Renungan H-9 Ramadhan : Taubat Sebelum Terlambat

Oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Sana’a, Yaman, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

Wabah virus Corona masih belum reda. Semakin banyak pasien terkena. Kita semua ikut berduka. Tanpa bisa berbuat apa.

Paling tidak dengan melapangkan jalan untuk makam tempat peristirahatan terakhirnya. Sudah cukup menjadi pelipur lara. Menolaknya, sungguh hanya menambah duka dan itu dosa kita semua.

Bekerja di rumah (work from home) dan jaga jarak (physical distancing). Itu untuk mempersempit ruang gerak virus from Wuhan.

Satu sisi kita jadi tidak leluasa berkendara, berkelana, beranjangsana dan bertamasya. Namun sisi lainnya, inilah kesempatan terbaik untuk menambah catatan amal ibadah kita.

Al-Quran dan seperangkat alat shalat sebagai mas kawin yang jarang disentuh dan dibuka. Kini terbuka lapang waktunya.

Kalau Ustadz Adi Hidayat sangat hafal letak ayat. “Di pojok atas sebelah kanan…..”. Kitapun bisa hafal di luar kepala, “Ya di pojok atas sebelah kanan.” Namun ini letak Quran kita. Di pojok almari yang sudah berdebu sampulnya.

Lalu, kalau kesempatan lebih banyak di rumah, masih juga belum tersentuh membuka Quran, menambah shalat Tahajud dan Dhuha, memperkuat istighfar dan shalawat. Mau cobaan seperti apa lagi? Na’udzubillaahi mindzalik.

Padahal Allah telah menegur kita di dalam ayat suci-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا…..

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).…”. (QS At-Tahrim : 8).

Lalu, mengapakah kita mesti bertaubat? Ya, paling tidak ada dua penyebabnya. Ini seperti dijelaskan Imam al-Ghazali di dalam Kitabnya Minhajul Abidin (Petunjuk Ahli Ibadah).

Pertama, agar kita taat kepada Allah. Sebab, perbuatan dosa dan maksiat dapat menghalangi perbuatan taat. Itulah mengapa kita acapkali menjadi malas, enggan atau tidak bergairah menunaikan ibafah. Itu semua karena kita sudah kelebihan dosis dosa dan maksiat.

Jika perbuatan dosa dan maksiat itu terus-menerus tidak kita rem. Maka, yang akan terjadi adalah hati menjadi keras. Alias susah menerima cahaya iman. Tidak ada lagi kejernihan dan keikhlasan.

Begitulah, bagaimana kita bisa taat sedangkan hati kita membatu. Bagaimana akan berkhidmat di jalan Allah, jika jiwa sudah berlumuran dosa dan maksiat. Tanpa ada upaya membersihkannya dengan taubat.

Kedua, mengapa kita bertaubat? Ya, agar amal ibadah kita dapat diterima Allah. Sebab, taubat merupakan inti dasar untuk diterimanya ibadah. Sedangkan ibadah itu sendiri seolah-olah tambahannya saja. Bagaimana mungkin tambahan diterima, kalau intinya tidak dilakukan, yaitu taubat.

Bagaimana mungkin kita bermunajat kepada Allah dengan merengek-rengek. Sementara kita masih melakukan hal-hal yang dimurkai Allah.

Marilah, hari-hari menjelang detik-detik Ramadhan ini, sama-sama bertekad bertaubat kepada Allah atas segala dosa yang kita lakukan sepanjang setahun kemarin.

Dosa-dosa yang besar maupun yang kecil, yang sengaja atau tidak, kelihatan maupun tersembunyi. Semua jelas terlihat di hadapan Allah.

Taubat sebelum terlambat lebih baik daripada nyawa sudah di kerongkongan baru ingin bertaubat. Itupun sudah tak berguna. Mengucap pun sudah tak mampu. Menyatakan kalimat Tahlil “Laa ilaaha illallaah”, dengan ditalqin pun terbata-bata.

Mau baca Quran sudah tidak ada harapan. Ingin shalat berlama-lama, sudah tak ada waktunya. Hendak bersedekah, waktu pun habis sudah.

Hanya sebersit harapan, “Ya Allah Yang Maha Penerima Taubat, terimalah taubat hamba, dan berilah kesempatan hamba untuk khusyu berjumpa dengan bulan mulia Ramadhan. Bulan pertaubatan hamba-hamba-Mu.” Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (/RS2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)