Relawan MER-C: Kami Ingin Ummat Muslim dan Budha di Rakhine Kembali Bersatu

Wartawan MINA mewawancara Karidi, seorang Relawan MER-C yang tengah membangun Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, Myanmar. Ia diwawancarai Rabu (19/12) saat sedang berada di tanah air. 

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di kota Rakhine, Myanmar yang diprakarsai oleh lembaga kemanusiaan medis kegawatdaruratan, Medical Emergency Recue Committee (MER-C) saat ini sudah mencapai 75 persen.

Pembangunan itu merupakan salah satu cara diplomasi damai yang di lakukan MER-C melalui bidang kesehatan untuk merajut kembali asa dan harapan membangun kembali kehidupan sosial masyarakat Rakhine, Myanmar yang terkoyak akibat kerusuhan 2012 lalu.

Wakil Presiden HM Yusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI, organisasi  yang juga aktif dalam pembangunan RS ini mengsulkan RS ini diberi nama RS Persahabatan Indonesia – Myanmar.

Lantas, bagaimana lika-liku pembangunan rumah sakit di sana, berikut petikan wawancara wartawan MINA dengan Relawan MER-C yang saat ini tengah membangun gedung rumah sakit itu, Bapak Karidi. Berikut wawancaranya:

MINA: Selain di Myanmar, sebelumnya Anda juga ikut dalam pembangunan RSI di Gaza, Palestina. Apa perbedaan mendasar yang Anda rasakan?

Karidi: Membangun RSI di Gaza memang berat, tapi membangun RSI di Rakhine, Myanmar kami rasakan lebih berat. Masyarakat Gaza dengan Rakhine punya perbedaan yang signifikan, baik dari sisi perilaku, kebiasaan, maupun aspek sosial lainnya.

Di Gaza, hampir semua adalah Muslim, tapi di Rakhine, Muslimnya sedikit. Itu pun mereka terpisah dengan jarak yang jauh dan masing-masing sulit untuk berinteraksi dan berkomunikasi.

Kami berada di lokasi rumah sakit di distrik Mrauk-U. Di sana ada komunitas Budha, juga ada Muslim. Kami bergaul dengan keduanya. Pekerja rumah sakit ada yang Budha, ada juga yang Muslim.

Yang kami dapat di Gaza, namun belum kami dapat di Rakhine adalah rasa ukhuwah(persaudaraan) yang erat. Jika di Gaza, ikatan emosional kami cepat terbangun dengan masyarakat setempat, namun di Rakhine tampaknya perlu waktu lebih lama.

MINA: Bagaimana dengan masalah komunikasi?

Karidi: Kami menggunakan Bahasa Melayu karena ada sebagian dari mereka yang faham dengan bahasa itu. Beberapa di antara mereka ada yang pernah bekerja di Malaysia. Kepala suku dari Komunitas Muslim di dekat lokasi RSI pernah beberapa tahun tinggal di Malaysia.

Kepada para pekerja yang tidak faham bahasa Melayu, kami pakai bahasa tubuh saja (isyarat), tapi alhamdulillah selama di sana kami bisa komunikasikan masalah-masalah pekerjaan pembangunan dengan baik.

Kalau di tingkat pimpinan, kami pakai bahasa Inggris karena kalau kita melihat sejarah, wilayah itu dulu pernah dikuasai Inggris. Jadi beberapa di antara mereka menggunakan bahasa Inggris.

MINA: Apa tantangan terbesar yang dihadapi relawan di sana?

Karidi: Komunitas non-Muslim di sana biasa mengonsumsi minuman beralkohol. Di akhir pekan, setelah gajian, mereka biasa membeli minuman itu dan mengonsumsinya bersama-sama. Tentu kita di Indonesia sangat tidak terbiasa dengan hal itu.

Kalau di bidang pembangunan rumah sakitnya, masalah air menjadi yang utama. Menurut penelitian, sumber air tanah di wilayah itu adalah air asin. Sementara sumber air dari gunung tidak ada karena bukan wilayah pegunungan atau perbukitan. Jadi untuk mendapatkan air tawar, masyarakat mengandalkan air hujan.

