Ridha dengan Takdir Allah

ilustrasi (foto : istimewa)

Oleh: Sri Astuti, Wartawan MINA

Kehidupan yang kita jalani, kadang tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan. Ada masa di mana kita harus berjuang melewati jalan terjal. Namun pada gilirannya ada juga masanya kita menikmati jalan yang landai.

Hari-hari yang kita jalani pun penuh warna. Kadang gembira, sewaktu-waktu bisa juga dihampiri rasa sedih.

Inilah kehidupan. Ia tak selalu tentang apa yang kita inginkan, tapi bagaimana inginnya Allah. Tuhan yang Maha Mengetahui atas segala hal terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Allah menyebutkan di dalam ayat-Nya:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah/2: 216).

Demikianlah, Allah berkuasa menetapkan segala takdir-Nya. Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah mengimani dan Ridha terhadap takdir yang telah Ia tetapkan, entah itu baik ataupun buruk menurut kita.

Allah mengingatkan kita di dalam Al-Quran:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ
وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al An’am/6: 59).

Mengimani takdir itu sendiri merupakan bagian dari rukun Iman. Allah pun menjadikan ridha sebagai salah satu syarat terwujudnya rukun iman itu. Seseorang tidak disebut beriman manakala ia tidak ridha terhadap segala ketentuan Allah.

Ridha juga dapat menjadi obat yang dapat menangkal segala penyakit hati, sehingga hati menjadi lapang dan merasa qana’ah terhadap segala pemberian Allah. Ridha juga menjadi salah satu jalan yang mengantarkan kita kepada pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah.

Jadi, jika kita ingin merasa lapang dan tak mudah kecewa atas segala hal yang tidak selalu sesuai harapan. Ridhalah terhadap apa yang menjadi takdir kita.

Mengenai hal ini sahabat Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku, karena aku tidak tahu manakah yang lebih baik bagiku.”

“Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” Wallahu a’lam. (A/R7/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)