Menristek Hadiri 17th Annual Meeting of Science and Technology in Society Forum

Jakarta, MINA – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro berpartisipasi dalam penyelenggaraan 17th Annual Meeting of Science Technology in Society forum (STS forum) yang diselenggarakan Sabtu-Selasa (3-6) Oktober 2020.

Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema “Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Era Pasca COVID-19.” Demikian dalam keterangan tertulis yang diterima MINA, Senin (5/10).

Menteri Bambang mengikuti dua kegiatan pada rangkaian acara tersebut yaitu “17th Science and Technology Minister Roundtable dan Session 200: Science and Technology Education for Society,” pada Sabtu dan Ahad, 3-4 Oktober 2020.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kegiatan yang diadakan oleh Pemerintah Jepang dan STS forum tersebut diselenggarakan secara virtual.

STS forum merupakan lembaga nirlaba internasional yang dibentuk pada tahun 2004 di Jepang, yang bertujuan untuk memajukan kontribusi Ilmu pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di dunia, serta mengembangkan jejaring antara pemangku kepentingan Iptek dari sektor bisnis, politik, akademisi, pemerintah, dan media massa.

Pada pertemuan 17th Science and Technology Minister Roundtable, Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro menyatakan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Jepang yang telah menyelenggarakan pertemuan di tengah situasi pandemi yang terjadi saat ini.

Menteri Bambang mengatakan, saat ini COVID-19 merupakan tantangan besar bagi negara-negara di seluruh dunia. Namun demikian, hal ini juga dapat menjadi peluang terlebih bagi Indonesia untuk mendorong transformasi digital dan menciptakan ekosistem ‘Less Contact Economy (LCE) yang merupakan salah satu penggerak menuju ekonomi berbasis inovasi yang berkelanjutan.

“Melalui konsorsium riset dan inovasi COVID-19 di bawah kementerian kami, Indonesia telah mengembangkan lebih dari 61 inovasi selama masa pandemi ini dengan pendekatan ‘triple-helix. Saat ini kami juga sedang berupaya mengembangkan vaksin melalui dua jalur, yaitu berkolaborasi dengan negara lain. Serta di sisi lain, kami juga mengembangkan vaksin sendiri, vaksin Merah Putih yang telah mencapai kemajuan 50 persen,” ucapnya.

Pertemuan ini dipimpin oleh Inoue Shinji, Menteri Negara bidang Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jepang. Selain itu, pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan Menteri di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun pejabat setara dari 35 negara yang berpartisipasi, seperti Angola, Brazil, India, Kanada, dan Rusia.

Pada kegiatan ‘Session 200: Science and Technology Education for Society, Menteri Bambang menjadi pembicara kunci dalam diskusi panel bersama pembicara dari negara lain.

Pada kesempatan itu, Menteri Bambang menjelaskan perspektif Indonesia tentang perekonomian global pasca covid-19 dan peran penting yang akan dimainkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi terlebih peran universitas dalam hal penelitian dan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat dua hal yang menjadi pelajaran penting khususnya bagi Indonesia selama masa pandemi ini. Pertama mengenai transformasi digital dan yang kedua mengenai semangat kolaborasi riset.

“Sebagaimana yang telah kita ketahui sebelum masa pandemi, kita telah berada di era revolusi industri 4.0. Kemudian, masa pandemi bagi Indonesia setidaknya telah mempercepat perlunya melakukan transformasi digital karena semuanya kini dilakukan dalam ‘Less Contact Society, sehingga kita biasa menyebut situasi saat ini sebagai ‘Less Contact Economy (LCE). Dengan percepatan transformasi digital, tentunya semakin banyak kegiatan rutin yang akan tergantikan oleh pendekatan digital termasuk dalam dunia pendidikan,” ucapnya.

Meskipun saat ini butuh upaya lebih untuk beradaptasi dari pembelajaran luring ke pembelajaran daring, Menteri Bambang yakin bahwa pembelajaran secara daring harus tetap dilanjutkan karena pembelajaran ini akan menjadi masa depan dari pendidikan itu sendiri. Namun tentunya hal ini akan dikombinasikan dengan metode luring. Sama halnya dengan LCE yang tetap diberlakukan dan terus dikembangkan bahkan saat masa pandemi ini berakhir.

“Kita perlu membiasakan transformasi digital ke dalam kegiatan ekonomi konvensional dan memastikan masyarakat semakin senang untuk melakukan kegiatan ekonomi dan bisnis melalui pendekatan digital dibandingkan cara tradisional sebelumnya,” pungkasnya.(R/R11/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)