MINA – Informasi terkait Brigade Al-Qassam secara resmi mengumumkan syahidnya juru bicara mereka, Abu Ubaidah dan Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menjadi sorotan pembaca Minanews.net dalam sepekan edisi 29 Desember 2025 – 4 Januari 2026.
Brigade Al-Qassam secara resmi mengumumkan syahidnya juru bicara mereka, Abu Ubaidah, pada Senin (29/12). Untuk pertama kalinya, Al-Qassam mengungkap nama asli dan foto Komandan Bertopeng tersebut.
Dalam pernyataannya, Brigade Al-Qassam menyebut Abu Ubaidah bernama asli Hudzaifa Samir Abdullah Al-Kahlout, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai juru bicara tanpa pernah membuka identitasnya.
Hamas menyatakan Abu Ubaidah syahid bersama sejumlah pejuang, serta istri dan anak-anaknya, akibat serangan udara Zionis Israel. Ia dikenal luas setelah Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 dan menjadi sosok yang secara rutin menyampaikan perkembangan perlawanan Palestina kepada dunia.
Baca Juga: Iran Tantang Invasi Darat, Tegaskan Siap Permalukan Pasukan AS
Pernyataan Al-Qassam menggambarkan Abu Ubaidah sebagai simbol suara perlawanan Palestina, sosok berintegritas, dan ikon inspiratif bagi jutaan pendukung perjuangan Palestina di dunia Arab dan Islam.
AS Tangkap Presiden Venezuela
Presiden AS Donald Trump menyatakan pasukan Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah “serangan besar-besaran”, Sabtu (3/1). Trump mengatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan keluar dari Venezuela.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai tindakan “brilian” dan berencana menyampaikan konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida. Namun, pemerintah Venezuela membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro.
Baca Juga: Dapat Senjata dari AS, Milisi Kurdi Mulai Operasi di Perbatasan Iran-Irak
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menuntut bukti atas klaim penangkapan itu. Sementara itu, sekutu Venezuela seperti Iran dan Rusia menyuarakan keprihatinan atas potensi eskalasi akibat tindakan AS.
Pengumuman mengejutkan Trump ini, menyusul tekanan militer dan ekonomi AS yang terus meningkat selama berbulan-bulan terhadap pemimpin sayap kiri Maduro dan ekonomi negaranya yang bergantung pada ekspor minyak.
Trump mengatakan pada bulan Desember bahwa “akan bijaksana bagi (Maduro)” untuk mundur dan juga mengatakan bahwa “hari-hari pemimpin Venezuela sudah dihitung”.
Klaim Trump tentang penangkapan Maduro datang dua hari setelah Maduro mencoba untuk berdialog, menawarkan kerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba dan migrasi ilegal.
Baca Juga: Iran Tolak Dialog dengan AS, Sebut Diplomasi Tak Lagi Bisa Dipercaya
Trump telah memberikan argumen yang berbeda untuk kampanyenya melawan Venezuela, termasuk klaim bahwa negara itu adalah pengekspor narkoba utama ke Amerika Serikat dan bahwa Venezuela merebut kepentingan minyak AS.
Sejumlah negara mengecam keras tindakan AS dalam penangkapan tersebut, di antaranya Iran, Rusia, China, Kuba, Nikaragua, dan Bolivia, yang menilai langkah itu sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman serius bagi stabilitas Amerika Latin.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kapalnya Ditenggelamkan di Perairan Internasional, Iran: AS akan Bayar Mahal
















Mina Indonesia
Mina Arabic