Pakar dari IPB University: La Nina Sangat Berdampak pada Indonesia

(Foto: Joss)

Jakarta, MINA – Dr. Perdinan, pakar Ekonomi Penilaian Informasi Iklim dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (GFM-FMIPA), IPB University, mengatakan, fenomena La Nina sangat berdampak bagi Indonesia.

“Terutama jika fenomena tersebut terjadi di musim penghujan pada wilayah yang bertipe iklim monsunal. Yaitu wilayah yang memiliki curah hujan tinggi saat akhir dan awal tahun,” katanya dalam rilis yang diterima MINA, Sabtu (7/11).

Dia juga mengatakan, secara umum, jika La Nina terjadi di musim hujan maka dampaknya akan lebih besar, khususnya pada wilayah yang bertipe iklim monsunal seperti mayoritas Pulau Jawa, sebagian Sumatera, Bali dan  sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Akibatnya, La Nina akan menjadikan musim hujan bertambah lama dan curah hujan akan lebih tinggi,” kata Pakar Ekonomi Penilaian Informasi Iklim itu.

Ia tak menampik dengan kondisi curah hujan yang lebih tinggi, potensi banjir bagi wilayah yang rentan juga semakin tinggi, namun ia menilai La Nina tidak selamanya identik dengan banjir.

Menurutnya, penambahan curah hujan tidak berarti harus selalu banjir. Fenomena ini juga dapat memberikan dampak positif sebab pasokan air menjadi lebih banyak.

“Pertanyaannya kan, dengan air yang lebih banyak, ini berkah atau musibah? Kalau terjadi pada wilayah persawahan atau rentan banjir, bisa jadi musibah. Tapi jika jatuh di wilayah yang memiliki waduk dan terdapat pembangkit listrik tenaga air, ini bisa jadi berkah sebab menambah jumlah volume air di waduk. Kelebihan tersebut bisa dimanfaatkan untuk pengairan, cadangan air, pengisian waduk atau embung-embung,” ujar pakar ini.

Dampak positif dan negatif dari La Nina, kata Dr Perdinan, bergantung bagaimana memanfaatkan informasi iklim dengan baik.

Hal yang perlu dikembangkan saat ini adalah pemahaman atas fenomena ini, apa saja dampak positif terhadap wilayah dan komoditas yang diamati.

Hal yang juga tak kalah penting adalah memanfaatkan pengalaman lokal, sebab pada hakikatnya La Nina merupakan peristiwa periodik yang muncul berulang antara 3 sampai 7 tahun sekali. Dari situlah bisa ditentukan langkah yang bisa dilakukan agar dampak negatif La Nina bisa dihindari dan dampak positifnya bisa dimanfaatkan.

“Iklim adalah sumberdaya. Kalau kita bisa memanfaatkannya dan mengubah pola perilaku kita, itu akan berdampak positif. Misalnya ketika lahan pertanian itu mendapatkan air melimpah yang berpotensi menurunkan produktivitas, maka saluran irigasinya harus dipersiapkan dengan baik. Atau bisa dengan menanam pada luasan yang lebih luas, khususnya di wilayah sawah tadah hujan,” jelas Sekretaris Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini.

Pemetaan luasan potensi dampak La Nina dan peta lahan persawahan sangat diperlukan untuk memberikan informasi respon yang perlu dilakukan dalam pengelolaan risiko iklim tersebut

Perencanaan pembangunan infrastruktur juga perlu memperhatikan potensi dampak La Nina.

Pada wilayah yang sudah sering mengalami dampak La Nina, lanjut Dr Perdinan, maka pembangunan waduk atau media tampung air perlu mempertimbangkan potensi dampak La Nina ini.

Sehingga volume waduknya bisa ditambah atau kekuatan struktur waduk disesuaikan dengan periode ulang dan potensi jumlah air yang akan jatuh di wilayah itu.

“Kalau kita sudah tahu bahwa secara periode tertentu akan ada curah hujan tinggi dan berpotensi banjir, kan memang harus dipersiapkan dan diperbaiki infrastrukturnya” kata Dr Ferdinan.

“Analoginya, jika kita sudah tahu akan ada air yang jatuh sebanyak 20 liter, masa kita beli ember yang kapasitasnya hanya 5 liter? Ya pasti meluber dong,” pungkasnya.(R/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)