Renungan H-8 Ramadhan : Mengendalikan Nafsu

Oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Sana’a, Yaman, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

 

Ingatkah nenek moyang kita paling awal, Nabi Adam ‘Alaihis Salam? Disebabkan hawa nafsu yang terpedaya rayuan syaitan. Hingga akhirnya dikeluarkan dari taman surga.

Penyebabnya cuma satu, nafsu yang dibujuk untuk ke hidup kekal di taman kenikmatan. Lalu, buah khuldi pun dicicipnya.

Ingatkah pula, bagaimana Iblis yang dahulu adalah makhluk yang taat kepada Allah. Ia telah beribadah sepanjang delapan puluh ribu tahun lamanya. Namun, tragis dilaknat menjadi sesat sepanjang masa.

Penyebabnya pun, lagi-lagi nafsu. nafsu sombong lagi takabur.

Begitulah hawa nafsu yang mampu menyeret kepada kemaksiatan. Nafsu yang menghinakan. Nafsu yang menjerumuskan pada petaka dan kehinaan.

Maka, manusia yang selalu mengikuti dorongan hawa nafsunya, akan menutup mata dari segala ketaatan.

Seorang penyair berkata, “Nafsu senantiasa mengajakku ke jalan petaka. Hingga aku merasa sakit dan nyeri. Bagaimana aku mau bertindak, jika musuh itu telah menyeliap di antara tulang rusukku”. (Kitab Minhajul Abidin. Imam al-Ghazali).

Kejamnya, nafsu itu tidak bisa dibunuh atau dimatikan. Sebab, fitrahnya manusia memang memiliki nafsu. tidak mudah mengusirnya, sebab ia penggerak jiwa manusia.

Namun, nafsu itu bisa dikendalikan. Hanya masalahnya adalah bagaimana cara mengendalikannya? Di sinilah pentingnya mengetahui jurus-jurus ampuhnya.

Paling sedikit ada dua jurus utama mengendalikan hawa nafsu.

Pertama, dengan mengajarinya melalui jalan takwa kepada Allah.

Nafsu yang selalu merayu ke jalan hina. Lawanlah dengan ketakwaan, taat kepada-Nya. Maka, ketika kita shalat, menyingkirlah nafsu itu. Saat kita membaca Quran, pergilah ia. Waktu kita berbuat kebaikan, hapuslah ia.

Namun, itu pun sejenak, sesingkat amal ibadah yang kita lakukan. Maka, tak ada jalan lain kecuali memperlama saat-saat ibadah.

Allah lebih jauh telah mengingatkan kita di dalam ayat suci-Nya:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS Yusuf : 53).

Kedua, dengan melemahkannya. Sebab, nafsu bagai kuda liar yang ganas. Maka, untuk mengendalikannya adalah dengan melemahkannya. Jangan beri makan dalam beberapa hari, pasti dia akan lemah lunglai.

Jalan-jalan nafsu itulah yang mesti dilemahkan, dalam arti dikendalikan dan diarahkan ke alan yang Allah ridhai. Mulai dari mata. Ya, dari mata inilah dapat menjadi jalan syahwat. Melihat kemaksiatan di luar rumah, di internet, di televisi, dan di tepat-tempat kemaksiatan.

Jika diteruskan, akan keasikan. Namun jika dikendalikan, disubstitusi dengan melihat Al-Quran, melihat kitab-kitab ilmu pengetahuan, melihat keagungan Allah. Maka, nafsu syahwat itu dengan sendirinya akan terkendalikan.

Demikian juga jalan telinga, dengan banyak mendengarkan musik, pembicaraan sia-sia yang tak mengarah pada keimanan, canda berlebihan hingga mendengarkan suara-suara mendayu. Semua membangkitkan jalan menuju kemaksistan.

Jika saja kita kendalikan dengan banyak mendengarkan tausiyah-tausiyah, bacaan Al-Quran, dan pembicaraan kebaikan. Maka, dengan sendirinya hawa nafsu itu akan terkendalikan.

Begitu juga dengan anggota badan lainnya, terutama sekali mulut dan farji (kemaluan). Yang itu menjadi jalan utama kemaksiatan yang menyenangkan. Dua jalan yang paling cepat menjerumuskan manusia ke dalam lembah nista kemaksiatan.

Solusi mengekangnya, ya dengan ibadah puasa. Maka, bulan puasa Ramadhan di hadapan, yang hawanya mulai terasa dari sekarang. Merupakan ibadah utama mengendalikan hawa nafsu.

Masa pembatasan pergerakan, bekerja di rumah, mengekang ke mana-mana, kiranya dapat menjadi hikmah untuk banyak mengekang hawa nafsu. Membatasi pandangan mata, pembicaraan, bersentuhan, dan lainnya.

Kita tentu ingin meraih daya kendali itu di bulan suci nanti. Teriring doa munajat kita, “Ya Allah perjumpakanlah hamba-Mu ini dengan bulan suci Ramadhan, agar hamba ini dapat mengendalikan hawa nafsu syahwat, menjadi kegairahan beramal ibadah.” Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)