Puasa Melatih Kesabaran

Oleh: Insaf Muarif Gunawan/ Wartawan MINA

Ramadhan adalah bulan sabar. Sabar merupakan sifat orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sabar kunci sukses umat Islam dalam menjalani hidupan. Secara langsung puasa mengajarkan dan melatih kita untuk bersabar, yaitu dalam menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain itu, puasa juga melahih seseorang bersabar menahan diri dari segala sesuatu hal-hal yang dapat membatalkan puasa, menjaga lisan dan menahan diri dari perbuatan yang sia-sia.

Puasa melatih kita umat Islam untuk bersabar dalam situasi apapun. Dalam hadis rasulullah Sahallallahu alaihi wa salam bersabda:

الَصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa itu separuh dari sabar,” (H.R. At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

Hari ini, Ramadhan kita masih dalam suasana pandemi Covid-19. Maka dari itu, mari kita renungkan salah satu sabda Rasulullah di atas sebaga sarana melatih kesabaran, terlebih lagi dalam situasi pandemi.

Kesabaran juga diterapkan dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengahadapi ujian hidup. Dalam ajaran Islam, sabar adakalanya berhubungan dengan ketentuan takdir Allah, seperti kita sabar menghadapi situasi sekarang ini. Bencana silih berganti, mulai bencana laut, darat tanah longsor, banjir, gunung meletus dan tambah lagi pandemi Covid-19.

Kita harus yakin bahwa sesunggunya Allah menyukai orang-orang yang sabar. Sabar tercermin dalam diri seseorang ketika bisa menahan marah,  atauterjadi sesuatu yang merugikan. Banyak ayat Al-Qur’an yang membicarakan soal kesabaran, antara lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah [2]: 153).

Bersabar merupakan sikap terpuji. Orang yang bersabar kedudukannya tinggi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka yang sabar adalah sangat dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijanjikan akan mendapatkan balasan pahala yang tidak terhingga. Sebagaimana firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-baqarah [2]: 15).

Imam al-Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud kalimat Allah bersama orang-orang yang bersabar adalah bahwa Allah akan menjadi penolong orang yang sabar, Allah juga yang menyelesaikan persoalan mereka, dan Allah meridhai apa yang dikerjakan mereka orang yang sabar.

Apabila kita bersabar, khususnya di bulan Ramadan sekarang ini, maka jangan pernah khawatir. Sebab, Allah selalu bersama kita dan Allah juga yang akan menolong orang-orang yang berpuasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman di dalam QS Az-Zumar ayat 10:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ  ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ  ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (Az-Zumar [39]: 10)

Lafal “as-shobirun” dalam ayat ini menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya adalah merujuk kepada orang-orang yang berpuasa. Hal ini cukup beralasan sesuai dengan firman Allah dalam hadits qudsi yang berbunyi; “as-shaumu li wa ana ajzi bihi” (puasa adalah untuk Aku dan Aku juga yang akan membalasnya).

Sabar juga ada kalanya berhubungan dengan upaya sekuat tenaga untuk bertahan dan tidak goyah menghadapi rayuan setan yang membujuk manusia agar melanggar perintah Allah dan Rasul-nya. Termasuk sabar pula adalah sabar menjalankan perintah dan beribadah untuk menggapai ridha-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana kita sabar di dalam menjalankan puasa di bulan Ramadhan.

Seseorang yang berpuasa pada dasarnya sedang berada di puncak kesabaran yang tidak ada bandingannya, baik di dunia maupan kelak ketika berhadapan langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

Rasulullah Shallahu Alahi wa Salam pernah berwasiat kepada para sahabatnya, di antaranya Abu Umamah supaya membiasakan berpuasa. Sebab, tidak ada yang menyamai keagungan ibadah puasa. Begitu agungnya ibadah puasa, hingga Abu Hudzaifah pernah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam tentang sebuah hadits yang artinya: “Barang siapa ditutup usianya (meninggal dunia) dalam kondisi menjalankan puasa, maka dia masuk surga.

Sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia, selain kita berpuasa untuk melatih diri menjadi orang yang sabar juga dalam rangka memperbanyak syukur kepada Allah Swt. Syukur dalam arti ikhlas menjalankan ibadah karena Allah, cinta kepada Allah, takut terhadap Allah disertai mengharap rida-Nya Allah, serta banyak berzikir menyebut nama Allah.

Rasa syukur itu harus selalu kita pupuk sekalipun dua kali bulan Ramadhan ummat Islam menjalaninya dalam situasi pandemi. Namun kali ini sudah diizinkan salat berjamaah di masjid, Salat Tarawih dan kegiatan lainnya dengan keharusan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan pembatasan kapasitas tempat.

Rasa syukur juga harus selalu kita haturkan kepada Allah karena kita berada di sebuah negara yang aman. Hal ini berbeda dengan yang dirasakan ummat Islam di Palestina. Setelah mereka menahan lapar dan dahaga seharian, namun ketika hendak berbuka, amakannya dirampas oleh Israel.

Menurut sumber di al-Quds yang diberitakan minanews.net, pasukan Israel merampas makanan iftar jamaah yang berpuasa di kawasan gerbang Ashbat, al-Quds, dan melarang jamaah untuk  berada di kawasan tersebut jelang adzan Mahgrib.

Selain itu, Israel menyuruh untuk mengecilkan suara takbir, pasukan Israel menghancurkan pintu menara Maghoribah dan Ashbat di kawasan Masjidil Aqsa. (A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)