Misteri Buah Khuldi (Bagian 3)

Oleh : Wildan Alami, Founder Tokoh Nasional Learning Centre

Hikmah Buah Khuldi

Keenam, buah Khuldi adalah buah jebakan.

‘Lihatlah pohon ini! Manis sekali baunya! Betapa enak rasanya! Betapa indah warnanya!’.  Ini adalah ucapan iblis kepada Siti Hawa, dan ucapan Siti Hawa kepada Nabi Adam. Dilihat dari karakternya, buah Khuldi memang diciptakan sangat menarik, menawan hati dan menggugah selera. Membuat siapapun sulit untuk menolaknya, bahkan ingin memiliki dan memperbanyaknya. Padahal dari segi dzatnya membuat Nabi Adam sakit perut. Dari segi sifatnya membuat Adam dan Hawa terbuka auratnya.

Selain itu, buah Khuldi ini dari branding-nya saja menjanjikan kemuliaan dan keabadian. Bahkan di dalam tafsir lain, syaitan mengatakan bahwa buah Khuldi ini akan membuat manusia memiliki kedudukan tinggi seperti Tuhan. Padahal kenyataanya buah ini telah menurunkan derajat Adam dari kemuliaaan menjadi kehinaan. Memindahkannya dari tempat terbaik ke tempat yang penuh onak dan duri (dunia).

Buah ini adalah buah yang tampilannya baik, tapi isinya buruk. Aromanya harum tapi dzatnya beracun. Rasanya sedap tapi tidak menyehatkan badan.

Menghadapi buah ini membutuhkan intelejensi dan intuisi yang kuat. Intelejensi akan membuat orang bisa menebak apa yang nyata dari apa yang nampak. Intuisi akan membuat orang mengetahui kebenaran meskipun tidak disertai argumen dan data yang kuat sebab itu merupakan anugerah penghilahatn ilahiyah (bi’saroh) dari Allah SWT. Intelejensi dan intuisi ini akan dimiliki apabila seseornag memiliki iman yang kuat. ornag-yang beriman (kadar spiritual tinggi) tidak akan tergoda/terkelabuhi oleh kenikmatan-kenikmatan yang sifatnya materialistic.

Ketujuh, Buah Khuldi adalah jalan kehidupan yang menyesatkan.

“Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga”

Iblis mengatakan bahwa buah ini akan membawa pada kemuliaan dan kehidupan abadi surga. Padahal kenyataannnya. Padahal hanya kerina mencicipinya saja buah itu telah membuat adam nampak hina (dengan terbuka aurat) dan membuat murka Allah dan mengusirnya dari surga.

Kalau ditafsir secara analogis, buah ini seperti yang difirmankan Allah dalam surah Albaqoroh ayat 11 dan 12 yaitu “Waidzaa qiila lahum laa tufsiduu, qaaluu inamaa nahnu muslihuun. Alaa innahum humul mufsiduuna walaa kinlaa yas’uruun” yang artinya “dan apabila dikatakan kepadan mereka (janganlah kalian berbuat kerusakan) mereka berkata sesungguhnya kami adalah termasuk yang berbuat kebaikan. Padahal sesungguhnya mereka adalah orang yang berbuat kerusakan akan tetapi mereka tidak menyadari.”

Ayat itu berbicara tentang, tujuan, jalan dan cara hidup yang dijalankan/dilakukan oleh manusia. Dalam surat alfatihah ini dinamakan dengan “shiroth”. Disana ada 3 pilhan yaitu “Shirot almustaqim / jalan yang lurus”,  “Shirot al-maghdub / jalan yang dimurkai” serta “shirot ad-dhallin/jalan yang sesat”. Shirot ini adalah bahasa alquran yang dalam bahasa kehidupan berbangsa dan bernegara disebut ideologi, disebut konstitusi, disebut sistem sosial, disebut kebudayaan dan peradaban.

Kita pernah mendengar ideologi kapitalisme dan komunisme yang menjanjikan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Padahal kenyataannya malah mencitakan kerusakan bumi di mana mana. Kapitalisme menganggap bahwa dengan mengeksloitasi sumber daya alam sebanyak banyaknya dapat memenuhi seluruh kebutuhan manusia. Padahal kapitalisme telah membuat manusia menjadi kering spiritual, individualistik, serakah dan kerusakan lingkungan yang mengakibatkan bencana.

Begitupun sosialisme/komunisme. Ideologi ini sama-sama materialistik atau material-sentris. Semua berpusat pada materi, materi melahirkan ego, sosialisme mengajarkan manusia mentuhankan ego, sehingga ia menghendaki adanya kebebasan (liberalisme) dan kesetaraan hak hak hidup (egalitarianisme).

Ideologi ini sangat berbahaya karena merusak tatanan sosial. Tatanan sosial dibuat sangat terstruktur, harmonis. Diciptakan dari Allah, dan harus tunduk kepada Allah yang mengendalikan seluruh ekosistem alam. Sosialisme membuat manusia membangkang, menolak perintah tuhan, lebih membela kebangsaan (ashabiyah) daripada persatuan seluruh ummat manusia. Lebih suka kesetaraan hak daripada menunduk-pasrahkan diri pada konstitusi illahi.

