Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puasa dan Kemenangan Menahan Amarah

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 8 Maret 2026 - 13:50 WIB

Ahad, 8 Maret 2026 - 13:50 WIB

7 Views ㅤ

Ilustrasi: seorang ayah menahan marah melihat pot bunganya pecah. (Gambar: Dreamina)

PUASA bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga matahari terbenam. Di balik itu, puasa adalah latihan besar untuk menundukkan hawa nafsu dan menenangkan gejolak jiwa. Ia mendidik hati agar lebih sabar, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah.

Setiap manusia memiliki potensi marah. Kadang marah muncul karena kelelahan, ketersinggungan, atau karena ego yang merasa dilukai. Namun orang yang berpuasa diingatkan sejak awal bahwa puasanya bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah akhlak.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa puasa adalah perisai bagi seorang mukmin. Perisai itu bukan hanya melindungi dari dosa, tetapi juga dari ledakan emosi yang bisa merusak amal. Karena itu orang yang berpuasa dilatih untuk lebih menahan diri.

Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ bersabda bahwa jika seseorang mengajak bertengkar atau mencaci orang yang sedang berpuasa, maka hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Kalimat ini bukan sekadar ucapan, tetapi pengingat bagi diri sendiri agar tidak terbawa arus amarah.

Orang yang berpuasa sesungguhnya sedang belajar mengendalikan dirinya. Ia mampu menahan makan dan minum yang halal, padahal itu sangat dibutuhkan oleh tubuhnya. Jika yang halal saja bisa ia tahan karena Allah, maka seharusnya menahan marah tentu jauh lebih mudah.

Amarah sering kali datang secara tiba-tiba. Ia seperti api yang menyala di dalam dada. Jika tidak dikendalikan, api itu bisa membakar hubungan, merusak persaudaraan, bahkan menghancurkan kebaikan yang telah lama dibangun.

Di sinilah puasa menjadi latihan ruhani yang sangat indah. Setiap hari selama bulan Ramadhan, seorang muslim belajar meredam emosinya. Ia belajar diam ketika tersinggung, menahan diri ketika disakiti, dan memilih sabar ketika keadaan memancing kemarahan.

Orang yang mampu menahan amarah sebenarnya sedang memenangkan pertarungan terbesar dalam hidupnya. Pertarungan itu bukan melawan orang lain, tetapi melawan dirinya sendiri. Dan kemenangan atas diri sendiri adalah kemenangan yang paling mulia.

Al-Qur’an memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Mereka bukan orang yang tidak pernah marah, tetapi orang yang mampu mengendalikan marahnya. Hatinya lebih luas daripada emosinya.

Puasa membantu hati menjadi lebih lembut. Ketika perut lapar, seseorang lebih mudah merasakan penderitaan orang lain. Dari situ tumbuh empati, kasih sayang, dan keinginan untuk memperbaiki diri.

Karena itu, orang yang benar-benar memahami makna puasa biasanya menjadi pribadi yang lebih tenang. Kata-katanya lebih lembut, sikapnya lebih sabar, dan wajahnya memancarkan kedamaian. Puasa telah membersihkan hatinya dari banyak gejolak.

Setiap kali amarah datang saat berpuasa, ingatlah bahwa kita sedang menjalani latihan kesabaran. Setiap detik menahan emosi adalah pahala. Setiap kesabaran adalah kemenangan kecil yang sangat berharga di sisi Allah.

Bayangkan jika latihan ini terus kita jaga bahkan setelah Ramadhan berlalu. Maka puasa tidak hanya menjadi ibadah tahunan, tetapi menjadi sekolah kehidupan yang membentuk akhlak kita sepanjang tahun.

Pada akhirnya, orang yang paling berhasil dalam puasa bukanlah yang sekadar menahan lapar paling lama. Tetapi yang berhasil menjadikan puasanya sebagai jalan untuk menenangkan hati, menahan amarah, dan menundukkan hawa nafsu demi mencari ridha Allah.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Berita Terkait Lainnya

Rekomendasi untuk Anda