Produsen Sepatu Jepang Akan Pindah dari China ke Indonesia

Foto: Kemenperin

Tokyo, MINA – Menteri Perindustrian (Menperin) RI Agus Gumiwang mengkonfirmasi,produsen sepatu asal Jepang ASICS akan merelokasi fasilitasnya yang ada di China ke Indonesia.

Hal tersebu Agus sampaikan setelah bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan tersebut di Jepang pada Rabu (10/3).

“Mereka punya beberapa fasilitas di China, dan semua fasilitas itu ditutup kecuali satu, dan akan dipindahkannya ke Indonesia,” ujarnya dalam Konferensi Persnya secara virtual dari Jepang.

Agus menjelaskan, perusahaan tersebut telah menyatakan komitmennya untuk mengembangkan produksi di Indonesia, antara lain di Cirebon, Jawa Barat dan Tegal, Jawa Tengah yang akan mulai produksi pada Januari 2022.

Kemudian di Pemalang, Jawa Tengah yang akan mulai produksi pada Maret 2023.

“Menarik karena ASICS mengekspor hampir 90 persen produk yang dihasilkan di Indonesia ke negara-negara besar seperti Amerika Serikat,” ujarnya.

Selain ASICS, Menperin juga melakukan pertemuan dengan pimpinan perusahaan otomotif Mitsubishi Motor Corporations di Jepang.

Menperin menuturkan, dari hasil pertemuan dengan Mitsubishi, prinsipal otomotif asal Jepang tersebut berkomitmen menambah investasi sebesar Rp11,2 triliun pada akhir tahun 2025 dengan proyeksi terjadi peningkatan kapasitas produksi, dari 220 ribu menjadi 250 ribu unit.

“Mereka juga akan mengembangkan dua model mobil electric vehicle (EV),” papar Menperin.

Selain itu, Mitsubishi juga berkomitmen akan memberikan izin tambahan ekspor ke sembilan negara dari tadinya 30 negara menjadi ke 39 negara.

“Memang salah satu tujuan misi pemerintah Indonesia datang ke Jepang adalah untuk melobi prinsipal Jepang untuk bisa memberikan izin agar mobilnya diberikan perluasan terhadap tujuan ekspor. Ini sudah mendapat komitmen dari Mitsubishi,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Menperin juga mendorong agar Mitsubishi melakukan ekspor mobil ke Australia, mengingat perjanjian kerja sama antara kedua negara (IA-CEPA) telah berjalan.

Pertemuan yang dilakukan Menperin di Jepang diatur dengan protokol kesehatan yang sangat ketat dan peserta delegasi yang terbatas.

Kunjungan Menperin tersebut merupakan kunjungan kerja menteri pertama di dunia yang diterima secara resmi oleh pemerintah Jepang semenjak negara Sakura tersebut menetapkan status State of Emergency. (L/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)