DALAM khazanah nasihat ulama klasik, ada satu ungkapan yang sangat dalam maknanya dan relevan sepanjang zaman.
Ungkapan itu dinukil dalam syarah kitab Nashoihul Ibad karya Imam An-Nawawi, yang menjadi salah satu rujukan penting dalam pembinaan akhlak dan spiritualitas Islam.
Pernyataan tersebut berbunyi:
الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ أَبَدًا مَحْمُودٌ وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُولِ
Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan
“Orang yang selalu mengakui kekurangannya akan senantiasa terpuji, dan pengakuan atas kekurangan itu merupakan tanda diterimanya amal.”
Ungkapan ini sederhana, tetapi mengandung kedalaman makna yang menyentuh inti perjalanan spiritual seorang hamba.
Dalam logika dunia, orang yang percaya diri dan menonjolkan keberhasilannya sering dianggap unggul. Namun dalam logika langit, justru orang yang merasa amalnya belum seberapa di hadapan Allah itulah yang dimuliakan.
Mengakui kekurangan bukan berarti rendah diri secara negatif. Ia adalah bentuk kesadaran rohani.
Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan
Seseorang yang merasa masih banyak kurang dalam shalatnya, dalam sedekahnya, dalam kesabarannya, akan terus memperbaiki diri.
Ia tidak berhenti pada pencapaian, karena ia sadar standar yang ia tuju adalah ridha Allah, bukan pujian manusia.
Bagian kedua dari pernyataan tersebut lebih dalam lagi, yakni pengakuan atas kekurangan menjadi tanda diterimanya amal.
Karena orang yang amalnya diterima biasanya dianugerahi kelembutan hati. Ia tidak melihat amal sebagai hasil jerih payah pribadinya semata, melainkan sebagai karunia Allah.
Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan
Ia takut amalnya tercampur riya, ujub, atau kelalaian. Rasa takut inilah yang menjaga kemurnian amal.
Sebaliknya, merasa sudah cukup dan puas dengan ibadah sendiri bisa menjadi pintu kehancuran. Ujub, bangga pada diri sendiri, sering kali lebih berbahaya daripada dosa yang tampak, karena ia merusak dari dalam.
Para ulama dan orang saleh terdahulu dikenal sangat takut amalnya tidak diterima. Mereka memperbanyak ibadah, tetapi juga memperbanyak istighfar setelahnya. Mereka tidak sibuk menghitung amal orang lain, melainkan mengoreksi dirinya sendiri.
Sikap inilah yang membuat mereka terjaga dari kesombongan spiritual. Mereka besar dalam amal, tetapi kecil dalam perasaan diri.
Baca Juga: Tatacara Shalat Gerhana
Relevansi di Tengah Budaya Pencitraan
Di era ketika pencapaian sering dipamerkan dan kebaikan mudah dipublikasikan, pesan ini terasa semakin penting.
Tanpa kehati-hatian, amal bisa berubah menjadi ajang pembuktian diri. Padahal nilai amal di sisi Allah tidak diukur dari seberapa terlihat, tetapi dari seberapa tulus.
Kesadaran akan kekurangan menjaga seseorang tetap jujur pada dirinya. Ia membuat kita lebih mudah menerima kritik, lebih ringan meminta maaf, dan lebih terbuka untuk terus belajar.
Baca Juga: Gerhana Bulan, Sebuah Tanda Kebesaran Allah
Pada akhirnya, pengakuan atas kekurangan bukanlah tanda kelemahan. Ia justru tanda kematangan iman. Orang yang merasa dirinya masih kurang adalah orang yang sedang dijaga hatinya.
Dan mungkin, justru karena ia tidak merasa besar, Allah benar-benar membesarkannya. Allahu a’lam bish showaab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Boleh Nadzar Shalat Di Baitul Maqdis, Hadits Keenam 40 Hadits Tentang Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic