SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penutupan Perlintasan Rafah Pekan Kedua, Krisis Pasien Gaza Semakin Parah

Hasanatun Aliyah Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:44 WIB

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:44 WIB

17 Views

Penyeberangan Rafah, Gaza Selatan (foto: PIC)
Penyeberangan Rafah, Gaza Selatan (foto: PIC)
Gaza, MINA – Israel terus menutup perlintasan darat Rafah selama pekan kedua, sehingga pasien tidak dapat meninggalkan Jalur Gaza untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri. Kementerian Kesehatan Gaza pada Kamis (15/10), memperingatkan kondisi ini menyebabkan penumpukan berbahaya kasus-kasus kritis.

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut penutupan yang berlanjut telah menyebabkan akumulasi kasus kritis yang berbahaya dan terus meningkat.

Daftar tunggu untuk perawatan di luar negeri bertambah setiap hari, sementara jumlah pasien yang menunggu evakuasi jauh melampaui kapasitas rumah sakit Gaza yang semakin memburuk dan terkepung.

Kementerian menggambarkan penutupan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional serta perampasan hak pasien dan korban luka untuk mendapatkan perawatan.

Mereka menyerukan pihak-pihak terkait agar memberikan tekanan serius dan mendesak kepada Israel untuk membuka kembali Perlintasan Rafah dan seluruh perlintasan lainnya, serta memfasilitasi keberangkatan pasien kritis untuk berobat ke luar negeri.

Baca Juga: Hujan Musim Dingin Perburuk Krisis Pengungsian di Gaza

Penutupan perlintasan terjadi ketika lebih dari 20.000 pasien dan korban luka di Gaza masih menunggu evakuasi medis ke luar negeri. Situasi ini diperburuk oleh kekurangan parah obat-obatan, peralatan medis, dan layanan spesialis setelah sistem kesehatan di wilayah tersebut mengalami kehancuran selama perang.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.344 pasien meninggal saat menunggu perawatan sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025.

Pada 2 Februari 2026, Israel membuka kembali Perlintasan Rafah secara terbatas dengan mengizinkan sejumlah kecil pasien dan korban luka keluar di bawah pembatasan ketat. Berdasarkan statistik Kementerian Kesehatan, sebanyak 2.480 pasien dan korban luka meninggalkan Gaza melalui perlintasan tersebut antara 2 Februari dan 2 September. Jumlah itu setara dengan rata-rata sekitar 12 pasien dan korban luka per hari, padahal kesepakatan menetapkan kuota 50 pasien dan 50 pendamping setiap hari.

Data Kementerian Kesehatan dari Oktober 2025 menunjukkan bahwa perang telah menghancurkan atau membuat tidak berfungsi 25 dari 38 rumah sakit di Gaza. Hanya 13 rumah sakit yang masih beroperasi sebagian dalam kondisi sulit. Selain itu, tentara Israel menghancurkan 103 dari 157 pusat layanan kesehatan primer di wilayah tersebut. Sebanyak 54 pusat lainnya masih beroperasi sebagian.

Baca Juga: Israel Buka Tender 1.080 Unit Permukiman Baru di Yerusalem Timur

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel telah menewaskan 1.501 warga Palestina dan melukai 5.323 lainnya hingga Senin. Sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka di Gaza akibat perang. Sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah itu mengalami kerusakan atau kehancuran.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ben-Gvir Gunakan Kebencian terhadap Arab dan Islam sebagai Kampanye Pemilu

Rekomendasi untuk Anda