Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sya’ban: Bulan Persiapan yang Sering Terlewatkan

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 24 Januari 2026 - 22:30 WIB

Sabtu, 24 Januari 2026 - 22:30 WIB

12 Views ㅤ

Ilustrasi

SYA’BAN kembali menyapa. Bulan yang sering lewat begitu saja di kalender, padahal ia bukan bulan biasa. Ia adalah bulan pengantar Ramadhan, bulan persiapan ruhani, bulan ketika amal-amal diangkat kepada Allah. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menyesakkan: sudahkah hati kita ikut datang bersama Sya’ban, atau tubuh saja yang melewatinya sementara jiwa masih tertinggal dalam kelalaian?

Banyak dari kita menyambut Sya’ban dengan biasa-biasa saja. Tidak ada getar, tidak ada rindu, tidak ada perubahan. Hari-hari berjalan seperti biasa: bangun, bekerja, menggulir layar, tertawa, lalu tidur. Sementara itu, Sya’ban terus melangkah, mendekatkan kita pada Ramadhan—dan tanpa sadar, mendekatkan kita pada perhitungan amal. Inilah tragedi sunyi seorang Muslim: bulan istimewa datang, tapi hati tetap jauh dari Allah.

Padahal Rasulullah SAW memberi perhatian besar pada Sya’ban. Ketika ditanya mengapa beliau banyak berpuasa di bulan ini, beliau menjawab bahwa Sya’ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Jika Nabi saja bersiap dengan penuh kesadaran, lalu mengapa kita justru santai seolah tidak ada apa-apa?

Kelalaian hati seringkali lebih berbahaya daripada dosa yang tampak. Dosa masih bisa disesali, tapi lalai membuat kita merasa baik-baik saja. Kita masih shalat—tapi tanpa khusyuk. Kita masih berdoa—tapi tanpa harap. Kita masih menyebut nama Allah—tapi hati tidak benar-benar hadir. Inilah kelalaian paling halus, paling mematikan.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Sya’ban seharusnya menjadi bulan membangunkan hati yang tertidur. Bulan untuk bertanya pada diri sendiri dengan jujur: “Bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an selama ini?” “Seberapa sering air mata jatuh karena takut dan rindu kepada Allah?” “Apakah Ramadhan nanti hanya akan menjadi rutinitas, atau benar-benar momentum perubahan?” Pertanyaan-pertanyaan ini tidak nyaman, tapi justru itulah tanda hati masih hidup.

Sayangnya, banyak Muslim baru “sibuk” ketika Ramadhan sudah di ambang pintu—bahkan ketika Ramadhan sudah berjalan. Baru saat itu kita panik: target khatam, target sedekah, target shalat malam. Padahal hati yang tidak dilatih sejak Sya’ban akan mudah lelah di Ramadhan. Ibadah tanpa persiapan sering berakhir di tengah jalan.

Sya’ban adalah bulan membersihkan niat. Bukan memperbanyak target demi angka, tapi meluruskan arah hati. Bukan sibuk pamer ramadhan/">persiapan Ramadhan di media sosial, tapi sibuk berdamai dengan Allah di ruang paling sunyi. Di bulan ini, kita seharusnya mulai memohon: “Ya Allah, jangan biarkan Ramadhan datang sementara hatiku masih kotor.”

Kelalaian juga sering lahir dari terlalu sibuk dengan dunia. Kita mengejar banyak hal, tapi lupa bertanya: apakah semua ini mendekatkan atau justru menjauhkan kita dari Allah? Sya’ban datang untuk mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tapi tentang pulang. Dan Ramadhan adalah jalan pulang yang Allah buka setiap tahun—sayangnya tidak semua orang sempat sampai ke sana.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Berapa banyak orang yang bersama kita di Sya’ban tahun lalu, kini sudah berada di alam kubur? Mereka dulu juga punya rencana Ramadhan, punya niat berubah, punya angan-angan. Tapi ajal datang lebih dulu. Sya’ban bukan sekadar bulan, ia adalah pengingat bahwa kesempatan tidak selalu berulang.

Jika hari ini hati kita terasa berat untuk beribadah, itu bukan alasan untuk menyerah—justru itu tanda bahwa kita perlu kembali. Sya’ban bukan bulan kesempurnaan, tapi bulan permulaan. Allah tidak menunggu kita menjadi suci untuk mendekat, justru dengan mendekatlah hati disucikan. Bahkan langkah kecil menuju Allah di bulan ini bisa menjadi sebab perubahan besar di Ramadhan nanti.

Mari jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan yang membuat Ramadhan terasa hambar bukan karena bulannya, tapi karena hati kita belum disiapkan. Jangan-jangan yang membuat ibadah terasa berat bukan karena Allah, tapi karena hati terlalu lama menjauh. Sya’ban datang bukan untuk diabaikan, tapi untuk menyelamatkan.

Masih ada waktu. Selama Sya’ban belum pergi, pintu itu masih terbuka. Mulailah dengan taubat yang jujur, istighfar yang pelan tapi dalam, doa yang lahir dari rasa butuh, dan niat yang benar-benar ingin berubah. Tidak perlu menunggu sempurna. Yang Allah cari bukan siapa yang paling siap, tapi siapa yang paling jujur ingin kembali.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Sya’ban datang. Jangan biarkan ia berlalu seperti bulan-bulan sebelumnya. Jika hari ini kita tersadar, itu bukan kebetulan. Itu adalah panggilan. Panggilan agar hati berhenti lalai, sebelum Ramadhan datang—atau sebelum ajal lebih dulu menjemput.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, bukan hanya dengan tubuh yang hidup, tapi dengan hati yang terjaga. Aamiin.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Hikmah
Hikmah
Artikel
Artikel
Khutbah Jumat