiyyah.”

Kedua, memiliki jiwa jujur dalam hidupnya. Jujur dalam perkataan, juga dalam perbuatan serta perangainya mengikuti perangai Nabi Muhammad SAW. Hal ini seperti disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِینَ)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” [Qs. At-Taubah 119]

Tafsirnya menurut Imam Al Qurthubi:

حق من فهم عن الله وعقل عنه أن يلازم الصدق في الأقوال ، والإخلاص في الأعمال ، والصفاء في الأحوال ،
فمن كان كذلك لحق بالأبرار ووصل إلى رضا الغفار

Selayaknya bagi siapa yang telah memahami tentang Allah dan telah berakal tentang siapa Allah, hendaknya Ia selalu melazimkan / membiasakan berbuat Jujur dalam segala ucapan-ucapannya, dia ikhlas dalam beramal, dan bersih atau jernih dalam keadaan dari syirik / kemungkaran. Maka barangsiapa yang mampu melaksanakan yang demikian itu, dia akan berkumpul dengan orang-orang baik (abror) dan pasti dia telah sampai (mendapatkan) ridho sang maha pengampun (Ghaffar) Allah SWT.

Ketiga, senantiasa menjaga Al Quran dan mengamalkannya. Karena dia akan meraih suatu derajat yang tinggi dari Allah SWT, yaitu akan menjadi keluarga Allah di muka bumi dan menjadi orang khusus / istimewa di sisi Allah SWT.

Disebutkan dalam hadis Rasulullah yang memberikan keistimewaan bagi generasi/kaum muslimin yang hidupnya dipenuhi dengan Al Quran. Diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda,

إنَّ للَّهِ أَهْلينَ منَ النَّاسِ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ ، من هُم ؟ قالَ: هم أَهْلُ القرآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وخاصَّتُهُ

الراوي : أنس بن مالك | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح ابن ماجه

Diriwayatkan oleh Sahabat Anas Bin Malik, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki keluarga di muka bumi, Para sahabat menjawab: Ya Rasul, Siapakah mereka? Nabi Menjawab: Mereka Adalah Ahli Al-Quran dan Orang yang Khususnya.

Keempat, tutur ucapannya baik dan istiqomah dengan keislamannya di manapun ia berada.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
(Q.S Fushilat : 33)

Muslim yang unggul dia akan senantiasa menjalankan keislamannya di manapun ia berada, juga mendakwahkan nilai-nilai Islam yang ia yakini baik secara lisan, tulisan atau praktek real di medan kehidupannya.

Demikian sedikit penjelasan tentang pentingnya kita menjadi pribadi muslim yang unggul, tidak rata-rata seperti pada umumnya kaum muslimin. Jangan sampai kita menjadi golongan atau kelompok yang menganiaya diri mereka sendiri (dzalim linafsih).

Semoga Allah karuniakan kepada kita kekuatan untuk terus beribadah secara istiqomah, Aamiin. (AK/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)