Menteri Galant Larang Kelompok yang Sebut Israel Negara Apartheid

Tel Aviv, MINA – Menteri Pendidikan Israel Yoav Galant melarang kelompok-kelompok yang menyebut Israel “negara apartheid” untuk melakukan kunjungan sekolah guna menyampaikan informasi kepada siswa, CBS News melaporkan.

Menteri Galant men-tweet pada Senin (18/1) bahwa dia telah menginstruksikan direktur jenderal kementerian untuk “mencegah masuknya organisasi yang menyebut Israel ‘negara apartheid’ atau merendahkan tentara Israel untuk mengajar di sekolah.”

Langkah tersebut menyusul publikasi laporan pekan lalu oleh kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem. Organisasi itu mengecap Israel sebagai negara “apartheid” yang “mempromosikan dan melanggengkan supremasi Yahudi antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan.”

Menggemakan laporan PBB 2017 yang menyimpulkan bahwa Israel mempraktikkan apartheid, B’Tselem menepis kesalahpahaman populer bahwa itu adalah demokrasi dalam Garis Hijau (Gencatan Senjata 1949).

Ia berpendapat bahwa setelah lebih dari setengah abad pendudukan, negara harus diperlakukan sebagai satu kesatuan yang dipandu oleh prinsip pengorganisasian rasis inti, yaitu “memajukan dan melanggengkan supremasi satu kelompok – Yahudi – atas kelompok lain – Palestina.”

B’Tselem mengatakan, hal itu tidak akan tergoyahkan dengan pengumuman menteri tersebut. Direktur Jenderal Hagai El-Ad berbicara di sebuah sekolah di Haifa hari ini.

“Selama bertahun-tahun kami telah mengekspos siswa kami pada berbagai macam opini dari seluruh spektrum politik Israel,” kata Sekolah Reali Ibrani. “Kami menghormati hak siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka dan bangga atas keterlibatan mereka dalam isu-isu di jantung masyarakat Israel. Kami mengadakan dialog yang saling menghormati dan bermaksud untuk melanjutkan tradisi ini.”

Didirikan pada tahun 1989 selama intifada pertama, B’Tselem mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza yang diduduki.

“B’Tselem bertekad untuk menjaga misinya dalam mendokumentasikan realitas, menganalisisnya, dan membuat temuan kami diketahui publik Israel dan seluruh dunia,” tegasnya. (T/RI-1/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)