SAAT ini kita telah memasuki pekan pertama bulan Rajab yang identik dengan bulan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah bulan ini kita akan memasuki bulan Sya’ban, kemudian bulan suci Ramadhan.
Mukjizat Isra’ Mi’raj, Allah sebut langsung di dalam Surat Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:
سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra [17]: 1).
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Peristiwa luar biasa Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada dalam situasi tekanan, hinaan dan persekusi yang kuat dari kelompok musyrikin Mekkah, terutama dari Abu Jahal, Abu Lahab, dan sekutunya.
Sementara ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baru saja ditinggal wafat isterinya tercinta Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela dan pendukung utama perjuangan risalah dakwahnya.
Pada saat beriringan, Nabi juga baru saja berduka karena meninggalnya Abu Thalib pamannya yang selama ini turut menjadi tameng pembela perjuangannya. Itulah tahun duka cita atau disebut dengan ‘amul hazn’.
Oleh karena itu, Isra Mi’raj dianggap sebagai hiburan (tasliyah) dari Allah untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tengah berduka.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Peristiwa Isra’ Mi‘raj sering dipahami sebatas mukjizat perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian ke Sidratul Muntaha. Padahal, di balik keajaiban itu tersimpan pesan strategis tentang kepemimpinan umat Islam dan pembebasan Masjidil Aqsha secara maknawi. Sebuah pesan yang semakin relevan di tengah penjajahan berkepanjangan atas kawasan Baitul Maqdis, Palestina hari ini.
Isra’ Mi‘raj bukan peristiwa spiritual yang terlepas dari realitas sejarah dan geopolitik. Justru di sanalah Allah menautkan langit dan bumi, ibadah dan perjuangan, tauhid dan pembebasan.
Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri sebagai imam para Nabi dan Rasul utusan Allah, itu menandai peralihan kepemimpinan kenabian secara maknawi. Risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tampil sebagai penyempurna dan pemimpin risalah sebelumnya. Dan Al-Aqsa, tempat berkumpulnya para nabi, menjadi saksi bahwa kepemimpinan tauhid telah berpindah kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Inilah bentuk pembebasan Al-Aqsha secara maknawi, bukan dengan senjata, tetapi dengan legitimasi ilahiah.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Selanjutnya, sejarah mencatat, pembebasan fisik Masjidil Aqsa dan kawasan Baitul Maqdis baru terwujud pada masa kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, melalui pembebasan damai yang menjunjung tinggi keadilan.
Ini menunjukkan satu sunnatullah penting, yaitu bahwa pembebasan wilayah Baitul Maqdis didahului dengan pembebasan iman, visi, dan kepemimpinan.
Isra’ Mi‘raj adalah cetak biru pembebasan itu. Umat disiapkan secara ruhani, ditanamkan kesadaran geopolitik berbasis tauhid, sebelum amanah sejarah itu terwujud secara nyata.
Pembebasan Era Shalahuddin
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Pembebasan Al-Aqsa untruk kedua kalinya, terjadi pada masa kepemimpinan Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi, atau dikenal dengan Panglima Shalahuddin Al-Ayubi. Panglima Shalahuddin bersama bala pasukannya, berhasil membebaskan Baitul Maqdis pada tanggal 27 Rajab 583 H (2 Oktober 1187 M). Palima Shalahuddin berhasil merebut kembali Masjidil Aqsa dan mengembalikan fungsinya sebagai masjid dengan mengumandangkan azan setelah vakum selama 88 tahun da;lam pendudukan Pasukan Salibis.
Di malam Isra Mi’raj, yang masyhur disebut pada tanggal 27 Rajab, setelah Kota Al-Quds berhasil direbut, semua bersujud syukur, dipimpinan Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi.
Kini, bertepatan dengan hadirnya kembali bulan Rajab, upaya pembebasan Al-Aqsa tentu harus terus digulirkan secara massif melalui berbagai cara dan media, ke seluruh dunia di berbagai momentum secara kontinyu, sistematis dan integral.
Demikian halnya, lembaga-lembaga kemanusiaan yang berkaitan dengan Al-Aqsa atau Palestina harus terus meningkatkan dan mengintensifkan koordinasi, sinergi dan kolaborasi yang kokoh dan kompak. Kegiatan-kegiatan seperti pelatihan (daurah), penerbitan-penerbitan, tabligh akbar, pameran foto, pemutaran film, diskusi-diskusi, webinar, pembelajaran di kelas-kelas, hingga penyaluran donasi harus terus diprogramkan dengan sistematis, terencana dan terukur.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Upaya-upaya pressure melalui jalur hukum, diplomasi, media massa online, dan aksi-aksi lapangan seperti gowes sepeda, longmarch, pendakian gunung, dan sebagainya juga perlu terus diprogramkan dengan terus-menerus.
Semua upaya pembebasan Masjidil Aqsa tersebut, tentu saja akan menjadi kuat dan kokoh manakala kaum Muslimin hidup berjama’ah secara terpimpin, dan menjauhi perpecahan.
Sebagaimana Allah tegaskan di dalam ayat-Nya:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara….” (QS Ali ‘Imran: 103).
Pada sebuah hadits menekankan makna persatuan dan persaudaraan sesama orang beriman:
الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ
Artinya: “Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak boleh merendahkannya, dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh)”. (HR Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Semoga Allah menjadikan kita sebagai bagian dari upaya pembebasan Masjidil Aqsa dan wilayah Baitul Maqdis, serta kemerdekaan Palestina, sesuai dengan amanah, fungsi dan peran kita masing-masing, secara terpimpin berjama’ah. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
















Mina Indonesia
Mina Arabic