Mensyukuri Ketidaktahuan VS Menikmati Kebodohan

Oleh: Taufiqurrahman, Redaktur MINA versi Bahasa Arab

Kadang kebodohan yang ada pada diri kita bisa menjadi nikmat yang layak disyukuri, kadang pula bisa menjadi bencana yang harus dihindari.

Diantara keistimewaan ajaran Islam adalah kemudahan. Allah Ta’ala dengan rahmatNya menjadikan Islam agama yang mudah untuk dilaksanakan. Allah tidak akan membenani seorang hamba dengan satu syariat yang menyulitkannya melainkan Dia berikan jalan kemudahan untuk menjalaninya.

Berulang kali Allah tegaskan prinsip kemudahan itu melalui berbagai ayatNya. Dia Ta’ala berfirman:

{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ اليُسرَ ولَا يُرِيدُ بِكُم العُسرَ}

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS Al Baqarah: 185)

{ومَا جَعَلَ عَلَيكُم فِي الدِّين مِن حَرَجٍ}

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS Al Hajj: 78)

{يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُم وخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفًا}

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An Nisa: 28)

{لَا يُكَلِّفُ اللّهُ نَفساً إِلاَّ وُسعَهَا}

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah: 286)

Shalat lima waktu hukumnya wajib dan haram ditinggalkan karena alasan apapun. Namun terkait sifat pelaksanaannya Allah banyak berikan keringanan (rukhshah) bagi kita. Saat kita tidak bisa shalat dengan berdiri karena sakit, kita dibolehkan shalat duduk. Dan seterusnya. Dia persilakan kita menunaikannya sesuai kesanggupan kita, asal jangan meninggalkannya.

Bentuk kemudahan lainnya Dia tidak akan membebani kita suatu syariat yang kita tidak tahu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: [1] orang yang tidur sampai dia bangun, [2] anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan [3] orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Syeikh Ramadhan Al Buthi dalam kitabnya Al Jihad fil Islam menjelaskan ada tiga syarat yang harus terpenuhi hingga seseorang terkena taklif, yaitu pemberitahuan, kemampuan dan kebebasan memilih atau tidak dipaksa.

Imam Jalaludin Al Mahalli dalam syarh Jam’ al Jawami menjelaskan orang yang ghafil atau tidak tahu tertolak dari beban syariat. Sebab taklif mensyaratkan adanya ilmu atau pengetahuan terhadap taklif. Dan orang yang ghafil tidak tahu itu sehingga tercegah dari beban taklif.

Mampu dan tahu adalah dua syarat yang wajib terpenuhi sehingga seseorang terkena taklif, beban syariat. Anda tidak mampu haji karena tidak punya bekal, Anda tidak wajib haji. Anda tidak mampu puasa Ramadhan karena sakit, tidak wajib atas Anda puasa. Anda tidak mampu shalat wajib berdiri, Anda boleh shalat duduk. Dan seterusnya.

Terlalu banyak aturan syariat dalam Islam yang kita tidak tahu dan tidak mampu. Dan kita tidak berdosa karena tidak menunaikan semua yang tidak kita tahu dan tidak kita mampu.

Sebenarnya bukan karena kita tidak tahu atau tidak mampu, tapi semata sebab rahmat Allah Ta’ala. Dia menciptakan kita dengan segala kekurangan kita. Kita manusia lemah, bodoh, fakir, selalu mengeluh dan banyak berbuat dosa. Dan dengan rahmat serta ampunanNya, Dia tidak menghukum kita karena segala kekurangan itu selama kita berjuang memperbaiki diri, terus belajar dan bertaubat, memohon ampunanNya.

Namun perlu kita tahu, ada ketentuan penting untuk kita bisa keluar dari beban syariat manakala kita tidak mampu atau tidak tahu. Ketentuan itu adalah adakah upaya kita untuk tahu dan untuk mampu?

Di sini penting dicatat, bahwa Islam mewajibkan seorang muslim untuk menuntut ilmu. Sebab itulah sarana utama seseorang meraih ilmu yang dengannya ia berupaya untuk tahu apa yang menjadi kewajibannya sebagai muslim. Dan karenanya ia terlepas dari beban dosa manakala ia tidak tahu apa yang wajib baginya sejauh ia terus berusaha menuntut ilmu.

Dasarnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berikut,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan)

Tentu saja beda antara tidak tahu dengan tidak mau tahu. Yang pertama ketidaktahuan yang lahir dari ketawadhuan, karena ketidakmampuan diri mengetahui segala hal meski telah jerih payah menuntut ilmu. Ia menyadari hakikatnya manusia yang serba terbatas dan kurang. Bahkan di titik ia berjuang menuntut ilmu, ia semakin sadar betapa sedikit ilmunya, betapa bodoh dirinya. Seperti padi semakin berisi ia semakin merunduk.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (al-Kahfi: 109)

Dan yang kedua adalah ketidaktahuan yang lahir karena kesombongan. Ia menolak untuk tahu karena merasa dirinya tidak butuh tahu. Bisa saja ia sadar dirinya bodoh, tapi ia nyaman dengan kebodohan itu bahkan menikmatinya. Padahal ia mampu untuk tahu. Namun ia memilih tidak tahu dan menyibukkan diri pada dunia yang membodohinya.

Maka sangat beda antara mereka yang berilmu dengan mereka yang tak berilmu.

أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar: 9)

Allah sifati orang yang menuntut ilmu sebagai orang yang berakal dan mensifati orang bodoh sebagai orang yang tak berakal. Mereka yang berakal dapat menerima pelajaran. Dan mereka yang tak berakal enggan belajar dan menerima pelajaran.

Mari terus belajar dan belajar, menuntut ilmu agama. Niatkan dalam diri untuk mencabut kebodohan dalam diri serta menyadari betapa penting beragama berdasarkan ilmu. Memahaminya dengan ilmu, meyakininya dengan ilmu, mengamalkannya dengan ilmu serta mendakwahkannya dengan ilmu.

Meski pada ujungnya kita tetaplah sebagai orang yang bodoh dan lemah, minimalnya ada niat dan upaya tiada henti untuk tahu berbagai aturan syariat dan terus berjuang untuk mampu menunaikannya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah: 208)

Syeikh As Sa’di dalam tafsirnya mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan, “..yang wajib adalah menundukkan hawa nafsunya kepada agama, dan ia melakukan segala perbuatan baik dengan segala kemampuannya, dan apa yang tidak mampu dia lakukan, maka dia berusaha dan berniat melakukannya dan menjangkaunya dengan niatnya tersebut.”

Teman..

Kadang kebodohan yang ada pada diri kita bisa menjadi nikmat yang layak disyukuri, kadang pula bisa menjadi bencana yang harus dihindari. Ia menjadi nikmat yang layak disyukuri saat kita menyadari itu sebagai rahmat Allah Ta’ala lalu kita syukuri dengan belajar dan terus belajar untuk menguringi kebodohan itu. Dan menjadi bencana manakala kita menikmati kebodohan itu dengan enggan dan malas belajar. (L/RA 02)