Rencana untuk pembangunan ke depan, kita akan membuat penampungan air hujan yang besar sehingga airnya bisa digunakan tidak hanya untuk keperluan rumah sakit, tapi juga warga sekitar.

MINA: Bagaimana dengan dukungan Pemerintah Myanmar selama pembangunan?

Karidi: Selama ini, komunikasi dengan pemerintah berjalan lancar. Beberapa kali mereka melakukan kunjungan untuk melihat langsung progress pembangunan.

Memang untuk masalah sekurity, pemerintah Myanmar sangat ketat dalam hal ini. Tapi hal itu tidak masalah bagi kami karena memang kami di sana dalam misi membangun rumah sakit dan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sana, baik yang Muslim maupun Budha.

Selama kita berada di sana untuk misi kemanusiaan, menolong yang membutuhkan, membantu orang yang memerlukan, maka kami yakin semua akan mendukung, termasuk pemerintah Myanmar, apalagi pemerintah Indonesia.

MINA: Bagaimana kondisi terakhir masyarakat yang ada di sekitar RSI?

Karidi: Setelah tragedi 2012 silam, kami melihat masyarakat Rakhine, terutama Muslim di sana memang sangat memerlukan layanan kesehatan. Selain jarak antar desa yang berjauhan menjadi kendala utama, mereka juga harus mendapatkan izin untuk pergi dari satu wilayah ke wilayah lainnya walaupun untuk urusan berobat.

Fasilitas transportasi juga masih minim jika dibandingkan dengan wilayah kita (Indonesia). Karena kondisi geografi mereka yang dikelilingi sungai besar, perahu masih menjadi andalan transportasi mereka.

Maka, bersyukurlah kita yang dilahirkan dan hidup di Indonesia. Nasib kita lebih baik dari saudara kita di Rohingya. Itu nikmat besar yang harus disyukuri oleh kita yang tinggal di Indonesia.

MINA: Bagaimana dengan pendidikannya?

Karidi: Pendidikan di sana masih sangat terbatas. Bahkan kebanyakan anak-anak mereka tidak merasakan nikmatnya bersekolah. Di beberapa tempat (wilayah Muslim) ada ruangan 4×6 meter yang digunakan untuk sekolah bagi lebih dari 50 anak. Itu pun mulai dari anak yang masih kecil (sekolah dasar) hingga remaja (menengah).

Para guru juga masih minim, sepertinya mereka hanya mengajarkan ilmu-ilmu yang mendasar saja. Namun untuk sekolah kejuruan atau menengah lainnya kami belum melihatnya.

MINA: Apa mata pencaharian utama penduduk setempat?

Karidi: Mayoritas mereka bertani. Mereka menanam padi setahun sekali. Mungkin ini karena terbatasnya ilmu dan teknologi. Selebihnya mereka menanam sayur dan palawija.

Jadi mereka harus pintar-pintar menyimpan bahan makanan pokok karena dalam setahun hanya bisa sekali masa tanam.

MINA: Selama delapan bulan berinteraksi dengan warga Rakhine, apa harapan anda untuk mereka?

Karidi: Saya sangat berharap masyarakat Rakhine dapat hidup rukun, tenteram, damai dan saling menghargai dan menghormati satu dengan lainnya. Masyarakat Rakhine harus dapat mengambil pelajaran berharga, betapa kerusuhan hanya akan menimbulkan kerugian dan kerusakan bagi semua.

Pemerintah Myanmar juga harus bisa menjaga kondusifitas agar tetap damai. Pembangunan akan berjalan dengan baik bila masyarakat berada dalam keadaan aman dan damai.

Melalui pembangunan RSI di Rakhine ini, kami ingin menyampaikan pesan perdamaian kepada masyarakat Myanmar. Lihatlah Indonesia, antara ummat Islam dengan ummat Budha dan Hindu, kami hidup rukun, berdampingan, saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya.

Di Magelang, Jawa Tengah ada Candi Borobudur, tempat ibadah ummat Budha yang tetap terjaga meskipun masyarakat sekitar adalah mayoritas Muslim. Di Klaten juga ada Candi Prambanan, tempat ibadah ummat Hindu yang tetap terawat meski di sekitarnya banyak umat Islam. Inilah pesan damai kami, masyarakat Indonesia untuk mereka. (L/Gun/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)