Merasa Beriman Tapi Belum Diuji (Tadabbur Qs. Al Ankabut ayat 2)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Seringkali kita merasa sudah menjadi orang beriman, karena kita tak pernah ketinggalan sholat berjama’ah di masjid, rajin membaca al Qur’an, gemar bersedekah, sholat dhuha, banyak membantu orang lain, berbuat jujur dan sederet kebajikan lainnya yang sudah dilakukan.

Benarkah kita sudah menjadi orang beriman? Pengakuan lisan boleh saja. Namun, Allah Ta’ala yang maha melihat bagaimana sesungguhnya keimanan di hati kita. Allah tidaklah membiarkan begitu saja orang yang mengaku sudah beriman, tapi ia sendiri belum diuji oleh Allah. Harus diperhatikan, ujian yang diberikan Allah Ta’ala kepada setiap hamba-Nya itu sesuai kadar keimanan hamba-Nya. Artinya, ujian itu besar kecilnya menurut takaran standar Allah, bukan standar manusia.

Ada orang yang ketika diuji, menurut dia dan orang lain yang melihat ujiannya begitu berat. Namun, dia lupa bahwa Allah Ta’ala tidak pernah membebani ujian diluar batas kemampuan sang hamba itu sendiri, di sinilah letak keadilan dan kemahabesaran Allah pada setiap hamba-Nya.(Qs. 2 ayat 286).

Jangan mengatakan beriman jika belum Allah uji. Allah Ta’ala berfirman dalam al Qur’an,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? “ (Qs. Al ‘Ankabuut : 2).

Maksud dari ayat ini bahwa Allah SWT akan senantiasa memberi ujian kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai kadar keimanan yang selama ini ia miliki. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis sahih, “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh. Kemudian disusul oleh orang-orang mulia, lalu oleh orang-orang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan keagamaannya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin keras pula cobaannya.” (At-Tirmidi dan Ahmad).

Surat Al-‘Ankabuut ayat 2 senada dengan firman Allah di surat Al-Baqarah ayat 214,

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Dan dalam ayat selanjutnya di surat Al ‘Ankabuut ayat 3 Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Hidup adalah estafet ujian

Ayat 3 pada surat Al ‘Ankabut di atas memberi gambaran kepada setiap orang beriman bahwa hidup ini hakikatnya adalah estafet ujian. Selesai Allah Ta’ala memberikan ujian yang satu, maka ujian demi ujian lain sedang menanti seorang hamba-Nya yang mukmin. Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala mengatakan telah menguji orang-orang sebelum mereka.

Dari ujian yang diberikan itu Allah akan melihat siapa sebenarnya orang-orang yang benar keimanannya. Allah juga melihat siapa di antara orang-orang yang berimannya sekedar senda-gurau dan penuh tipu muslihat serta kedustaan.

Sekali lagi, setiap ujian itu ada takarannya. Takaran itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing hamba-Nya. Tak perlu harus mengeluh. Apalagi berputus asa. Pertanyaannya adalah sejauh mana kesiapan kita dalam menghadapi ujian tersebut.

Kita tidak bisa menebak kapan dan di mana ujian itu datang menghampiri. Namun yang paling penting untuk dilakukan saat ini adalah mempersiapkan diri dengan senantiasa memohon pertolongan pada Allah Ta’ala. Ya, mempersiapkan diri kita terhadap ujian-ujian yang diberikan Allah terhadap kita. Dan tentunya berusaha ‘menikmati’ prosesnya.

Manusia seringkali mendefinisikan ujian sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan saja. Mereka lupa, bahwa hal yang menyenangkan pun merupakan sebuah ujian. Kedudukan, harta melimpah, keluarga, pengaruh dan anak yang sehat pun merupakan sebuah ujian.

Karena itu, orang beriman yang kuat ketika diuji, lisannya akan mengucapkan innalillah, bukan mengeluh, frustasi, putus asa atau mengucapkan sumpah serapah atas apa yang menimpanya. Ia menyadari bahwa semuanya merupakan ketentuan dari Allah. Kesadaran dan kesabaran untuk menerima datangnya ujian adalah hal yang seharusnya terpatri kuat di setiap hati orang beriman. Laa haula wala quwwata illah billah.(A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)