Riyad Mansour kepada Israel: Jika DK PBB Tidak Hentikan Kalian, Rakyat Kami akan Melakukannya

Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour [File: Anadolu Agency]

New York, MINA – Riyad Mansour, Duta Besar Palestina untuk PBB mengatakan kepada duta besar dari Israel yang duduk di seberangnya di ruang (DK) PBB, jika Dewan Keamanan tidak dapat menghentikan Israel maka rakyar Palestina yang akan melakukannya.

“Dengarkan saya baik-baik, Dewan ini seharusnya menghentikan Kalian. Itu tanggung jawab mereka. Adalah tanggung jawab semua negara untuk menegakkan hukum internasional dan status quo bersejarah (dari Haram Al-Sharif). Mereka harus menghentikan Anda. Tapi jangan salah, jika tidak maka rakyat Palestina kami yang akan melakukannya,” kata Mansour.

Pernyataan Mansour disampaikan pada pertemuan darurat Dewan Keamanan yang diadakan oleh UEA dan China untuk membahas kunjungan mendadak Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang baru diangkat ke kompleks Masjid Al-Aqsa, di ,  Selasa (3/1).  Arab News melaporkan.

Utusan Palestina itu meminta Dewan Keamanan mengambil tindakan nyata terhadap apa yang disebutnya sebagai “penghinaan mutlak Israel terhadap kami, untuk Anda, dan seluruh komunitas internasional.”

“Al-Haram Al-Sharif tidak akan jatuh. Ia tidak akan pernah jatuh. Ia akan berdiri untuk generasi yang akan datang. Ia telah bertahan lebih lama dari Begin, Shamir dan Sharon dan akan bertahan lebih lama dari Netanyahu, G’vir dan Erdan. Mereka yang mengejar pembagian temporal dan spasial Al-Haram atau berencana untuk mengambil alihnya tidak memahami apa yang diwakilinya untuk semua orang Palestina, untuk orang Arab dan Muslim di seluruh dunia,” tegasnya.

Kunjungan Ben-Gvir ke kompleks Masjid Al-Aqsa membuat marah dan menyebabkan kecaman di seluruh dunia. Ben-Gvir, seorang politisi sayap kanan yang diangkat menjadi menteri keamanan nasional dalam pemerintahan koalisi baru Benyamin Netanyahu. Dia telah lama menyerukan ibadah Yahudi di Al-Aqsa.

Gilad Erdan, perwakilan tetap Israel untuk PBB, menyebut pertemuan darurat itu sebagai “non-acara” pada saat Dewan Keamanan harus bersidang tentang “situasi keamanan yang tak terhitung jumlahnya,” termasuk “rezim Ayatollah pembunuh di Teheran.”

Erdan mengatakan kunjungan tersebut sejalan dengan status quo dan “siapa pun yang mengklaim sebaliknya hanya akan mengobarkan situasi.”

“Otoritas Palestina memperjelas bahwa tidak hanya ibadah orang Yahudi yang tidak dapat ditolerir di Temple Mount, tetapi juga setiap kehadiran orang Yahudi. Seperti inilah perubahan status quo dan ini murni anti-Semitisme,” ujarnya.

China dan UEA yang meminta pertemuan darurat, mengatakan kunjungan Ben-G’vir mengakibatkan “situasi yang parah di lapangan”. Mereka menyerukan pelestarian perdamaian dan ketenangan di tempat-tempat suci. (T/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)