Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muharram 1446 Saatnya Resolusi Hijrah

Rana Setiawan Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 7 Juli 2024 - 19:13 WIB

Ahad, 7 Juli 2024 - 19:13 WIB

79 Views

Amir Majelis Dakwah (MDP) Jama'ah Muslimin (Hizbullah) Ustaz Deni Rahman, M.I.Kom..(Foto: MDP)

Oleh Ustaz Deni Rahman, M.I.Kom., Amir Majelis Dakwah (MDP) Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Tahun Baru Islam 1446 harus menjadi momen penting umat Islam dalam Resolusi Hijrah guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menukil Al-Qur’an Surat Al-Kautsar, dijelaskan paling tidak ada empat hal yang dapat ditafakuri dari ayat terpendek dalam Al-Qur’an tersebut. Pertama, semakin mencintai Al-Qur’an dengan banyak membacanya.

Surat ini menurut mufassirin menjadi tantangan kepada kaum kuffar Quraisy untuk membuat surat yang semisalnya, dan mereka tidak mampu untuk melakukannya, baik untuk membuat satu surat, sepuluh surat apalagi seluruh surat dalam Al-Quran.

Baca Juga: Perlindungan Anak dalam Perspektif Agama Islam

Maka sudah sepatutnya kita semakin mencintai Al-Qur’an sebagai kalamullah yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Kedua, jangan pernah berhenti berdakwah. Asbabul nuzul surat ini turun karena kaum kafir Quraisy mencemooh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang kehilangan putranya, Ibrahim. Mereka menyebutkan silsilah Nabi Muhammah Shallallahu Alaihi Wasallam terputus, dan dakwah beliau akan terhenti.

Namun Allah nyatakan, nikmat Allah lebih besar dari itu, bahwa yang terputus dari rahmat Allah adalah kaum kafir, yang membenci Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan dakwah Islam. Maka ibrah dari ayat ini menurut beliau adalah kita harus terus mendakwahkan syariat Islam walau tantangan pasti ada, baik dengan dakwah bil hal, bil kutub, dakwah lewat media sosial dan sebagainya.

Ketiga, menjaga hablumminallah dan hablumminannas. Tanasubul ayat atau hubungan ayat dalam Surat Al-Kautsar dengan surat sebelumnya Al-Maun yaitu memerintahkan untuk menguatkan kembali hubungan kita dengan Allah dalam hal ketaatan dan hubungan dengan manusia dalam hal kepedulian sosial.

Baca Juga: Islam Mengatur Peperangan, Membangun Perdamaian

Jika dalam surat Al-Maun Allah menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang mendustakan agama (munafik), yaitu bersifat bakhil, berpaling dari melaksanakan shalat dengan benar, senantiasa berbuat riya dan tidak memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.

Sedangkan dalam Surah Al-Kautsar ini Allah memerintahkan untuk melaksanakan shalat, berlaku ikhlas dalam beribadah dan membantu fakir miskin dengan melaksanakan kurban.

Maka mari tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dan mengaplikasikannya dengan berbuat baik kepada manusia.

Keempat, melaksanakan kewajiban hidup berjamaah. Konteks hari ini, orang-orang yang terputus (Al-Abtar) dapat dikaitkan dengan mereka yang tidak mencintai sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Baca Juga: Pengaruh Amal Saleh

Jika dahulu kaum muslimin hidup berjamaah dan terpimpin oleh seorang khalifah/Imaam, maka hari ini, di tengah perpecahan umat Islam, maka upaya kita adalah mengajak kaum muslimin untuk hidup berjamaah dan menjauhi perpecahan. Sebagaimana dinukilkan dari Q.S. Ali Imran: 103, di mana Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk hidup bersatu, berjamaah dan menjauhi perpecahan.

Maka dengan umat bersatu, maka Allah akan mendatangkan rahmat-Nya.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Al-Jamaatul rahmah, wal furqotul azab, berjamaah adalah rahmat dan berpecahbelah adalah azab”, (H.R. Ahmad)

Semoga dengan pergantian tahun Islam ini, kita dapat semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan kecintaan kepada sunnah Nabi-Nya.[]

Baca Juga: Itrek, Organisasi yang Membiayai Perjalanan Oknum Nahdliyin ke Israel

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Perhatian Terhadap Yatim Piatu di Lingkup Nasional dan Internasional

Rekomendasi untuk Anda

Kolom
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Tausiyah
Tausiyah