Dalam bisnis, kita ditawarkan cara cara praktis instan yang seolah olah menguntungkan semisal menggunakan perdukunan, pinjam meminjam berbunga. Mengurangi timbangan dalam jual beli. Menipu, berbohong dalam prodak, merampas harta orang lain secara paksa atau secara diam-diam. Cara cara itu secara kasat mata dapat membuat manusia kaya raya dan sejahtera. Padahal cara cara itu melah akan membawa pada kerugian.

Dalam politik kita diajarkan tentang meraih kekuasaan dengan berbagai cara, menipu, menghasut, memfitnah, sogok-menyogok, menindas serta membunuh untuk menyingkirkan saingan. Salah seorang filsuf itali Machiaveli mengatakan bahwa. Bahwa untuk meraih kekuasaan seseorang harus “menghalalkan segala cara termasuk yang tidak bermoral sekalipun”.

Nicolo Machiaveli mengatakan, untuk menciptakan kepatuhan pada lawan politik dan anak buah, lebih baik dengan cara yang mengancam. Ancaman yang membuat pihak lain segan, dan dengan rasa segan itu pihak lain akat takut dan mengikuti segala apa yang diperintahkan. Machiavelli mengajarkan bahwa kekuasaan hanya bisa direbut, bukan diminta secara baik-baik.

Secara kasat mata, memang realitas politik hari ini adalah politik yang tidak bermoral, menghalalkan segala cara termasuk menjual agama, menjual sanak sodara untuk meraih kekuasaan. Dan jika cara-cara kotor itu tidak dilakukan seolah-oalh akan menghasilkan kekalahan. Jika seorang politisi bermain bersih, maka tidak akan ada satu kursi (jabatan) pun yang tersisa.

Cara cara yang kotor, jalan hidup yang menyimpang, sisstem sosial yang tidak terstruktur itu dalam kacamata materialistik memang sangat menjanjikan kebahagiaan, sangan menjanjikan kemuliaan, sangat menjanjikan keabadian hidup, menyelamatkan klan sampai tujuh turunan sekalipun. Akan tetapi pada hakikanya cara cara syaitan itu adalah cara cara yang menimbulkan kerusakan, menimbulkan kehinaan, menimbulkan kerugian, dan menimbulkan kesengsaraan “walaa tattabi’uu khutwaatissyaitoon.”  

Kedelapan, Buah Khuldi wujud kasih sayang Allah, dan kebencian iblis.

“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”.

Dalam ayat ini jelaslah bahwa Allah melarang Adam & Hawa memakan buah Khuldi untuk menjaga kehormatannya. Sedangkan Iblis membujuk Adam & Hawa untuk memakan buah itu agar Adam & Hawa kehilangan kehormatan (terbuka auratnya). Dari sini telah nampak bahwa larangan Allah itu mengandung kasih sayang yang mendalam, sedangkan bujukan Iblis itu mengandung kebencian dan kejahatan yang mendarahdaging. Larangan Allah dibuat untuk menguatkan keimanan sedangkan bujukan syaitan dibuat untuk melemahkan keimanan.

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam”.” (QS. Ibrahim: 22-23)

Dalam tafsir ibu katsir dijelaskan bahwa :

Allah memberitahukan tentang kata-kata Iblis kepada para pengikutnya setelah Allah memutuskan nasib hamba-hamba-Nya, dengan memasukkan orang-orang yang beriman ke dalam surga dan menempatkan orang-orang kafir di dasar neraka, maka Iblis yang terlaknat itu berdiri dan berbicara untuk menambah kesusahan, penipuan dan penyesalan kepada mereka. Ia berkata: innallaaHa wa’adakum wa’dal haqqi (“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang henar,”) melalui para Rasul-Nya dan menjanjikan keselamatan bagi siapa yang mengikuti mereka, itu adalah janji yang benar dan berita yang benar. Adapun aku (Iblis) berjanji kepada kalian, tetapi aku (Iblis) menyalahinya. Seperti firman Allah Ta’ala: “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisaa’: 120)

Allah mengusir Adam & Hawa sebagai hukuman yang akan mensucikannya dari dosa, Di tengah kemurkaannya yang sangat keras itu, ia masih sempat memperhatikan keselamatan Adam-Hawa petanda kecintaannya yang sangat besar dan mendalam Allah masih sempat memberinya bekal (petunjuk) agar bisa hidup selamat di dunia, memberi sedikit gambaran tentang dunia agar Adam-Hawa tidak terlalu buta akan peta kehidupan.

Sedangkan iblis tertawa gembira ketika melihat Adam-Hawa diusir dari surga, dia tidak sedikitpun memberi pertolongan atau pembelaan kepada Adam-Hawa yang telah mengikuti bujuk-rayunya.

Jelaslah bahwa iblis itu adalah pemberi harapan palsu, sedangkan Allah adalah pemberi Janji yang pasti. Pemberi kabar gembira. Terlihatlah mana panutan yang bertanggung jawab dan mana yang menelantarkan.(AK/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)