Peduli Sosial di Bulan Ramadhan

Oleh: Insaf Muarif Gunawan, Wartawan MINA

Semua umat Muslim mendambakan bulan suci Ramdhan, bulan yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak keutamaan-keutamaan didalamnya, di antaranya adalah bulan yang di dalamnya dilipatgandakan setiap pahala dengan lipatan yang besar hingga sepuluh, seratus, tujuh ratus sampai yang dikehendaki-Nya.

Oleh sebab itu marilah kita benar-benar memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal di akhirat nanti. Bahkan jika kita tekun beribadah disertai iman yang mantap pada bulan Ramadhan karena Allah, wabil khusus dengan melaksanakan Qiyamu Ramadhan (tarawih), maka kita akan keluar tanpa dosa sebagaimana bayi yang keluar dari perut ibunya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasalam :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya : “Barangsiapa mendirikan  (shalat malam) pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan akan ridha Allah akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari dilahirkan oleh ibunya”. (HR An-Nasa’i dari Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu).

Umat Islam juga tidak hanya memfokuskan diri pada pembinaan spiritual secara individual saja, tetapi pada pembinaan masyarakat. Sebagaimana tujuan dari ibadah puasa yang menjadi ciri utama bulan ini, yaitu meningkatkan ketakwaan. Hingga diharapkan mampu bertransformasi menjadi kesalehan sosial, salah satunya melalui peningkatan kepedulian sosial seorang Muslim.

Secara esensial berpuasa Ramadhan adalah mengendalikan diri dan meningkatkan tradisi  berbagi  dan  terbinanya  kepedulian sosial. Dalam ajaran Islam dikenal bahwa salah satu nama yang lekat dengan bulan Ramadhan adalah Syahrul Jud, yaitu bulan memberi. Selain dikenal sebagai Syahrul Muwassah, yaitu bulan bermurah tangan dan bulan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

Bulan Ramadhan ini, Allah memberi kesempatan kepada kaum Muslimin untuk meningkatkan solidaritas sosial, memberikan bantuan kepada mereka yang lebih membutuhkan secara sukarela, yang dilandasi oleh ketakwaan dan diwujudkan dengan nilai  kemanusiaan tanpa pamrih.

Ramadhan bisa menciptakan kultur gotong royong dan keceriaan dalam berbagi. Ramadhan adalah tarbiyah untuk bersedekah, sekolah yang efektif untuk menyapa mereka yang kurang beruntung.

Terlebih akhir-akhir ini Indonesia menghadapi bencana di berbagai daerah seperti gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan, Manado, dan beberapa wilayah di Pulau Jawa, erupsi Gunung Semeru, serta ancaman virus corona yang masih merebak.

Situasi ini memberikan tekanan bagi masyarakat Indonesia yang terdampak bencana. Maka untuk membangun keperdulian sosial agar mengajak seluruh masyarakat untuk saling bahu-membahu membantu memberikan solusi nyata.

Seluruh elemen bangsa bergerak menyelamatkan saudara sebangsa yang sedang menghadapi ujian berupa bencana alam yang memakan korban jiwa.

Begitulah, maka wujud iman adalah memperhatikan dan mencintai saduaranya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits:

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kalian, sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu).

Adapun sikap individualistis adalah sikap mementingkan diri sendiri, tidak memiliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain. Menurut agama Islam, sebagaimana di sampaikan dalam hadits di atas, sikap individuialis termasuk golongan orang-orang yang tidak sempurna keimanannya.

Hadits di atas juga menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain. Sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci. Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada Allah.

Dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan lillah, sebagaimana diterangkan dalam banyak hadits tentang keutamaan orang yang saling mencintai karena Allah, di antaranya:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلاَلِيْ اَلْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّيْ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ  

Artinya: “Pada hari kiamat Allah berfirman, ‘di manakah orang yang saling terkasih sayang karena kebesaran-Ku, kini aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat tiada naungan, kecuali naungan-Ku.” (HR Muslim).

Sifat persaudaraan kaum mukmin yaitu mereka yang saling menyayangi, mengasihi dan saling membantu. Demikian akrab, rukun dan serempak sehingga merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Dalam hal satu kesatuan ini,

Begitulah, Nabi mengibaratkan dalam berbagai hal, di antaranya dengan tubuh, bangunan dan lainnya. Jika salah satu ada yang menghadapi kesulitan, maka yang lainpun harus belasungkawa dan turut menghadapinya. Begitupun sebaliknya.

Indonesia Terkenal Dermawan 

Terkait dengan kedermawanan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat, salah satunya terlihat betapa banyaknya bencana yang terjadi di awal tahun 2021 ini. Dari pandemi, banjir bandang dan meletusnya gunung berapi. Hal ini kita harus memiliki rasa simpati dan empati agar saudara kita bisa terkurangi beban mereka. Sejatinya bangsa Indonesia adalah bangsa penggerak kebaikan, bangsa yang memiliki rakyat yang peduli, saling tolong menolong, dan membantu sesama.

Indonesia adalah bangsa yang dermawan, tidak hanya untuk bangsanya sendiri namun juga membantu bangsa lain yang membutuhkan. Termasuk di antaranya ancaman kelaparan, kesehatan, kehilangan tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, kesulitan pendidikan, dan berujung pada kemiskinan.

Berdasarkan penelitian dari lembaga riset Internasional Charity Aid Foundation. Direktur Utama Dompet Dhuafa, Drg Imam Rulyawan menjelaskan, setidaknya terdapat faktor yang menjadikan Indonesia sebagai negara “Paling Dermawan” di dunia, yakni adanya karakter orang Indonesia yang mudah berdonasi, siap menjadi relawan dan Indonesia dikenal dengan karakter penduduk yang mudah untuk menolong.

Melalui riset Charity Aid Foundation dari inggris, mengapa Indonesia disebut paling dermawan di dunia, karena orang Indonesia itu mudah berdonasi. Begitu ada berita yang mengabarkan kejadian bencana maka dengan sigap dengan spontan baik muda, baik tua mengumpulkan dana, bahkan mungkin ratusan miliar dana masyarakat terkumpul diberbagai lembaga. Karena mereka mudah berdonasi, mudah iba, mudah tersentuh.

Begitulah, bulan suci Ramadhan bisa berdampak positif pada peningkatkan kepedulian sosial masyarakat, terutama di tengah pandemi Covid-19. Pada bulan Ramadhan inilah, masyarakat dianjurkan memperbanyak ibadah pada Allah dan perbuatan baik bagi sesama manusia.

Kepedulian menjadi salah satu kunci untuk melawan dampak pandemi Corona. Ini penting karena sangat banyak orang terdampak dengan kondisi wabah ini. Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak yang secara ekonomi sudah mapan, minimal peduli di lingkungan sekitar untuk lebih sering mengulurkan tangan membantu mereka yang terdampak, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Mudah-mudah bulan ramdhan ini memberikan pengajaran, serta memberikan petunjuk kepada kita. Semoga melalui bulan Ramadhan pula kita bisa meningkatkan gerakan peduli sesama demi kemanusiaan; membantu mereka yang mempunyai keterbatasan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Aamin. (A/R8/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)